Harga Saham Bisa Jadi Rp0, Sudah Siapkah Investor Indonesia?

Harga yang turun adalah bagian dari risiko memilih suatu saham
Kamis, 01 September 2016 13:34:13 WIB Alfin Tofler
Image
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Bareksa.com - Ada dua agenda yang menjadi isu utama terkait teknis perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini. Pertama, bursa akan mengeluarkan kebijakan baru dengan menghapus sistem auto rejection asimetris. Kedua, bursa berencana akan menurunkan batas saham terendah hingga dari Rp50 yang berlaku sekarang. Kesiapan investor Indonesia dengan wacana kebijakan baru itu masih dipertanyakan.

Terkait isu pertama, aturan yang akan diubah ini berkaitan dengan penolakan otomatis (auto rejection) simetris yang sempat diberlakukan asimetris pada Agustus tahun lalu. Asimetris maksudnya adalah batas persentase kenaikan harian tertinggi lebih besar dibandingkan batas persentase penurunan harian sehingga harga saham-saham di bursa lebih mudah untuk beranjak naik dibandingkan turun. Selengkapnya baca : Bursa Hapus Auto Rejection Asimetris, IHSG Bisa Bergerak Lebih Fluktuatif

Berkaitan dengan penerapan batas terbawah harga saham yang bisa menjadi Rp0, Bursa masih mengkajinya. Saat ini, harga saham minimum yang bisa ditransaksikan di pasar reguler adalah Rp50 tetapi tidak ada batas untuk pasar negosiasi. Dihilangkannya batas saham minimal Rp50 ini disambut pro dan kontra.

Head of Research Universal Broker, Satrio Utomo, mengatakan saat ini memang sudah saat yang tepat untuk menghilangkan sistem auto rejection asimetris karena kondisi bursa saat ini sudah jauh lebih stabil dibandingkan sewaktu aturan tersebut dibuat. "Tetapi untuk batasan bawah untuk saham saya rasa pelaku pasar di Indonesia belum cukup dewasa," katanya kepada Bareksa.com, Rabu 31 Agustus 2016.

Walaupun demikian, ia juga tidak menampik jika batas sebesar Rp50 memang terlalu tinggi. Setiap hari di pasar negosiasi masih banyak terjadi penjualan saham seharga Rp10-20 rupiah per lembarnya. Dengan keadaan ini, banyak investor yang membeli saham di pasar negosiasi dengan harga Rp10-20 dan menjualnya seharga Rp50 per lembar di pasar reguler dengan harapan bisa mendapatkan untung berlipat.

Secara pribadi dirinya mendukung saham bisa mencapai nol rupiah tetapi kondisi investor saat ini belum memungkinkan untuk kebijakan tersebut. Jika dibandingkan dengan bursa luar negeri pun sepertinya hanya Indonesia saja yang menetapkan batasan minimal harga saham. "Tetapi bukan berarti kita bisa mengubahnya begitu saja menjadi nol, investor kita memang belum dewasa untuk menerima harga saham nol rupiah," katanya.

Satrio menilai sebaiknya penurunan batas bawah dilakukan secara bertahap. Misalkan pada periode pertama saham termurah menjadi Rp35 dan di periode berikutnya Rp25.

Berdasarkan data Bareksa, hingga saat ini ada 27 saham emiten yang harganya harus tiarap di angka Rp50. Secara keseluruhan, saat ini ada 534 saham yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Analis PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengatakan memang ada anomali di perdagangan pada saat ini. Pada pasar tunai memang harga saham terendah Rp50 per lembarnya. Namun, di pasar negosiasi, saham bisa diperjualbelikan dengan harga lebih rendah daripada Rp50. "Jadi harganya sangat bawah," katanya.

Harga yang terlalu rendah ini menurutnya merugikan investor. Ia menjelaskan lebih baik yang terjadi di pasar nego ini dilepaskan saja ke pasar reguler. Dengan demikian harga yang terbentuk bisa mencerminkan kondisi pasar sebenarnya melalui antrean bid dan offer. Mengenai saham yang mencapai nol, Hans mengatakan itu adalah bagian dari risiko memilih suatu saham.

"Kalau sekarang kan mentok di Rp50, ini malahan risiko yang paling sulit kita terima karena kita bisa masuk tetapi tidak bisa menjual," ujarnya.

Hans mengatakan seringkali ada orang yang membutuhkan uang sehingga harus menjual sahamnya. Namun hal ini tidak bisa dilakukan jika saham yang ingin dijual berada di angka Rp50 sehingga harus melakukannya di pasar negosiasi. "Jadi kalau menurut saya lebih baik investor bisa berjualan sendiri, kalau permasalahan saham menjadi nol itu memang harus menjadi bagian dari risiko," ujarnya.

Head of Research NH Korindo, Reza Priyambada mengatakan jika batas saham dibuka hingga nol akan sangat tidak adil bagi para investor. Ia mengatakan emiten yang tidak memperhatikan sahamnya akan bertindak sewenang-wenang.

"Emiten yang tidak memperhatikan harga sahamnya akan membiarkan saja, padahal tujuannya di bursa adalah untuk mengingkatkan likuiditas saham. Kalau sahamnya sampai nol, daya tarik perusahaanya dimana," katanya.

Ia mengatakan, bisa jadi hal ini malah menjadi ajang perusahaan untuk mengumpulkan uang dan lari begitu saja. Pasalnya setelah penawaran saham perdana (IPO), naik turunnya saham suatu emiten tidak akan berpengaruh terhadap kinerja perseroan. "Yang penting tujuan mereka untuk mendapatkkan dana sudah tercapai, setelah itu mereka biarkan saja sahamnya," katanya. (hm)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER