
Bareksa — Libur panjang telah usai, namun pasar keuangan justru belum kembali stabil. Pergerakan saham masih fluktuatif, sementara ketidakpastian global meningkat seiring konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum menemukan titik terang.
Di tengah kondisi ini, banyak investor mulai menggeser strategi—dari agresif ke defensif. Fokusnya bukan lagi mengejar return tinggi, tetapi menjaga stabilitas sekaligus tetap memperoleh imbal hasil yang pasti. Salah satu instrumen yang mulai dilirik kembali adalah Sukuk Ritel seri SR024, SBN syariah yang menawarkan kupon tetap 5,55% dan 5,9% per tahun dan dijamin negara.
Pasca libur panjang, pasar saham domestik masih bergerak tidak menentu. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh sentimen global, terutama meningkatnya tensi geopolitik yang mendorong investor global cenderung menghindari aset berisiko.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 13,78% dalam sebulan terakhir ke level 7.101 hingga jeda siang 27 Maret 2026. Sementara itu, pasar obligasi juga tertekan yang terlihat dari Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun 2,14 secara year to date hingga 26 Maret 2026.
Kondisi ini biasanya memicu fenomena risk-off, yaitu mengurangi risiko di aset seperti saham dan beralih ke instrumen yang lebih stabil. Salah satu yang bisa dipilih adalah SBN Ritel seri SR024.
SR024 adalah bagian dari Surat Berharga Negara (SBN) ritel berbasis syariah yang diterbitkan pemerintah untuk investor individu.
Beberapa keunggulan utamanya:
1. Kupon tetap (fixed rate)
Investor akan mendapatkan imbal hasil yang tidak berubah hingga jatuh tempo. Saat pasar bergejolak, kepastian ini menjadi nilai tambah.
SR024T3 (3 tahun): kupon 5,55% per tahun
SR024T5 (5 tahun): kupon 5,90% per tahun
2. Pembayaran kupon bulanan
Cocok bagi investor yang mengincar cash flow rutin, baik untuk tambahan penghasilan maupun reinvestasi.
3. Dijamin oleh pemerintah
Pembayaran pokok dan kupon dijamin oleh negara, sehingga risiko gagal bayar sangat rendah.
4. Pajak lebih rendah
Pajak kupon hanya 10%, lebih rendah dibandingkan pajak deposito yang mencapai 20%.
Salah satu daya tarik SR024 saat ini adalah tingkat kupon yang kompetitif di tengah kondisi pasar. Selisih imbal hasil SR024 dan suku bunga acuan BI Rate termasuk yang tertinggi, dibandingkan seri-seri SBN Ritel lainnya dalam dua tahun terakhir.
Grafik Tren Spread Imbal Hasil SBN Ritel vs BI Rate
Sumber: Kemenkeu, BI, diolah Bareksa
Dengan selisih (spread) sekitar 1,15% di atas bunga acuan BI Rate, kupon tetap hingga 5,9% per tahun, serta pembayaran kupon bulanan, SR024 menjadi salah satu opsi untuk mengunci imbal hasil yang relatif menarik saat ini.
Di saat suku bunga masih relatif tinggi, investor memiliki peluang untuk “lock in yield”. Artinya adalah mengunci imbal hasil menarik untuk jangka waktu tertentu. Jadi, meskipun ke depan suku bunga turun, investor tetap menikmati kupon tetap yang sudah ditetapkan sejak awal.
Karena kupon dibayarkan setiap bulan, SR024 juga dapat menjadi sumber pendapatan rutin bagi investor. Dengan mulai investasi Rp1 juta, investor ritel punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan hasil dengan yang memiliki dana besar, hingga maksimal Rp5 miliar (tenor 3 tahun) dan Rp10 miliar (tenor 5 tahun).
Sebagai ilustrasi, investasi Rp1 juta berpotensi memberi kupon bersih sekitar Rp4.425 per bulan untuk SR024T5. Imbal hasil ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tabungan atau deposito bank, yang kena pajak bunga 20%.
Berikut contoh nilai investasi dan imbal hasil yang didapatkan bersih dari investasi SR024 vs deposito bank.
Tabel Imbal Hasil Bulanan Bersih SR024 vs. Deposito
Nilai Investasi | SR024T3 | SR024T5 | Deposito |
|---|---|---|---|
Rp1.000.000 | Rp4.162 | Rp4.425 | Rp2.333 |
Rp10.000.000 | Rp41.625 | Rp44.253 | Rp23.333 |
Rp20.000.000 | Rp83.250 | Rp88.506 | Rp46.667 |
Rp50.000.000 | Rp208.125 | Rp221.265 | Rp116.667 |
Rp100.000.000 | Rp416.250 | Rp442.530 | Rp233.333 |
Rp1.000.000.000 | Rp4.162.500 | Rp4.425.300 | Rp2.333.333 |
Rp2.000.000.000 | Rp8.325.000 | Rp8.850.600 | Rp4.666.667 |
Rp5.000.000.000 | Rp20.812.500 | Rp22.126.500 | Rp11.666.667 |
Sumber: DJPPR Kemenkeu, LPS, diolah Bareksa
Masa penawaran SR024 berlangsung 6 Maret – 15 April 2026, dengan setelmen pada 22 April 2026 dan pembayaran kupon pertama pada 10 Mei 2026.
Khusus investor yang beli SR024 di Bareksa, bukan hanya imbal hasil, tetapi juga bisa dapat hadiah senilai hingga Rp45 juta!
Angka Rp45 juta setara dengan 0,3% dari Rp15 miliar. Artinya, kalau investor membeli di Bareksa, mendapatkan imbal hasil di tahun pertama mencapai hingga 6,3% sebelum pajak.
Ketika pasar saham masih bergerak fluktuatif dan ketidakpastian global meningkat, pendekatan defensif menjadi semakin relevan.
SR024 menawarkan kombinasi yang menarik, yaitu imbal hasil tetap, risiko relatif rendah, dan arus kas rutin.
Bagi investor yang ingin menjaga stabilitas tanpa sepenuhnya keluar dari pasar, instrumen ini bisa menjadi salah satu strategi untuk menyeimbangkan portofolio di tengah kondisi yang tidak pasti.
Ayo investasi syariah yang dijamin negara sekaligus raih kesempatan dapat hadiah di Bareksa.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
1. Apa itu Sukuk Ritel SR024?
Sukuk Ritel SR024 adalah bagian dari Surat Berharga Negara (SBN) berbasis syariah yang diterbitkan pemerintah untuk investor individu. Instrumen ini menggunakan prinsip syariah (akad ijarah) dan memberikan imbal hasil berupa kupon tetap yang dibayarkan secara rutin.
2. Apakah investasi SR024 aman?
SR024 tergolong instrumen dengan risiko rendah karena pembayaran pokok dan kuponnya dijamin oleh negara melalui undang-undang. Hal ini membuatnya relatif lebih aman dibandingkan instrumen lain seperti saham, terutama di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
3. Kapan investor bisa mencairkan dana SR024?
SR024 memiliki masa holding period (periode minimum kepemilikan), sehingga tidak bisa dijual sebelum periode tersebut berakhir, yaitu pada pembayaran kupon pertama pada 10 Mei 2026. Setelah itu, investor dapat menjualnya di pasar sekunder, meskipun harga jual bisa naik atau turun tergantung kondisi pasar.
(Rahmat Hidayat/Sigma Kinasih/hm)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
* Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
* Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.