
Bareksa - Koreksi pasar kripto global membuat kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melemah pada kuartal I 2026.
Pendapatan turun, perusahaan mencatat rugi bersih, dan target harga saham direvisi lebih rendah. Meski demikian, analis menilai prospek jangka panjang COIN masih menarik karena didukung regulasi baru, potensi migrasi transaksi kripto ke bursa domestik, serta peluang besar bisnis derivatif kripto.
Riset Ciptadana Sekuritas Asia (17/7) mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham COIN, namun memangkas target harga menjadi Rp1.720 per saham dari sebelumnya Rp4.870.
Penurunan target tersebut terutama disebabkan oleh:
hasil kinerja kuartal I 2026 yang lebih lemah dari ekspektasi;
penurunan tarif transaksi spot kripto yang dilakukan secara bertahap sepanjang 2026; dan
masih lemahnya aktivitas perdagangan aset kripto secara global.
Pada harga penutupan sekitar Rp680, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 153% menurut estimasi analis.
Turunnya harga aset kripto berdampak langsung terhadap aktivitas transaksi di Indonesia. Nilai transaksi spot kripto nasional hanya mencapai Rp76 triliun pada kuartal I 2026, turun:
29% dibanding periode yang sama tahun lalu (YoY)
36% dibanding kuartal sebelumnya (QoQ)
Penurunan volume perdagangan tersebut membuat pendapatan COIN ikut melemah menjadi Rp41 miliar, turun 18% secara tahunan dan 48% secara kuartalan. Perseroan juga membukukan rugi bersih Rp20 miliar, berbalik dari laba bersih Rp8 miliar pada kuartal IV 2025.
Ringkasan Kinerja COIN Q1 2026
Indikator | Q1 2026 |
Nilai transaksi kripto Indonesia | Rp76 triliun |
Pendapatan | Rp41 miliar |
Laba bersih | -Rp20 miliar |
Operating profit | -Rp23 miliar |
Operating margin | -56,6% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Meski pendapatan turun tajam, biaya operasional COIN relatif belum banyak berubah karena sebagian besar merupakan biaya tetap. Akibatnya, leverage operasional bekerja negatif sehingga margin operasi anjlok dari 16% pada kuartal IV 2025 menjadi minus 56,6% pada kuartal I 2026.
Meski kondisi jangka pendek cukup menantang, Ciptadana melihat tiga katalis utama yang berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan COIN dalam beberapa tahun ke depan.
1. Potensi Migrasi Transaksi dari Bursa Luar Negeri
Menurut estimasi analis, sekitar 75% transaksi kripto investor Indonesia masih berlangsung di platform luar negeri. CFX kemudian memangkas biaya transaksi spot secara bertahap dari:
4 bps menjadi 2 bps mulai 1 Maret 2026
turun lagi menjadi 1 bps mulai 1 Oktober 2026
Strategi tersebut memang menekan pendapatan jangka pendek, namun diharapkan mampu menarik transaksi kembali ke ekosistem bursa kripto dalam negeri.
2. Pasar Derivatif Kripto Indonesia Masih Sangat Kecil
Analis melihat peluang terbesar justru berasal dari perdagangan derivatif. Saat ini volume derivatif kripto Indonesia baru sekitar 0,13 kali volume spot, sedangkan secara global rasio tersebut mencapai sekitar 4–5 kali.
Sebagai satu-satunya bursa kripto berizin yang dapat menawarkan produk derivatif, CFX dinilai memiliki posisi kompetitif yang kuat apabila pasar mulai berkembang.
3. UU P2SK Berpotensi Memperkuat Posisi Bursa Kripto
Perubahan UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang mulai berlaku pada Juni 2026 meningkatkan kepastian hukum industri aset kripto.
Regulasi tersebut diharapkan mendorong transaksi aset kripto dilakukan melalui bursa berizin sehingga dapat memperkuat likuiditas, pembentukan harga (price discovery), dan volume perdagangan di CFX.
Meski harga saham COIN telah turun sekitar 83% sepanjang tahun berjalan (YTD), analis menilai pasar saat ini terlalu banyak mendiskon skenario bearish.
Menurut analis, valuasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan:
peluang pertumbuhan volume transaksi domestik;
posisi kompetitif CFX sebagai bursa berizin;
potensi bisnis derivatif; dan
dukungan regulasi melalui UU P2SK.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi prospek COIN antara lain:
pasar kripto global kembali melemah lebih lama dari perkiraan;
perpindahan transaksi dari platform luar negeri berjalan lebih lambat;
adopsi produk derivatif kripto tidak sesuai ekspektasi; serta
persaingan yang menekan pendapatan transaksi.
Bagi investor, laporan ini menunjukkan bahwa prospek COIN masih sangat bergantung pada pemulihan aktivitas perdagangan aset kripto. Dalam jangka pendek, kinerja perseroan masih berpotensi tertekan akibat volume transaksi yang rendah dan penurunan tarif transaksi spot. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, perkembangan regulasi, pertumbuhan pasar derivatif, dan migrasi transaksi ke bursa domestik menjadi faktor yang layak terus dipantau.
Kinerja COIN pada awal 2026 mencerminkan tekanan yang sedang dialami industri kripto secara global. Meski demikian, analis Ciptadana tetap mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp1.720 per saham karena melihat peluang pertumbuhan struktural dari bisnis bursa kripto Indonesia, khususnya melalui pengembangan derivatif dan implementasi UU P2SK. Bagi investor, dinamika pasar kripto global serta efektivitas kebijakan baru CFX akan menjadi faktor penting yang menentukan pemulihan kinerja perseroan ke depan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Karena kinerja kuartal I 2026 lebih lemah dari perkiraan dan adanya penurunan tarif transaksi spot yang menekan pendapatan jangka pendek.
Rp1.720 per saham menurut Ciptadana Sekuritas.
Penurunan volume transaksi kripto menyebabkan pendapatan turun, sementara biaya operasional relatif tetap tinggi sehingga perusahaan mencatat rugi bersih Rp20 miliar.
Migrasi transaksi ke bursa domestik, pertumbuhan pasar derivatif kripto, dan implementasi UU P2SK.
Pasar kripto yang masih lemah, lambatnya migrasi transaksi domestik, serta adopsi derivatif yang tidak sesuai harapan.