
Bareksa - PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan kinerja 1Q26 yang lebih lemah dengan penurunan laba bersih 8,1% YoY menjadi Rp740 miliar.
Menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia (27/4), Penurunan kinerja terjadi seiring pendapatan turun 4,9% YoY menjadi Rp2,49 triliun akibat volume produksi yang lebih rendah.
Laba operasional juga turun 8,3% YoY, sementara margin laba bersih menyusut ke 29,7% dari 30,7% tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada sisi efisiensi dan produksi. Ini bisa jadi perhatian investor karena mencerminkan tekanan operasional di sektor perkebunan sawit. TAPG merupakan emiten sektor agribisnis kelapa sawit.
Secara operasional, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 5,8% YoY dan volume CPO turun 1,7%. Meski demikian, harga PKO dan PKM yang lebih kuat membantu meredam penurunan kinerja secara keseluruhan. Beban operasional juga naik 1,9% YoY yang menekan profitabilitas.
Dari sisi kontribusi, laba bersih 1Q26 baru mencapai 14% dari estimasi 2026. Ciptadana Sekuritas menilai hasil ini masih di bawah ekspektasi, namun tetap mencerminkan stabilitas relatif di tengah siklus komoditas.
Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi BUY untuk TAPG dengan target harga Rp2.300 per saham. Pandangan ini didukung oleh valuasi yang masih menarik serta ekspektasi pemulihan produksi.
Selain itu, potensi stabilnya harga CPO menjadi faktor yang dapat menopang kinerja ke depan. Investor disarankan mencermati tren produksi dan harga komoditas global sebagai katalis utama.
Tabel Ringkasan Kinerja TAPG Q1 2026
Indikator | Q1 2026 | YoY |
|---|---|---|
Pendapatan | Rp2,49 T | -4,9% |
Laba Bersih | Rp740 M | -8,1% |
Margin Laba Bersih | 29,7% | -1,0 ppt |
Rekomendasi | BUY | TP Rp2.300 |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Kinerja TAPG 1Q26 menunjukkan pelemahan akibat penurunan produksi dan margin. Namun, fundamental bisnis masih dinilai stabil dengan dukungan harga komoditas. Ke depan, pemulihan produksi dan stabilitas harga CPO menjadi faktor kunci yang akan dicermati pasar.
1. Apa hasil laba TAPG Q1 2026?
Rp740 miliar, turun 8,1% YoY.
2. Apa penyebab penurunan kinerja?
Penurunan volume produksi dan margin.
3. Apakah TAPG masih direkomendasikan?
Ya, tetap BUY dengan target Rp2.300.
4. Apa faktor pendukung ke depan?
Potensi pemulihan produksi dan harga CPO.
5. TAPG bergerak di sektor apa?
Agribisnis kelapa sawit.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.