Hindari ‘Perampok Tak Kasat Mata’ Dengan Investasi Reksa Dana

Dalam 10 tahun, inflasi pada bahan pokok mencapai 170%
Selasa, 26 Juli 2016 17:31:35 WIB Wilan Satiani
Image
Ilustrasi uang koin di dalam dompet. (Wikimedia Commons/Santeri Viinamäki)

Bareksa.com – Banyak orang mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi di kota, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan. Saat ini, uang Rp100 ribu sepertinya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Hal ini terasa bila kita bandingkan dengan kondisi 10 tahun lalu. Pada tahun 2006 lalu, dengan uang Rp100 ribu, kita sudah dapat membeli beras jenis IR-I 64 sebanyak 23,8 kilogram (kg). Artinya, harga beras saat itu hanya sebesar Rp4.200/kg. Namun, kini dengan jumlah uang yang sama kita hanya dapat membeli beras jenis tersebut sebanyak 8,85 kg karena harganya sudah mencapai Rp11.300/kg.

Uang kita tetap sama, tetapi di masa yang berbeda nilainya sudah berubah. Padahal, tidak ada perampok yang mengambilnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Adanya kenaikan harga beras per kilogram dari Rp4.200 menjadi Rp11.300 ini membuat uang Rp100 ribu menjadi berkurang nilainya secara riil. Artinya untuk membeli beras dengan kuantitas dan kualitas yang sama, kita akan membutuhkan nominal uang yang lebih besar.

Fenomena ini disebut dengan inflasi, dimana terjadi kenaikan harga secara terus-menerus dari tahun ke tahun. Contohnya, seperti yang terjadi pada harga beras tadi, terjadi peningkatan 170 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Inflasi tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dapat dirasakan dengan adanya peningkatan harga barang-barang.

Ternyata, inflasi ini terjadi bukan hanya pada harga barang saja, melainkan pada biaya jasa seperti pendidikan, ongkos angkutan umum, dan jasa lainnya. Bahkan, kondisi untuk biaya pendidikan (sekolah) bisa meningkat tajam dengan inflasi mencapai 15-20 persen per tahun.

Apabila Inflasi yang terjadi diiringi dengan kenaikan pendapatan yang lebih besar, tentunya tidak menjadi masalah. Bahkan hal ini dapat menjadi indikator peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat karena inflasi bergerak stabil. Namun apabila kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan inflasi yang terjadi, maka akan timbul masalah yakni, daya beli atau kemampuan masyarakat akan berkurang.

Lalu, bagaimana mengatasi hal tersebut?

Untuk mengimbangi inflasi yang terjadi, paling tidak kenaikan pendapatan dalam 10 tahun terakhir harus mencapai 170 persen. Kalau hal ini terjadi, masyarakat tetap dapat membeli barang dengan jumlah sama untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

Akan tetapi, masyarakat seharusnya tidak bergantung pada pendapatan saja untuk mengalahkan inflasi. Ada cara lain yang dapat menjaga daya beli saat terjadi inflasi, yaitu dengan berinvestasi. Investasi merupakan suatu kegiatan menyimpan uang pada aset tertentu dengan harapan akan mendapatkan pertumbuhan (keuntungan) di masa depan. Aset ini bisa berupa benda riil seperti properti dan emas, atau produk pasar modal seperti saham dan reksa dana.

Aset seperti saham dan reksa dana memiliki potensi menghasilkan return besar dalam jangka panjang. Bahkan, keuntungan reksa dana mencapai lebih dari 400 persen atau lima kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Angka ini jauh melebihi tingkat inflasi tahunan yang terjadi.
 
Untuk mengetahui seberapa besar return yang dihasilkan dari reksa dana, mari kita simulasikan dengan menggunakan Simulator Reksa Dana yang tersedia pada tools Bareksa.

Misalnya saja, kita menyimpan uang sebesar Rp1 juta pada reksa dana Pratama Saham—salah satu reksa dana yang memiliki kinerja terbaik -- dalam periode 10 tahun (26 Juli 2006-25 Juli 2016). Produk ini hanya satu contoh, tetapi kita dapat memilih reksa dana berdasarkan tingkat risiko dan keuntungan yang diharapkan dengan meng-klik tautan berikut.

Lalu, bagaimana hasil uang yang ditempatkan pada reksa dana dalam kurun waktu 10 tahun tersebut?

Grafik: Hasil Simulasi investasi

Sumber: Bareksa.com
 
Ternyata, reksa dana saham tumbuh hingga 488,46 persen dalam waktu 10 tahun. Uang yang semula hanya sebesar Rp1 juta, kini telah menjadi Rp5,88 juta. Artinya, uang yang disimpan pada reksa dana saham Pratama Saham dalam jangka waktu 10 tahun telah menghasilkan keuntungan (return) sebesar Rp4,88 juta.

Grafik itu juga memperlihatkan hasil investasi reksa dana dapat berada jauh di atas tingkat inflasi yang terjadi selama 10 tahun terakhir. Inflasi dalam grafik ditunjukkan dengan garis berwarna oranye, yang berada di bawah garis hasil investasi berwarna hijau toska.

Kesimpulannya, investasi reksa dana dapat mengalahkan inflasi, yang menggerus nilai uang kita. Tidak hanya menjaga kemampuan daya beli kita terhadap suatu barang atau jasa, investasi juga berpotensi memberikan keuntungan lebih yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di masa depan seperti biaya pendidikan anak.

Jadi, yuk kita mulai berinvestasi sejak saat ini agar kemampuan daya beli kita tetap terjaga di masa depan.

***

Ingin berinvestasi reksa dana?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

 



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER