SUN Diprediksi Tertekan Jelang Fed Tapering, Bagaimana Prospek Reksadana Pendapatan Tetap?

Pergerakan SUN pekan ini sekitar 80 persen akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat
Abdul Malik • 11 Oct 2021
cover

Ilustrasi kebijakan quantitative easing (QE) dan tapering Bank Sentral AS (The Fed) yang berpengaruh pada pasar keuangan global termasuk Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap kinerja SBN dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan akan menurun pekan ini karena dipicu peningkatan imbal hasil (yield) US Treasury Bond. Namun penurunan harga SUN ini diharapkan tidak menjadi sentimen negatif bagi kinerja reksadana pendapatan tetap. 

Head of Fixed Income PT Sucor Asset Management Dimas Yusuf menjelaskan, pergerakan SUN pekan ini sekitar 80 persen akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat (AS).

"Yield US Treasury Bond dalam dua minggu terakhir terus meningkat, meski spread-nya dengan SUN tenor 10 tahun tidak terlalu jauh," jelas dia di Jakarta akhir pekan lalu.

Kendati sentimen eksternal cukup mendominasi, namun pelaku pasar masih akan memperhatikan kebijakan yang akan diambil oleh otoritas moneter yang akan mempengaruhi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam memperkecil defisit juga akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Dengan sentimen tersebut, Dimas melihat yield SUN 10 tahun pekan ini akan berada di sekitar 6,5 persen. Sementara sampai akhir tahun, yield SUN diperkirakan akan berada di sekitar 6,2-6,3 persen.

"Implementasi tapering pada November nanti akan menentukan pergerakan yield sampai akhir tahun, apakah benar likuiditas obligasi akan berkurang signifikan atau bisa diantisipasi," kata dia.

Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengungkapkan, yield SUN pekan ini akan meningkat ke level 6,2-6,3 persen untuk tenor 10 tahun dan 5,05-6,2 persen untuk tenor lima tahun.

Data neraca perdagangan dan kinerja ekspor-impor dalam negeri akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan SUN tersebut.

Sementara dari luar negeri, investor akan memperhatikan initial jobless claims dan data retail sales advance Amerika Serikat (AS). Sedangkan dari Eropa dan Tiongkok, sentimen yang akan mempengaruhi adalah data neraca perdagangan dan kinerja ekspor-impor.

Dari sisi arus modal, Nico melihat investor asing cenderung mulai meninggalkan pasar obligasi. Sejak awal tahun hingga saat ini, arus modal asing yang keluar dari pasar obligasi mencapai Rp3 triliun.

"Investor mulai beralih ke pasar saham dan mengurangi investasinya di obligasi seiring dengan mulai pulihnya perekonomian," kata dia.

Nico melihat, investor akan meninggalkan pasar obligasi untuk sementara waktu, namun beberapa investor ada juga yang masih menyimpan investasinya dalam bentuk obligasi.

Dengan melihat hal ini, Nico menyarankan investor untuk tetap memperhatikan pergerakan pasar, terutama pertemuan The Fed pekan depan yang akan mempengaruhi pasar obligasi dan saham secara sekaligus.

Masih Prospektif

Sementara itu, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja menjelaskan, pasar obligasi masih akan kuat dalam menghadapi perubahan sentimen global. Pasar obligasi Indonesia membukukan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi rencana Fed tapering.

Dia mengungkapkan, sejak Januari hingga September 2021, indeks pasar obligasi Indonesia menguat 3,9 persen. 

"Inflasi yang terkendali, pengelolaan fiskal yang baik, dan tingginya likuiditas domestik membantu penguatan pasar obligasi Indonesia yang diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun," kata dia.

Dengan berbagai sentimen tersebut, investor dapat memanfaatkan kesempatan untuk masuk atau menambah porsi kepemilikannya di reksadana pendapatan tetap.

Sebagai gambaran, reksadana Manulife Obligasi Unggulan Kelas A (MOU Kelas A) mampu memberikan imbal hasil 1 tahun sebesar 6,9 persen pada periode akhir September 2020 hingga akhir September 2021. Imbal hasil ini melampaui tolok ukurnya (rata-rata bunga deposito 3 bulan net setelah pajak) yang 3,97 persen.

Sementara berdasarkan data Bareksa, 30 produk reksadana pendapatan tetap membukukan kinerja yang positif dalam setahun terakhir.

ReksadanaSyailendra Pendapatan Tetap dan Sucorinvest Bond Fund membukukan kinerja tertinggi di antara 30 produk reksadana tersebut.

Dalam setahun terakhir, reksadanaSyailendra Pendapatan Tetap dan reksadanaSucorinvest Bond Fund membukukan tingkat pengembalian (return) masing-masing 11,94 persen dan 10,96 persen.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.