
Bareksa - PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), emiten operator jaringan bioskop terbesar di Indonesia dengan merek Cinema XXI, membukukan total pendapatan Rp1,1 triliun pada Kuartal I 2026. Angka itu tumbuh 18,2% secara tahunan (YOY) dibandingkan Rp929,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian ini penting dicermati investor karena mencerminkan pemulihan dan akselerasi bisnis hiburan bioskop yang lebih kuat dari ekspektasi. Berdasarkan keterangan pers 30 April 2026, pendapatan tiket bioskop sebagai kontributor terbesar 60,6% dari total revenue, tumbuh 14,3% menjadi Rp665,3 miliar.
Segmen makanan dan minuman (F&B) yang menyumbang 32,6% revenue ikut tumbuh 15,9% menjadi Rp357,6 miliar dengan spend per head (SPH) yang terjaga. Sisanya berasal dari iklan, platform digital, dan pendapatan lainnya. Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat Rp226,9 miliar, melonjak 81,2% dari Rp125,2 miliar pada Q1 2025, pertumbuhan yang berpotensi mencerminkan efisiensi operasional yang signifikan seiring ekspansi bisnis.
Kinerja Q1 2026 turut ditopang oleh kuatnya momentum film lokal, khususnya pada periode libur Lebaran. Terdapat 7 judul film nasional yang masing-masing berhasil meraih lebih dari satu juta penonton, meningkat drastis dibandingkan hanya 3 judul pada Q1 2025.
Direktur Utama Cinema XXI Suryo Suherman menyebut antusiasme penonton terhadap karya sineas Indonesia sebagai energi pendorong kinerja operasional perseroan.
Posisi keuangan perseroan tetap solid per 31 Maret 2026: total aset Rp6,72 triliun, kas dan setara kas Rp1,75 triliun, serta total ekuitas Rp4,34 triliun. Arus kas dari aktivitas operasi meningkat signifikan menjadi Rp106,6 miliar dari Rp28,1 miliar pada Q1 2025, menjadi perhatian sebagai indikator kualitas pendapatan yang membaik. Laba bersih konsolidasi tercatat Rp533 juta, berbalik dari rugi Rp66,7 miliar pada Q1 2025.
Ringkasan Kinerja Keuangan Q1 2026
Indikator | Q1 2026 | Q1 2025 | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|---|
Total Pendapatan | Rp1.098,3 miliar | Rp929,3 miliar | 18,2% |
Pendapatan Tiket | Rp665,3 miliar | Rp582,2 miliar | 14,3% |
Pendapatan F&B | Rp357,6 miliar | Rp308,4 miliar | 15,9% |
Pendapatan Iklan | Rp48,9 miliar | Rp13,0 miliar | 277,5% |
EBITDA | Rp226,9 miliar | Rp125,2 miliar | 81,2% |
Laba (Rugi) Bersih | Rp533 juta | (Rp66,7 miliar) | Berbalik positif |
Arus Kas Operasi | Rp106,6 miliar | Rp28,1 miliar | 278,8% |
Sumber: CNMA, diolah
Cinema XXI (CNMA) mencatat kinerja Q1 2026 yang solid di seluruh lini bisnis, dengan EBITDA tumbuh 81,2% yoy dan arus kas operasi yang meningkat signifikan, mencerminkan perbaikan fundamental bisnis yang layak dicermati investor.
1. Berapa pertumbuhan EBITDA CNMA di Q1 2026?
EBITDA tumbuh 81,2% YoY menjadi Rp226,9 miliar dari Rp125,2 miliar pada Q1 2025.
2. Apa bisnis utama emiten CNMA?
PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) mengoperasikan jaringan bioskop terbesar di Indonesia di bawah merek Cinema XXI, Cinema 21, dan The Premiere, dengan 268 bioskop dan 1.391 layar per 31 Maret 2026.
3. Apakah laba bersih CNMA sudah positif di Q1 2026?
Ya, laba bersih konsolidasi Q1 2026 tercatat Rp533 juta, berbalik dari rugi Rp66,7 miliar pada Q1 2025, meskipun angkanya masih relatif tipis karena beban penyusutan dan keuangan yang besar.
4. Berapa total dividen CNMA untuk tahun buku 2025?
Total dividen tunai Rp12 per saham, Rp5/saham dibayarkan pada 28 November 2025 (interim) dan Rp7/saham pada 28 April 2026 (final).
5. Apa itu distribusi saham tresuri rasio 50:1?
Setiap pemegang 50 saham CNMA yang berhak akan menerima 1 saham tresuri secara cuma-cuma. Total 1.632.939.689 saham didistribusikan pada 28 April 2026.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.