
Bareksa - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada Triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya volatilitas global akibat konflik Timur Tengah. Informasi ini penting bagi pelaku pasar karena mencerminkan ketahanan ekonomi domestik serta stabilitas sektor keuangan nasional.
Berdasarkan siaran pers KSSK Nomor 02/KSSK/Pers/2026 tanggal 7 Mei 2026, koordinasi Pemerintah, Bank Indonesia (BI), OJK, dan LPS terus diperkuat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. KSSK mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada Triwulan I 2026, lebih tinggi dibanding Triwulan IV 2025 sebesar 5,39% yoy. Pertumbuhan ditopang percepatan belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga, investasi hilirisasi, serta proyek prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan infrastruktur. Aktivitas manufaktur juga tetap berada di zona ekspansi dengan PMI Maret 2026 sebesar 50,1.
Di sektor eksternal, neraca perdagangan Januari–Maret 2026 mencatat surplus USD5,5 miliar. Meski demikian, ketidakpastian global mendorong arus keluar modal asing sebesar USD1,7 miliar pada Triwulan I 2026 dan menyebabkan rupiah melemah ke Rp16.995 per dolar AS pada akhir Maret 2026. BI menyatakan langkah stabilisasi nilai tukar terus diperkuat melalui intervensi valas dan kebijakan suku bunga.
Pasar modal domestik bergerak dinamis sepanjang Triwulan I 2026. IHSG ditutup di level 7.048,22 pada 31 Maret 2026 atau terkoreksi 18,49% secara kuartalan, namun masih tumbuh 8,26% secara tahunan. Memasuki Mei 2026, IHSG kembali menguat ke level 7.057,11 per 5 Mei 2026, sementara penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp59,35 triliun secara year to date.
Dari sisi perbankan, kredit tumbuh 9,49% yoy menjadi Rp8.659 triliun pada Maret 2026. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,1% dan NPL net 0,8%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) berada di level tinggi 25,09%. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13,55% yoy menjadi Rp10.230 triliun.
KSSK juga mencatat inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi April 2026 sebesar 2,42% yoy, turun dibanding Maret 2026 sebesar 3,48% yoy. Pemerintah dan BI menilai stabilitas harga didukung pasokan pangan yang memadai, subsidi energi, dan koordinasi pengendalian inflasi pusat serta daerah.
Indikator | Realisasi |
|---|---|
Pertumbuhan ekonomi Indonesia | 5,61% yoy |
Inflasi April 2026 | 2,42% yoy |
Surplus perdagangan Jan–Mar 2026 | US$5,5 miliar |
Nilai tukar rupiah akhir Maret | Rp16.995/USD |
Cadangan devisa | US$148,2 miliar |
IHSG per 31 Maret 2026 | 7.048,22 |
Penghimpunan dana pasar modal | Rp59,35 triliun |
Kredit perbankan | Rp8.659 triliun |
Pertumbuhan kredit | 9,49% yoy |
CAR perbankan | 25,09% |
DPK perbankan | Rp10.230 triliun |
Sumber: KSSK
BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada Februari–April 2026
BI membeli SBN sebesar Rp123,1 triliun hingga 4 Mei 2026
OJK memperkuat reformasi pasar modal dan transparansi free float
OJK menetapkan roadmap ekosistem bulion 2026–2031
LPS memperkuat perlindungan simpanan dan persiapan penjaminan polis
KSSK akan kembali menggelar rapat berkala pada Juli 2026
Stabilitas inflasi dan perbankan mencerminkan ketahanan ekonomi domestik
Penguatan koordinasi KSSK menjadi perhatian pasar di tengah gejolak global
Arus modal asing dan stabilitas rupiah masih menjadi faktor yang dicermati investor
Penghimpunan dana pasar modal yang tetap tinggi menunjukkan minat pendanaan korporasi masih terjaga
KSSK menilai kondisi sistem keuangan Indonesia tetap stabil di tengah meningkatnya risiko global akibat konflik Timur Tengah dan volatilitas pasar keuangan internasional. Stabilitas tersebut didukung pertumbuhan ekonomi domestik yang kuat, inflasi terkendali, serta sektor perbankan dan pasar modal yang masih resilien.
Ke depan, koordinasi kebijakan antara Pemerintah, BI, OJK, dan LPS menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar. Perkembangan nilai tukar, aliran modal asing, dan kondisi geopolitik global diperkirakan masih menjadi perhatian utama investor.
1. Apa isi utama pernyataan KSSK Mei 2026?
KSSK menyatakan sistem keuangan Indonesia tetap stabil meski terjadi ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.
2. Berapa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026?
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada Triwulan I 2026.
3. Bagaimana kondisi IHSG pada awal Mei 2026?
IHSG ditutup di level 7.057,11 per 5 Mei 2026 dan menguat 1,44% secara month to date.
4. Berapa inflasi Indonesia April 2026?
Inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42% yoy, masih dalam sasaran BI.
5. Apa yang menjadi perhatian investor saat ini?
Investor mencermati perkembangan konflik global, stabilitas rupiah, arus modal asing, serta respons kebijakan KSSK dan BI.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Adam Nugroho/AM)
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.