AS - China Belum Resmi Sepakat Damai Dagang, Ini Prospek IHSG Pasca Tembus 6.300

IHSG pada perdagangan Kamis kemarin menguat 0,9 persen dengan berakhir di level 6.328
Jumat, 11 Januari 2019 09:22:04 WIB Arief Budiman
Image
Seorang pria beraktivitas di dekat layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/12/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bareksa.com - Setelah mengalami kenaikan tipis di hari Rabu, 10 Januari 2019, pasar saham Indonesia berhasil rebound dengan kenaikan cukup signifikan pada perdagangan kemarin, Kamis, 11 Januari 2019.

Pasar saham domestik untuk pertama kalinya berakhir di atas level psikologis 6.300, setelah terakhir kali terjadi pada April 2018 silam atau sekitar 9 bulan lalu.

Pergerakan bursa saham Tanah Air layak untuk diacungi jempol, mengingat mayoritas bursa saham utama kawasan Asia justru ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Indeks Nikkei (Jepang) anjlok 1,29 persen, Indeks Shanghai (China) turun 0,36 persen, dan Indeks Kospi (Korea) melemah tipis 0,07 persen. Sementara itu, Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 0,22 persen dan Indeks Straits Times (Singapura) menguat 0,81 persen.

Sentimen negatif bagi bursa saham Benua Kuning datang dari hasil negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang kurang oke. Kementerian Perdagangan China pada pagi hari kemarin mengatakan negosiasi dagang dengan AS berlangsung ekstensif dan dalam, menghasilkan fondasi dalam menyelesaikan permasalahan yang dimiliki kedua belah pihak.

Sebelumnya, US Trade Representatives (USTR) mengatakan China berkomitmen membeli lebih banyak produk asal Negeri Paman Sam, mulai dari produk pertanian, energi, hingga manufaktur.

Tidak adanya kesepakatan resmi yang ditandatangani kedua belah pihak membuat pelaku pasar kecewa. Tensi perang dagang bisa kembali memanas kapan saja lantaran belum ada kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak.

Sebenarnya, ada pernyataan dari pihak China yang seharusnya positif bagi bursa saham Asia. Pada sore hari kemarin, Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan ada perkembangan yang dicapai terkait dengan isu-isu struktural seperti pemaksaan transfer teknologi dan perlindungan kekayaan intelektual.

Selain itu, penguatan kemarin juga dipicu sentimen positif dari global yakni rilis notulensi rapat (minutes of meeting) bank sentral AS (The Fed), edisi Desember 2018 yang cenderung dovish atau menahan laju kenaikan suku bunga.

Menutup perdagangan Kamis, 10 Januari 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,9 persen dengan berakhir di level 6.328,714. Aktivitas perdagangan terlihat berlangsung semarak, di mana tercatat 15,56 miliar saham ditransaksikan dengan total nilai transaksi Rp10,77 triliun.

Secara sektoral, hampir seluruhnya berakhir di zona hijau pada perdagangan kemarin, kecuali hanya sektor pertanian yang tercatat melemah 0,36 persen.

Tiga sektor yang mengalami kenaikan tertinggi yakni sektor konsumer (1,95 persen), disusul industri dasar (1,78 persen), dan manufaktur (1,63 persen).

Beberapa saham yang mendorong kenaikan IHSG kemarin :

1. Saham UNVR (5,1 persen)
2. Saham TLKM (1,9 persen)
3. Saham BMRI (1,7 persen)
4. Saham INKP (8,6 persen)
5. Saham HMSP (1 persen)

Sebanyak 217 saham menguat, 219 saham melemah, dan 125 saham tidak mengalami perubahan harga. Di sisi lain, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) pada perdagangan kemarin senilai Rp771,9 miliar.

Saham-saham yang terbanyak diburu investor asing :

1. Saham BBRI (Rp258,76 miliar)
2. Saham BMRI (Rp233,72miliar)
3. Saham TLKM (Rp125,77 miliar)
4. Saham ASII (Rp77,95 miliar)
5. Saham BBNI (Rp58,18 miliar)

Analisis Teknikal IHSG


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle IHSG pada perdagangan kemarin membentuk bullish candle dengan disertai short lower shadow.

Kondisi tersebut menggambarkan IHSG mengalami pergerakan yang sangat baik karena mampu berbalik arah setelah sempat melemah, hingga akhirnya mampu ditutup pada level tertingginya.

Secara intraday, pergerakan IHSG memang terlihat sudah positif sejak awal perdagangan dengan dibuka menguat 0,36 persen. Namun selepas itu, IHSG sempat mengalami tekanan dalam 20 menit awal perdagangan hingga sempat masuk ke zona merah.

Tetapi setelah itu IHSG kembali melaju dengan cukup positif, adapun lonjakan kenaikan IHSG terjadi pada saat sesi pre closing.

Kenaikan IHSG kemarin kembali membuka potensi IHSG untuk terus melaju dalam jalur uptrend-nya karena posisinya kembali berusaha menembus dan telah menyentuh garis upper bollinger band.

Selain itu, indikator relative strength index (RSI) terpantau mulai kembali bergerak naik, yang mengindikasikan sinyal kenaikan IHSG cukup kuat. Dilihat dari sudut pandang teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi untuk melanjutkan penguatannnya.

Di sisi lain, kondisi Bursa Saham Wall Street yang kembali ditutup serentak menghijau pada perdagangan kemarin diharapkan bisa menjadi sentimen positif yang mendorong IHSG lebih tinggi lagi ke zona hijau pada hari ini. Adapun Dow Jones naik 0,51 persen, kemudian S&P500 menguat 0,45 persen, dan Nasdaq bertambah 0,42 persen.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER