Budi Hikmat : Dampak Krisis Energi di AS dan Eropa Terhadap Indonesia

Krisis energi yang terjadi adalah lebih kepada supply shock, karena secara umum permintaan masyarakat pasca pandemi mulai tumbuh. Tapi di sisi lain, rantai pasokan belum siap untuk kembali ke level produksi seperti sebelum pandemi
Abdul Malik • 11 Oct 2021
cover

Ilustrasi dampak krisis energi di Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara lain terhadap ekonomi Indonesia dan pasar modal. Saham-saham energi di Bursa Efek Indonesia meroket terdorong sentimen krisis energi sehingga mendongkrak kinerja reksadana berbasis saham energi. (Shutterstock)

Bareksa.com - ​Krisis energi yang terjadi di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia seiring dengan kembali aktifnya perekonomian paska pandemi Covid-19 dan datangnya musim dingin yang mendorong tingginya permintaan energi.

Kelangkaan pasokan dan naiknya harga gas, tarif listrik, serta sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) menjadi beberapa alasannya. Sementara pasokan komoditas energi terbatas karena produksi belum normal juga akibat pandemi dan faktor cuaca.

Chief Economist Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Budi Hikmat mengatakan, krisis energi yang terjadi adalah lebih kepada supply shock, karena secara umum permintaan masyarakat pasca pandemi mulai tumbuh. Tapi di sisi lain, rantai pasokan belum siap untuk kembali ke level produksi seperti sebelum pandemi.

Pasokan gas Eropa dari Rusia terganggu, harga batu bara di China juga merangkak naik akibat terdampak perselisihan dengan salah satu produsen batu bara terbesar yaitu Australia, sementara pasokan dari Indonesia juga terganggu musim hujan dan produsen lokal di China terdampak kebijakan pemerintahnya yang tengah fokus ke green energy.

“Meski krisis energi yang melanda berbagai negara di dunia dapat menjadi sentimen negatif bagi pemulihan ekonomi Indonesia, namun di sisi lain, hal ini memberikan peluang besar bagi Indonesia terutama dari sisi penerimaan negara. Sebagaimana tergambar dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mayoritas dikontribusi oleh pendapatan komoditas, hingga Agustus 2021 saja telah mencapai 93,1 persen dari target yang ditetapkan di APBN. Jika kita dapat memaksimalkan komoditas unggulan kita yang saat ini harganya rally, bukan tidak mungkin pada akhir tahun PNBP kita akan melebihi target Pemerintah. Tentu ini adalah peluang besar yang dapat kita maksimalkan,” Budi dalam keterangannya (11/10/2021).

Seperti data yang dihimpun dari Bloomberg, hingga 3 Oktober 2021, harga beberapa komoditas unggulan Indonesia terus menunjukkan tren naik. Secara year to date (YTD), harga batu bara telah melesat 180,4 persen, timah meroket 130 persen, CPO naik 11,4 persen dan nikel naik 31,6 persen.

"Jika tren kenaikan harga komoditas berlanjut hingga akhir tahun, serta kita dapat mengoptimalisasi peluang ini, bukan tidak mungkin pendapatan negara secara umum di akhir tahun akan mendekati 100 persen bahkan melebihi target yang telah ditetapkan. Kondisi APBN yang sehat akan berdampak positif terhadap rencana pemulihan ekonomi pasca pandemi dan supply risk Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir tahun," budi menjelaskan.

Seperti diketahui, lima besar komoditas penyumbang surplus perdagangan Indonesia, masih didominasi batu bara 13,91 persen, disusul base metal product 13,68 persen, minyak sawit 11,28 persen, produk manufaktur 7,51 persen, serta tekstil dan produk tekstil 6,41 persen.

Bahana TCW memprediksi tren kenaikan harga komoditas tersebut dapat bertahan setidaknya hingga akhir tahun. Jika demikian, hal ini akan berdampak positif terhadap APBN Indonesia.

Namun demikian, ada beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian terutama bagaimana respons regulator terkait tingkat inflasi yang berpotensi naik sebagai dampak dari supply shock di sektor energi, tenaga kerja maupun bahan baku, atau bahkan dari sisi logistik yang sedang melanda dunia saat ini.

“Kondisi perekonomian China ke depan juga patut menjadi perhatian kita bersama, mengingat eksposur impor bahan baku kita dari China yang tinggi dibanding negara-negara Eropa. Jika harga energi melonjak tinggi akan berdampak pada impor bahan baku dari China yang didominasi oleh produk manufaktur, barang-barang elektronik, besi dan baja untuk infrastruktur, dan lainnya. Namun, hingga akhir tahun 2021, kami mengasumsikan tingkat inflasi Indonesia akan rendah karena dampak dari kenaikan harga energi dunia masih ditahan oleh subsidi energi baik bahan bakar minyak dan listrik oleh Pemerintah,” tutup Budi.

PT Bahana TCW Investment Management merupakan anak perusahaan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Indonesia Financial Group (IFG) dan Perusahaan Manajer Investasi Global dari Los Angeles, Amerika Serikat, Trust Company of the West (TCW). Bahana TCW masuk ke peringkat dua besar industri reksadana terbaik di Tanah Air dengan aset yang dikelola mencapai Rp43,57 triliun per Agustus 2021 (tidak termasuk reksadana terproteksi dan kontrak pengelolaan dana). Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang tinggi hingga saat ini.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.