
Bareksa – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan bersiap menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel 2026. Berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya, seri perdana diperkirakan mulai ditawarkan akhir Januari 2026, meski hingga kini jadwal resmi dan daftar seri belum diumumkan.
Jika mengacu ke 2025, jumlah penerbitan SBN Ritel 2026 kemungkinan tidak jauh berbeda. Tahun lalu, pemerintah menerbitkan 7 seri SBN Ritel yang bisa dibeli secara online, mulai dari Obligasi Negara Ritel (ORI), Sukuk Negara Ritel (SR), Savings Bond Ritel (SBR), hingga Sukuk Tabungan (ST).
Minat investor ritel terhadap SBN terbukti sangat solid. Sepanjang 2025, total penjualan SBN Ritel mencapai Rp152,7 triliun, melampaui target pemerintah sebesar Rp150 triliun.
Lebih dari 431 ribu investor berpartisipasi, dengan 113 ribu di antaranya merupakan investor baru. Bahkan, beberapa seri habis terjual sebelum masa penawaran berakhir, menandakan permintaan domestik masih sangat kuat.
Masa Penawaran | Seri | Jumlah Investor | Investor Baru | Penjualan (Rp triliun) |
|---|---|---|---|---|
20 Feb-2025 | ORI027 | 86.624 | 25.087 | 37,36 |
16 Apr 2025 | ST014 | 84.175 | 27.165 | 23,36 |
16 Mei 2025 | SR022 | 74.211 | 17.841 | 27,84 |
14 Jul 2025 | SBR014 | 51.198 | 12.452 | 14,92 |
22 Agu 2025 | SR023 | 43.160 | 9.026 | 18,73 |
29 Sept 2025 | ORI028 | 38.355 | 11.558 | 15,5 |
10 Nov 2025 | ST015 | 54.109 | 10.533 | 15 |
Total | 7 seri | 431.832 | 113.662 | 152,7 |
Sumber: Kemenkeu, diolah Bareksa
Menariknya, minat tinggi terhadap SBN Ritel tidak hanya terlihat saat penawaran perdana, tapi juga di pasar sekunder.
Jenis SBN Ritel yang bisa diperdagangkan adalah ORI dan SR. Data menunjukkan, seri yang diterbitkan pada 2025 justru mencatat kenaikan harga paling tinggi.
Tabel: Harga Wajar ORI di Pasar Sekunder
Series | PHEI |
|---|---|
ORI023T3 | 100,50 |
ORI023T6 | 102,00 |
ORI024T3 | 100,94 |
ORI024T6 | 102,70 |
ORI025T3 | 101,37 |
ORI025T6 | 102,93 |
ORI026T3 | 102,40 |
ORI026T6 | 102,97 |
ORI027T3 | 102,65 |
ORI027T6 | 104,34 |
ORI028T3 | 100,00 |
ORI028T6 | 99,72 |
Sumber: PHEI, data per 6/1/2026
Hal serupa terjadi pada Sukuk Ritel (SR). Seri SR022 mencatat harga tertinggi di pasar sekunder:
Ini berarti potensi capital gain hingga 3,88%, di luar kupon rutin yang sudah diterima investor.
Artinya saat suku bunga turun, harga obligasi naik dan investor yang masuk lebih awal berpotensi mendapat keuntungan ganda: kupon + capital gain.
Series | PHEI |
|---|---|
SR018T3 | 100,30 |
SR018T5 | 102,38 |
SR019T3 | 100,62 |
SR019T5 | 101,90 |
SR020T3 | 101,38 |
SR020T5 | 103,01 |
SR021T3 | 101,79 |
SR021T5 | 103,45 |
SR022T3 | 102,46 |
SR022T5 | 103,88 |
SR023T3 | 100,20 |
SR023T5 | 101,16 |
Sumber: PHEI, data per 6/1/2026
Secara teori, penurunan suku bunga memang diikuti turunnya imbal hasil. Namun SBN Ritel tetap diburu karena:
Bagi banyak investor ritel, SBN bukan soal mengejar return tertinggi, tetapi menjaga kestabilan portofolio.
Memasuki 2026, tren suku bunga rendah diperkirakan masih berlanjut. Dalam kondisi ini, SBN Ritel berpotensi tetap relevan sebagai:
Strategi yang umum digunakan adalah menjadikan SBN Ritel sebagai fondasi, lalu dikombinasikan dengan instrumen lain seperti reksadana, saham, dan emas.
Keberhasilan penjualan SBN Ritel 2025 dan lonjakan harga ORI serta SR di pasar sekunder menunjukkan minat investor ritel masih sangat kuat. Meski imbal hasil cenderung menurun, faktor keamanan, kepastian kupon, dan kemudahan akses membuat SBN Ritel tetap menarik.
Di 2026, SBN Ritel berpotensi kembali menjadi instrumen andalan investor yang mengutamakan stabilitas, pendapatan rutin, dan diversifikasi portofolio.
Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Rahmat Hidayat/AM)
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.