
Bareksa - PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mengumumkan perubahan susunan direksi dan komisaris seiring rencana penggabungan usaha dengan PT Ekamas Mora Republik Tbk (EMR). Informasi ini penting karena merger dan perubahan pengendalian biasanya memengaruhi struktur bisnis, tata kelola, serta arah ekspansi perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 22 April 2026, susunan pengurus MORA sebagai entitas penerima penggabungan akan berlaku efektif pada tanggal efektif merger.
MORA merupakan emiten infrastruktur digital yang bergerak di bidang telekomunikasi kabel, internet service provider, interkoneksi internet (NAP), dan layanan data center.
Dalam dokumen tersebut, Arsjad Rasjid direncanakan menjadi Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen. Posisi komisaris lainnya ditempati Marlo Budiman dan Handhianto S. Kentjono.
Sementara posisi Direktur Utama akan dijabat Timotius M. Sulaiman. Direksi lainnya antara lain Yopie Widjaja, Hendra Gunawan, Edward Sanusi, Iman Syahrizal, Melanie Maharani, Edward Anwar, Jimmy Kadir, Genta A. Putra, Michael C. McPhail, dan Resi Y. Bramani.
Corporate Secretary MORA, Henry Rizard Rumopa, menyampaikan perubahan ini diharapkan mendukung integrasi operasional, hukum, keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan.
Dalam dokumen perubahan anggaran dasar akibat merger, nama perseroan disebut berubah dari PT Mora Telematika Indonesia Tbk menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
Modal dasar juga meningkat dari sekitar Rp3,27 triliun menjadi Rp19 triliun. Jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh tercatat menjadi 47,77 miliar saham.
Perubahan ini menunjukkan skala entitas hasil merger menjadi jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Pada laporan terpisah ke OJK, PT Innovate Mas Utama dilaporkan memperoleh 23.107.224.069 saham atau setara 48,37% kepemilikan di PT Ekamas Mora Republik Tbk dari sebelumnya 0%.
Di saat yang sama, PT Gema Lintas Benua tercatat tetap memiliki 7.135.484.421 saham, namun persentasenya turun dari 30,18% menjadi 14,93%.
Penurunan persentase tanpa perubahan jumlah saham biasanya terjadi karena adanya penerbitan saham baru atau perubahan total saham beredar setelah aksi korporasi.
Tabel Ringkasan Informasi
Poin | Detail |
|---|---|
Emiten | PT Mora Telematika Indonesia Tbk |
Kode Saham | MORA |
Tanggal Keterbukaan | 22 April 2026 |
Agenda Utama | Perubahan direksi/komisaris dan merger |
Komisaris Utama | Arsjad Rasjid |
Direktur Utama | Timotius M. Sulaiman |
Pemegang Saham Baru EMR | PT Innovate Mas Utama (48,37%) |
Kepemilikan GLB | Turun ke 14,93% |
Sumber: MORA, diolah
MORA mengumumkan susunan manajemen baru seiring proses merger dengan EMR. Selain perubahan pengurus, struktur kepemilikan saham dan modal dasar entitas hasil merger juga berubah signifikan. Investor umumnya mencermati langkah ini sebagai bagian dari transformasi bisnis dan penguatan skala usaha perseroan.
1. Apa inti pengumuman MORA kali ini?
Perubahan direksi dan komisaris serta perkembangan merger dengan EMR.
2. Siapa Direktur Utama baru MORA?
Timotius M. Sulaiman.
3. Mengapa persentase saham Gema Lintas Benua turun?
Karena total saham beredar bertambah, meski jumlah saham yang dimiliki tetap sama.
4. Siapa pemegang saham terbesar baru EMR?
PT Innovate Mas Utama dengan 48,37%.
5. Kapan perubahan berlaku efektif?
Saat tanggal efektif penggabungan sesuai proses merger yang berjalan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.