
Bareksa - Tim Analis Bareksa merekomendasikan saham emiten emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebagai saham pilihan untuk trading hari ini (26/1). Rekomendasi itu seiring meroketnya harga emas dunia yang resmi sudah menembus US$5.000 per ons pada Senin pagi, tepatnya US$5.071 per ons pada pukul 08.15 WIB, atau sedikit lagi tembus US$5.100.
Stock Pick (Rp) | BRMS | ARCI | PSAB |
|---|---|---|---|
Last Price | 1.250 | 1,935 | 620 |
Recommendation | Trading Buy | Trading Buy | Trading Buy |
Entry Range | 1.230 | 1.920 | 615 |
1.260 | 1.950 | 630 | |
Target Price (TP) 1 | 1.300 | 2.050 | 655 |
Target Price (TP) 2 | 1.330 | 2.100 | 665 |
Stop Loss | 1.200 | 1.850 | 595 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, last price per 23/1/2026
Harga saham BRMS menguat 1,62% jadi Rp1.250 (23/1). Saham tambang emas ini direkomendasikan beli untuk trading dengan harga masuk di rentang Rp1.230-1.260. Target harga ambil untung saham BRMS di Rp1.300 & Rp1.330 dan stop rugi di Rp1.200.
Harga saham ARCI melemah 0,26% jadi Rp1.935 (23/1). Saham emiten emas direkomendasikan beli untuk trading dengan harga masuk di rentang Rp1.920-1.950. Target harga ambil untung saham ARCI di Rp2.050 dan Rp2.100, serta stop rugi di Rp1.850.
Harga saham PSAB berkurang 0,8% jadi Rp620 (23/1). Saham terkait emas ini direkomendasikan beli untuk trading dengan harga masuk di Rp615-630. Target harga ambil untung saham ARCI di Rp655 dan Rp665, serta stop rugi di Rp595.
Sumber: Investing
Menurut laporan Investing (26/1), harga emas mencetak rekor baru dengan menembus level US$5.000 per ons, didorong lonjakan permintaan aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Sejak awal tahun, emas telah naik hampir 17%, ditopang kekhawatiran pasar atas konflik geopolitik, termasuk tensi AS–NATO terkait Greenland serta ancaman tarif perdagangan dari Presiden Donald Trump.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS juga memperkuat reli emas. Pasar menanti sinyal pemangkasan suku bunga The Fed, yang biasanya menguntungkan emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil. Kenaikan emas juga diikuti logam mulia lain seperti perak dan platinum yang sama-sama mencetak harga tertinggi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,46% ke level 8.951, meski investor asing mencatatkan beli bersih Rp760 miliar, seiring sentimen pasar yang tertekan oleh meningkatnya aversi risiko global. Pelemahan indeks terutama dibebani sektor Transportasi & Logistik (–2,29%), Konsumer Siklikal (–2,25%), dan Industri (–1,53%), sementara penguatan dipimpin sektor Kesehatan (+0,64%) dan Infrastruktur (+0,17%).
Saham-saham yang menjadi pemberat utama indeks antara lain AMMN (–6,19%), PTRO (–14,85%), dan BRPT (–5,82%). Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat 63 poin ke level Rp16.822 per dolar AS. Ke depan, IHSG diperkirakan bergerak di rentang support 8.838 dan resistance 9.110, dengan sentimen pasar yang masih cenderung berhati-hati dalam jangka pendek.
Lonjakan harga emas dunia yang menembus US$5.000 per ons membuka peluang trading jangka pendek pada saham-saham emiten emas. BRMS, ARCI, dan PSAB menjadi pilihan Tim Analis Bareksa dengan strategi trading buy yang tetap disertai target harga dan batas risiko (stop loss), di tengah kondisi IHSG yang masih volatil dan sentimen pasar global yang cenderung berhati-hati.
1. Apakah saham emas cocok untuk semua investor?
Tidak. Saham emas lebih cocok untuk investor dengan profil risiko menengah–tinggi, terutama untuk strategi trading jangka pendek.
2. Apa risiko utama berinvestasi di saham emas saat ini?
Risiko utama berasal dari koreksi harga emas global, volatilitas IHSG, serta sentimen geopolitik dan kebijakan moneter global.
3. Apakah kenaikan harga emas selalu sejalan dengan saham emas?
Tidak selalu. Pergerakan saham emas juga dipengaruhi kinerja perusahaan, biaya produksi, dan sentimen pasar saham secara keseluruhan.
4. Apakah rekomendasi ini untuk jangka panjang?
Rekomendasi ini bersifat trading jangka pendek, bukan investasi jangka panjang. Selalu sesuaikan dengan strategi dan manajemen risiko pribadi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Christian Halim/AM)
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
Disclaimer
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.