
Bareksa - PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menyampaikan tambahan keterbukaan informasi kepada pemegang saham sehubungan rencana perubahan kegiatan usaha dua perusahaan terkendalinya. Langkah ini dinilai strategis karena membawa grup TOWR bertransformasi dari perusahaan menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi, sebuah pergeseran bisnis yang berpotensi membuka aliran pendapatan baru dalam jangka panjang.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 18 Mei 2026, Perseroan menerbitkan tambahan informasi ini sesuai POJK No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha. Dokumen ditandatangani oleh Direktur Indra Gunawan dan Anita Anwar.
TOWR merupakan emiten sektor konstruksi sentral telekomunikasi dan aktivitas perusahaan holding yang berkedudukan di Kudus, Jawa Tengah. Melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Iforte Solusi Infotek (Iforte), TOWR mengelola ribuan menara BTS dan jaringan fiber optik di seluruh Indonesia.
Protelindo akan menambahkan enam kode KBLI baru yang mencakup pembangkitan tenaga listrik dari energi terbarukan, pengoperasian instalasi kelistrikan, hingga pemasangan jaringan listrik. Fokus utamanya adalah pemasangan panel surya pada menara telekomunikasi yang belum teraliri listrik, sekaligus pengembangan hybrid energy system berbasis baterai. Langkah ini sejalan dengan prinsip ESG dan diproyeksikan meningkatkan efisiensi biaya operasional jangka panjang.
Iforte di sisi lain akan merambah empat lini baru, termasuk penyediaan infrastruktur data center, aktivitas telekomunikasi nirkabel, sewa menara BTS, dan aktivitas perusahaan induk. Rencana data center menjadi sorotan utama, dengan estimasi kapasitas awal hingga 10 MW IT load secara bertahap. Iforte dinilai memiliki posisi kompetitif kuat karena sudah memiliki ekosistem konektivitas dan basis pelanggan yang mapan.
Studi kelayakan independen yang dilakukan Kantor Jasa Penilai Publik Yanuar, Rosye dan Rekan (Y&R) menyimpulkan rencana ini layak dari aspek pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen, maupun keuangan. Proyeksi keuangan menggunakan WACC 9,00% untuk periode 2026–2035 menghasilkan NPV positif Rp1,33 triliun dan rata-rata ROI 8,58%.
Ringkasan Kelayakan Keuangan
Parameter | Nilai |
|---|---|
Total Capex | ±Rp2,07 triliun |
Net Present Value (NPV) | ±Rp1,33 triliun |
Return on Investment (ROI) | 8,58% (rata-rata periode proyeksi) |
Profitabilitas Akhir Proyeksi | 41,76% |
Rata-rata Net Profit Margin | 36,15% |
WACC / Tingkat Diskonto | 9,00% |
Masa Berlaku Studi Kelayakan | Hingga 30 Juni 2026 |
Sumber: TOWR
Rincian Capex per Lini Usaha
Rincian Capex | Nilai (Rp Juta) |
Panel Surya – Protelindo (KBLI 77399, 35120, 35151, 35152, 35159, 43211) | 447.816 |
Data Center – Iforte (KBLI 63102) | 1.470.000 |
Microwave – Iforte (KBLI 61102) | 117.254 |
Tower Lease – Iforte (KBLI 77399) | 21.000 |
Aktivitas Perusahaan Induk – Iforte (KBLI 64210) | 16.500 |
TOTAL CAPEX | 2.072.571 |
Sumber: TOWR
Data Keuangan Konsolidasi TOWR
Pos Keuangan | 2024 (Rp Juta) | 2025 (Rp Juta) |
Pendapatan Bersih | 12.735.815 | 13.327.907 |
Beban Pokok Penjualan | (3.996.322) | (4.188.377) |
Laba Kotor | 8.739.493 | 9.139.530 |
Laba Sebelum Pajak | 3.536.683 | 3.688.100 |
Laba Tahun Berjalan | 3.364.606 | 3.682.248 |
Total Aset | 77.828.380 | 77.269.692 |
Total Ekuitas | 19.169.209 | 27.083.306 |
Total Liabilitas | 58.659.171 | 50.186.386 |
Sumber: TOWR
Potensi Pasar Lini Usaha Baru (2025)
Segmen Usaha | Potensi Pasar |
Penyewaan Menara Telekomunikasi | US$1,8 Miliar |
Layanan Internet B2B – Microwave | US$1,88 Miliar |
Layanan Data Center Indonesia | US$1,44 Miliar |
Investasi Perusahaan Induk | US$115,08 Juta |
Panel Surya – Tower Off-Grid | US$17,87 Juta |
Sumber: TOWR
Rencana perluasan kegiatan usaha Protelindo dan Iforte mencerminkan transformasi TOWR dari operator menara konvensional menjadi penyedia infrastruktur digital yang lebih luas, dengan potensi pendapatan tambahan hingga 26,35% terhadap pendapatan konsolidasi 2025 selama periode proyeksi 2026–2035.
Persetujuan RUPSLB pada 20 Mei 2026 menjadi katalis penting yang dicermati pasar. Investor dapat mencermati hasil rapat tersebut sebagai penentu arah strategis perseroan, mengingat studi kelayakan independen menyatakan rencana ini layak dari seluruh aspek penilaian yang digunakan.
1. Apa yang dibahas dalam RUPSLB TOWR pada 20 Mei 2026?
RUPSLB membahas persetujuan rencana penambahan kegiatan usaha PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Iforte Solusi Infotek, termasuk pembahasan laporan studi kelayakan dari penilai independen sesuai POJK 17/2020.
2. Mengapa Protelindo masuk ke bisnis energi surya?
Protelindo berencana memanfaatkan menara telekomunikasi yang belum teraliri listrik dengan memasang panel surya, mengurangi ketergantungan pada generator konvensional sekaligus mendukung efisiensi biaya operasional jangka panjang dan prinsip ESG.
3. Seberapa besar kebutuhan dana untuk ekspansi ini?
Total kebutuhan capex diperkirakan Rp2,07 triliun, dengan porsi terbesar untuk data center Iforte sebesar Rp1,47 triliun. Dana bersumber dari kas internal dan fasilitas kredit perbankan yang belum dicairkan.
4. Apakah ekspansi ini mengubah struktur organisasi TOWR?
Tidak. Manajemen menyatakan kegiatan usaha baru akan dijalankan melalui unit kerja yang sudah ada tanpa pembentukan divisi baru, dengan penyesuaian tugas internal secara bertahap.
5. Apa dampak rencana ini terhadap pendapatan konsolidasi TOWR?
Proyeksi menunjukkan pendapatan dari lini baru berpotensi setara 26,35% dari pendapatan konsolidasi 2025 selama 2026–2035, dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan 1,89% dan laba 2,05% dibandingkan skenario tanpa ekspansi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.