
Bareksa - PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menyampaikan materi Public Expose Tahunan 2026 yang memuat kinerja 2025 dan prospek bisnis. Informasi ini penting karena mencerminkan arah pertumbuhan dan strategi operasional emiten tambang emas.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI tanggal 4 Mei 2026, sepanjang 2025, ARCI mencatat pendapatan sebesar US$496 juta (sekitar Rp8,62 triliun dengan asumsi kurs tengah BI per 4/5/2026 Rp17.378 per dolar AS). EBITDA tercatat US$231 juta (sekitar Rp4,01 triliun) dengan margin 47%. Laba bersih mencapai US$103 juta (sekitar Rp1,79 triliun), meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, produksi emas mencapai 122 ribu ons (koz), melampaui panduan tahunan sekitar 2%. Kinerja ini didukung peningkatan plant availability dan gold recovery. Pengembangan tambang bawah tanah dan pit baru turut menopang volume produksi. ARCI merupakan emiten sektor pertambangan emas.
Perusahaan mencatat aktivitas eksplorasi dengan total pengeboran 85.893 meter. Belanja eksplorasi mencapai US$9,3 juta (sekitar Rp161,6 miliar). Temuan mineralisasi emas dengan kadar hingga 27 g/t Au berpotensi memperkuat cadangan.
ARCI juga menghadapi kenaikan tarif royalti emas hingga 16% untuk harga di atas US$3.000 per ons. Namun efisiensi biaya tetap terjaga sehingga margin tetap solid. Hal ini menjadi perhatian investor karena mencerminkan ketahanan bisnis.
Untuk 2026, ARCI menargetkan pertumbuhan produksi emas minimal 15%. Kapasitas pabrik direncanakan naik dari 4 juta ton menjadi 6 juta ton per tahun. Strategi ini berpotensi meningkatkan volume dan efisiensi produksi.
Selain ekspansi produksi, ARCI memperluas eksplorasi dan pengembangan tambang bawah tanah. Perusahaan juga mengembangkan proyek geothermal sebagai diversifikasi energi. Langkah ini mencerminkan strategi pertumbuhan jangka panjang.
Kinerja Q1 2026 menunjukkan pendapatan US$137 juta (sekitar Rp2,38 triliun) dan laba bersih US$30 juta (sekitar Rp521 miliar). EBITDA tercatat US$63 juta (sekitar Rp1,09 triliun). Peningkatan ini didorong harga emas dan volume produksi.
Tabel Ringkasan Kinerja & Prospek ARCI
Indikator | Realisasi |
|---|---|
Pendapatan | US$496 juta (Rp8,62 triliun) |
EBITDA | US$231 juta (Rp4,01 triliun) |
Margin EBITDA | 47% |
Laba Bersih | US$103 juta (Rp1,79 triliun) |
Produksi Emas | 122 koz |
Sumber: ARCI, diolah
Operasional & Eksplorasi
Pengeboran: 85.893 meter
Belanja eksplorasi: US$9,3 juta (Rp161,6 miliar)
Kadar emas: 5–27 g/t Au
Pengembangan bawah tanah: 1,2 km
Prospek 2026
Target produksi: tumbuh ≥15%
Kapasitas pabrik: 4 → 6 juta ton/tahun
Fokus: eksplorasi, underground mining, efisiensi
Kinerja Q1 2026
Indikator | Realisasi |
|---|---|
Pendapatan | US$137 juta (Rp2,38 triliun) |
EBITDA | US$63 juta (Rp1,09 triliun) |
Laba Bersih | US$30 juta (Rp521 miliar) |
Produksi Emas | 29 koz |
Sumber: ARCI, diolah
Profitabilitas meningkat mencerminkan kinerja solid
Ekspansi produksi berpotensi mendukung pertumbuhan
Efisiensi biaya menjadi perhatian di tengah kenaikan royalti
Materi Public Expose ARCI menegaskan kinerja 2025 yang kuat dengan lonjakan laba dan margin. Hal ini mencerminkan efektivitas strategi operasional perusahaan. Ke depan, ekspansi kapasitas dan eksplorasi berpotensi memperkuat fundamental. Namun, faktor harga emas dan kebijakan royalti tetap menjadi perhatian investor.
1. Berapa pendapatan ARCI 2025?
US$496 juta (sekitar Rp8,62 triliun).
2. Berapa laba bersih ARCI?
US$103 juta (sekitar Rp1,79 triliun).
3. Target produksi 2026 berapa?
Tumbuh minimal 15%.
4. Apa strategi utama ARCI?
Ekspansi produksi, eksplorasi, dan efisiensi biaya.
5. Apa bisnis utama ARCI?
Pertambangan emas terintegrasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.