
Bareksa - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 4% secara tahunan (YoY). Kinerja ini penting bagi investor karena hasilnya sesuai ekspektasi analis, di tengah perlambatan pertumbuhan kredit.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia (24/4), laba bersih BBCA setara sekitar 24% dari proyeksi kinerja tahun penuh 2026. Angka ini mencerminkan hasil yang inline dengan konsensus pasar. PT Bank Central Asia Tbk merupakan bank swasta terbesar di Indonesia.
Kinerja operasional relatif stabil, dengan PPoP tumbuh 4,4% YoY dan 7,4% QoQ. Pendapatan bunga bersih (NII) cenderung datar, namun ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga yang naik 14% YoY.
Pertumbuhan pendapatan non-bunga didorong oleh fee-based income yang naik 14% YoY. Pendapatan trading dan lainnya juga meningkat 15% YoY. Sementara itu, biaya pencadangan naik 19% YoY, namun masih dalam ekspektasi dengan cost of credit (CoC) di level 50 bps.
Pertumbuhan kredit BBCA tercatat 5,6% YoY. Segmen korporasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 9% YoY. Namun, kredit konsumer mengalami tekanan, terutama dari pembiayaan kendaraan yang turun signifikan.
Meski demikian, manajemen tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit 8–10% di 2026.
Dana pihak ketiga tetap kuat, dengan giro tumbuh 18% YoY dan tabungan naik 7% YoY. Loan to Deposit Ratio (LDR) turun ke 75%, mencerminkan likuiditas yang lebih longgar. Rasio CASA meningkat menjadi 84%, memberikan ruang efisiensi biaya dana ke depan.
Rasio loan at risk (LAR) berada di 4,9%, sementara non-performing loan (NPL) di level 1,8%. Kedua indikator tersebut relatif stabil dibanding periode sebelumnya.
Manajemen tetap berhati-hati terhadap segmen UMKM dan konsumer di tengah kondisi ekonomi.
Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp9.200 per saham. Valuasi BBCA saat ini berada di sekitar 2,5x PBV dan 12,4x PE 2026, mendekati -3 standar deviasi dari rata-rata historis.
Return on equity (ROE) tetap solid di level 22%, mencerminkan profitabilitas yang terjaga. Analis mencatat risiko utama berasal dari perlambatan pertumbuhan kredit dan potensi penurunan kualitas aset.
Tabel Ringkasan Kinerja BBCA Q1 2026
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Indikator | Realisasi | Perubahan |
|---|---|---|
Laba Bersih | Rp14,7 triliun | +4% YoY |
NPL | 1,8% | Stabil |
LAR | 4,9% | Stabil |
LDR | 75% | Turun |
CASA Ratio | 84% | Naik |
ROE | 22% | Stabil |
Kinerja BBCA pada kuartal I 2026 menunjukkan hasil yang sesuai ekspektasi dengan operasional yang tetap stabil. Meski pertumbuhan kredit melambat, likuiditas dan kualitas aset tetap terjaga. Di tengah valuasi yang relatif rendah, analis masih melihat potensi dengan tetap mempertimbangkan risiko yang ada.
1. Apakah kinerja BBCA Q1 2026 sesuai ekspektasi?
Ya, laba bersih tercatat inline dengan proyeksi analis dan konsensus pasar.
2. Apa penopang utama kinerja BBCA?
Pendapatan non-bunga dan stabilitas operasional.
3. Mengapa pertumbuhan kredit melambat?
Terutama dipengaruhi penurunan kredit kendaraan di segmen konsumer.
4. Bagaimana kondisi likuiditas BBCA?
Likuiditas longgar dengan LDR turun ke 75% dan CASA meningkat.
5. Apa risiko utama yang perlu diperhatikan?
Perlambatan kredit dan potensi penurunan kualitas aset.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.