Yield AS Turun Dorong Obligasi RI Naik, Reksadana Pendapatan Tetap Mencorong

Pekan ini investor menanti rilis data inflasi Negeri Paman Sam bulan Desember 2021 yang diperkirakan menurun tipis dibandingkan bulan sebelumnya karena lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron di AS
Abdul Malik • 12 Jan 2022
cover

Ilustrasi penurunan yield Obligasi Pemerintah AS yang mendongkrak imbal hasil Obligasi Pemerintah Indonesia, sehingga berpeluang mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mayoritas harga obligasi domestik mencatatkan kenaikan pada perdagangan kemarin, serta mendorong penguatan reksadana pendapatan tetap. Hal ini dipengaruhi pergerakan imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang mulai sedikit menurun.

Analisis Bareksa memperkirakan pekan ini investor menanti rilis data inflasi Negeri Paman Sam bulan Desember 2021 yang diperkirakan menurun tipis dibandingkan bulan sebelumnya karena lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron di AS.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 11/01/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 6,4 persen, pada 11 Januari 2022.

Sementara itu, pasar saham nasional yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 11 Januari 2022 turun 0,64 persen ke level 6.647,97 karena tertekan aksi jual (profit taking). 

Menurut analisis Bareksa, investor menanti pernyataan beberapa pejabat The Fed terkait kebijakan kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) tahun 2022 ini. Tekanan di pasar saham mengakibatkan penurunan kinerja mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks.

Namun dalam sepekan terakhir investor asing masih melakukan aksi beli di pasar saham Tanah Air senilai Rp3 triliun. Artinya, pasar saham Indonesia masih cukup menarik bagi investor seiring potensi pemulihan ekonomi.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Di tengah prospek penguatan pasar obligasi dan menariknya pasar saham nasional meski dibayangi sentimen pengetatan kebijakan moneter The Fed, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran berkinerja ciamik berikut ini :

Hasil 3 Tahun (per 11 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 29,3 persen
Kehati Lestari Kelas G : 25,61 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 11 Januari 2022)

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund : 17,2 persen
BNI-AM Inspiring Equity Fund : 9,7 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,3 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 16,23 persen

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

***

Bareksa's Investor Navigator

Menurut analisis Bareksa pada sesi perdagangan hari ini reksadana berbasis pendapatan tetap akan bergerak menguat dan berpotensi mencorong seiring dengan menurunnya imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) ke level 1,73 persen.

Hal tersebut dikarenakan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Jerome Powell mengatakan pengurangan pembelian kembali obligasi (tapering) akan dirampungkan pada Maret 2022 dan diikuti kenaikan Fed Fund Rate guna menjaga stabilitas ekonomi Negara Adi Daya tersebut.

The Fed juga mengatakan ekonomi AS sekarang sudah di level yang stabil dan mereka akan berusaha mengurangi neraca mereka pada akhir tahun ini.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.