
Bareksa – Ketidakpastian global kembali menekan pasar keuangan. Dari luar negeri, arah kebijakan Amerika Serikat, potensi kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump, hingga meningkatnya tensi geopolitik membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
Tekanan turut terasa di pasar domestik. IHSG sempat dibuka anjlok hingga 7,3% pada sesi I Rabu (26/1) dan memasuki sesi II diberlakukan trading halt setelah penurunan mencapai 8%. Koreksi tajam ini terjadi menyusul pengumuman MSCI terkait peninjauan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
MSCI mengambil tiga langkah sementara hingga Mei 2026, yakni membekukan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks global, menahan penambahan saham baru, serta menghentikan kenaikan kelas saham ke indeks yang lebih tinggi. Kebijakan ini memicu volatilitas tinggi, terutama pada saham momentum dan kandidat indeks, sekaligus meningkatkan kehati-hatian investor asing.
Menindaklanjuti hal tersebut, BEI bersama KSEI, KPEI, dan OJK menegaskan komitmen untuk memperkuat koordinasi dan transparansi pasar modal Indonesia. BEI menilai masukan MSCI sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan kredibilitas dan daya saing pasar modal nasional.
Sebagai langkah konkret, BEI telah mempublikasikan data free float secara komprehensif di website resmi sejak 2 Januari 2026 dan akan diperbarui secara rutin setiap bulan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor serta mendorong peningkatan bobot saham Indonesia di indeks MSCI.
Jika perbaikan transparansi belum memadai hingga Mei 2026, MSCI berpotensi meninjau ulang bobot Indonesia di indeks Emerging Market, bahkan membuka risiko penurunan status pasar. Kondisi ini membuat arus dana asing di saham berpotensi lebih fluktuatif dalam jangka menengah.
Di tengah situasi tersebut, investor bisa mempertimbangkan untuk melirik instrumen berisiko lebih terkendali dengan arus kas yang jelas, seperti Surat Berharga Negara (SBN).
Pemerintah menawarkan ORI029 (Obligasi Negara Ritel) sebagai pilihan investasi dengan kupon tetap hingga jatuh tempo, sehingga investor bisa mengunci hasil di tengah gejolak pasar.
ORI029 hadir dalam dua pilihan tenor:
Kupon bersifat fixed, dibayar rutin, dan dijamin negara. Setelah pajak, imbal hasil ORI029 bahkan bisa mencapai hingga dua kali lipat deposito dengan tenor sebanding. ORI029 hanya ditawarkan pada 26 Januari – 19 Februari 2026.
Tak hanya kupon tetap, ORI029 juga tradable, artinya bisa diperjualbelikan di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.
Tim Analis Bareksa memperkirakan, jika Bank Indonesia memangkas suku bunga total 0,5% sepanjang 2026, maka potensi capital gain ORI029 adalah:
Secara historis, harga ORI kerap bergerak di level premium saat suku bunga turun, memberikan tambahan keuntungan bagi investor yang menjual sebelum jatuh tempo.
Di saat pasar saham bergejolak akibat isu global dan kebijakan MSCI, ORI029 menawarkan kombinasi menarik:
ORI029 cocok bagi investor yang ingin menjaga stabilitas portofolio, tanpa sepenuhnya kehilangan peluang cuan di tengah ketidakpastian pasar.
Amankan hasil pasti dengan ORI029 di Bareksa sekarang.
1. Siapa yang paling cocok membeli ORI029?
Investor pemula hingga konservatif yang ingin pendapatan rutin, stabil, dan tidak ingin stres menghadapi volatilitas saham.
2. Apakah ORI029 aman jika pasar saham turun tajam?
Ya. Nilai pokok dan kupon ORI029 dijamin negara, sehingga tidak terdampak langsung koreksi IHSG atau isu MSCI.
3. Bisa dicairkan sebelum jatuh tempo?
Bisa. ORI029 dapat dijual di pasar sekunder setelah masa minimum holding period.
4. Apa risiko utama ORI029?
Risiko harga turun jika suku bunga naik dan risiko likuiditas jika dijual saat pasar sepi.
5. Lebih cocok ORI029T3 atau ORI029T6?
ORI029T3 cocok untuk fleksibilitas dan horizon menengah, ORI029T6 cocok bagi investor yang mengejar kupon lebih tinggi dan potensi capital gain lebih besar.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)
Tentang Penulis*
Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.