
Bareksa - PT ABM Investama Tbk (ABMM) menargetkan laba bersih 2026 tumbuh sekitar 13%–27% dari realisasi 2025. Informasi ini penting karena mencerminkan arah pertumbuhan dan keberlanjutan kinerja bagi investor.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI tertanggal 5 Mei 2026, perseroan membukukan laba bersih 2025 sebesar US$70,6 juta. Untuk 2026, laba ditargetkan mencapai US$80–90 juta dengan pendapatan relatif stabil di kisaran US$1 miliar. Target ini menunjukkan strategi menjaga profitabilitas di tengah normalisasi harga batu bara global.
Kinerja operasional 2025 ditopang efisiensi dan produktivitas, termasuk volume overburden removal mencapai 235,5 juta BCM. ABMM juga menjaga posisi kas kuat sekitar US$200 juta. Kondisi ini mencerminkan fleksibilitas keuangan untuk ekspansi dan stabilitas bisnis. ABMM merupakan emiten energi terintegrasi di sektor pertambangan.
Belanja modal (capex) 2026 dialokasikan sebesar US$85 juta, turun dari 2025 yang mencapai US$131 juta. Penurunan ini terutama karena tidak adanya akuisisi besar seperti tahun sebelumnya. Fokus capex tetap pada peremajaan alat berat untuk mendukung produktivitas kontraktor tambang.
Dari sisi ekspansi, tambang PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) telah memulai penjualan pada Februari 2026 dengan target produksi sekitar 2 juta ton. Sementara PT Piranti Jaya Utama (PJU) ditargetkan mulai operasi komersial pada akhir 2026. Kedua aset ini berpotensi meningkatkan kontribusi pendapatan secara bertahap.
Perseroan juga mengembangkan diversifikasi melalui proyek energi terbarukan dan partisipasi di IDX Carbon. Langkah ini mencerminkan upaya memperluas sumber pendapatan di luar batu bara. Strategi efisiensi biaya dan digitalisasi tetap menjadi fokus untuk menjaga margin.
Ringkasan Kinerja & Target ABMM
Komponen | Nilai |
|---|---|
Laba bersih 2025 | US$70,6 juta |
Target laba 2026 | US$80–90 juta |
Pertumbuhan laba | ±13%–27% |
Target pendapatan 2026 | ± US$1 miliar |
Capex 2025 | US$131 juta |
Capex 2026 | US$85 juta |
Kas akhir 2025 | ± US$200 juta |
Sumber: ABMM, diolah
Produksi NCN 2026: ± 2 juta ton
PJU operasi: target akhir 2026
Overburden removal 2025: 235,5 juta BCM
Kontributor utama: jasa pertambangan & tambang batu bara
Pertumbuhan laba mencerminkan potensi peningkatan valuasi
Kas kuat mendukung ekspansi dan ketahanan siklus komoditas
Aset baru berpotensi menambah volume produksi ke depan
Diversifikasi bisnis menjadi faktor yang perlu dicermati
Target pertumbuhan laba hingga 27% menunjukkan ABMM berupaya menjaga momentum kinerja di tengah dinamika harga batu bara. Stabilitas pendapatan dan efisiensi menjadi fondasi utama strategi 2026. Ke depan, realisasi produksi dari aset baru dan disiplin capex menjadi faktor penting yang dicermati investor. Diversifikasi bisnis juga berpotensi memperkuat keberlanjutan jangka panjang.
1. Berapa target laba ABMM pada 2026?
Sekitar US$80–90 juta.
2. Berapa pertumbuhan laba dari 2025 ke 2026?
Diperkirakan sekitar 13% hingga 27%.
3. Berapa laba bersih ABMM pada 2025?
US$70,6 juta.
4. Apa fokus capex 2026?
Peremajaan alat berat dan peningkatan produktivitas.
5. Apa bisnis utama ABMM?
Energi terintegrasi, terutama pertambangan dan jasa kontraktor tambang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.