Saham AALI Masih Layak Dibeli? Produksi Pulih, Tapi Ada Risiko Harga CPO Turun

Abdul Malik • 01 Apr 2026

an image
Kebun sawit milik PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) di Kalimantan Timur. (Shutterstock)

Kinerja AALI 2025 melonjak, pendapatan Rp28,66 triliun dan laba Rp1,47 triliun, didorong harga CPO tinggi dan pemulihan produksi. Simak analisis prospek 2026 dan risikonya.

Bareksa - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat kinerja kuat di 2025. Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia (31/3), pemulihan produksi mendukung pertumbuhan kinerja di tengah harga yang masih bagus. 

Pendapatan AALI naik 31,4% dibanding tahun lalu jadi Rp28,66 triliun, dan laba bersih naik 28,2% jadi Rp1,47 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh harga rata-rata CPO yang lebih tinggi (naik 11,1% jadi Rp14.316/kg), pemulihan produksi, efisiensi biaya, dan hasil panen yang lebih baik.

Harga CPO global juga masih tinggi, dengan rata-rata harga CIF Rotterdam US$1.222/ton (naik 12,7%) di 2025. Kenaikan ini didorong permintaan biodiesel, pasokan global yang ketat, dan harga minyak mentah yang tinggi.

Dari sisi operasional, produksi TBS dan CPO masing-masing naik 2,3% dan 6,4%. Produktivitas juga meningkat jadi 16 ton/hektare (dari 15,5 ton/hektare di 2024). 

Ke depan, masih ada risiko fluktuasi permintaan dan persaingan dengan minyak nabati lain. Namun, produksi CPO AALI diperkirakan tetap tumbuh lebih kuat di 2026.

Apa yang Mendukung Kinerja AALI?

Faktor utama yang mendukung Kinerja AALI:

  • Harga CPO global tinggi: rata-rata CIF Rotterdam USD1.222/ton (+12,7% YoY)
  • Permintaan biodiesel meningkat → dorong permintaan CPO
  • Pasokan global ketat → tekanan naik harga
  • Produksi AALI mulai pulih setelah sebelumnya tertekan
  • Program tanam ulang (replanting) 5.000 ha di 2025 → produktivitas lebih optimal

Apa artinya buat investor?

Prospek 2026:

  • Produksi CPO diproyeksikan naik 7,4% YoY

  • Permintaan domestik tetap kuat (64% penjualan CPO & turunannya)

  • Ekspor tetap stabil ke China, India, Korea Selatan (36% penjualan)

Namun, risiko tetap ada:

  • Harga CPO global bisa fluktuatif

  • Cuaca ekstrem dan keterbatasan pasokan membatasi pertumbuhan industri sawit

Saham AALI masih layak dikoleksi, tapi dengan strategi bertahap:

  • Kinerja terbukti pulih, produksi meningkat

  • Target harga wajar: Rp11.700/saham (BUY)

  • Cocok untuk investor yang siap menghadapi fluktuasi harga

  • Antisipasi risiko harga CPO

Highlight Keuangan AALI

Kesimpulan

AALI punya prospek positif didukung pemulihan produksi dan harga CPO yang tinggi. Namun, harga global tetap sensitif, jadi pergerakan saham bisa fluktuatif. Saham ini cocok untuk strategi investasi bertahap dan sabar menghadapi siklus komoditas.

FAQ 

1. Apa itu CPO?
Minyak kelapa sawit mentah, bahan utama produk makanan dan biodiesel.

2. Kenapa harga CPO penting?
Mempengaruhi pendapatan perusahaan sawit secara langsung.

3. Apa itu replanting?
Penanaman ulang pohon sawit untuk menjaga produktivitas tetap tinggi.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(AM)

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.