Saham INET Meroket di Tengah Rights Issue, Ini Analisis dan Rekomendasinya

Abdul Malik • 06 Jan 2026

an image
Ilustrasi seorang investor sedang bertransaksi saham di fitur Bareksa Saham. (Shutterstock)

Harga saham INET bergerak volatil di tengah rights issue. Simak penjelasan dampak dilusi, tujuan ekspansi, dan strategi investor menghadapi fase ini.

Bareksa – Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) kembali melesat pada perdagangan Selasa (6/1). Hingga pukul 14.22 WIB, saham INET naik 10,17% ke level Rp645, atau bertambah 55 poin. Kenaikan ini melanjutkan reli sehari sebelumnya, ketika saham INET melonjak 24,7% pada Senin (5/1).

Menariknya, penguatan saham perusahaan infrastruktur teknologi yang menjalankan usaha di bidang jasa telekomunikasi, internet service provider, dan penyewaan jaringan serat optik itu terjadi di tengah proses rights issue (HMETD) yang secara teori justru memicu penyesuaian harga saham.

Apa yang Terjadi pada Saham INET?

Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (2/1) telah menetapkan harga teoritis saham INET sekitar Rp472 per saham, berdasarkan struktur rights issue dengan rasio 3:4 dan harga pelaksanaan Rp250 per saham.

Artinya, setiap pemegang 3 saham lama INET berhak membeli 4 saham baru dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar sebelum ex-rights. Secara matematis, penambahan jumlah saham beredar seharusnya menekan harga saham.

Namun dalam praktiknya, saham INET justru bergerak volatil dan sempat mengalami auto reject atas (ARA), mencerminkan respons pasar jangka pendek yang cukup agresif.

Jadwal Singkat Rights Issue INET

Tahap Persiapan

  • RUPSLB: 12 Juni 2025
  • Pernyataan efektif OJK: 22 Desember 2025

Cum & Ex Rights

  • Cum rights (Reguler & Negosiasi): 2 Januari 2026
  • Cum rights (Tunai): 6 Januari 2026
  • Ex rights (Reguler & Negosiasi): 5 Januari 2026
  • Ex rights (Tunai): 7 Januari 2026
  • Recording date (hak HMETD): 6 Januari 2026

Perdagangan & Pelaksanaan HMETD

  • Distribusi HMETD: 7 Januari 2026
  • Perdagangan & penebusan HMETD: 8–22 Januari 2026
  • Penyerahan saham hasil rights: 12–26 Januari 2026

Waran Seri II

  • Mulai diperdagangkan: 8 Januari 2026
  • Periode pelaksanaan: 13 Juli 2026 – 13 Juli 2028

Kenapa Harga Saham INET Bisa Bergejolak?

Rights issue menyebabkan lonjakan jumlah saham beredar, sehingga harga saham perlu disesuaikan secara teknis. Penyesuaian ini bersifat matematis, bukan karena kinerja bisnis INET memburuk secara tiba-tiba.

Sementara itu, lonjakan harga saham INET mencerminkan sentimen jangka pendek pasar, spekulasi terhadap dana jumbo yang masuk, serta ekspektasi ekspansi bisnis ke depan. Namun, kenaikan harga tersebut tidak menghapus dampak ekonomi rights issue yang tetap berjalan.

Investor yang membeli saham INET setelah tanggal ex-rights juga perlu dipahami bahwa mereka tidak lagi memperoleh HMETD.

Apa Artinya untuk Investor?

Beberapa poin penting yang perlu dicermati investor:

• Risiko dilusi signifikan
Investor yang tidak menebus HMETD berpotensi mengalami dilusi hingga 57,14%, yang berarti porsi kepemilikan dan potensi laba per saham akan berkurang.

Rights issue untuk ekspansi
Sekitar Rp2,93 triliun dana rights issue akan disalurkan ke anak usaha untuk pengembangan FTTH, Wi-Fi 7, dan kabel bawah laut, sementara sisanya untuk modal kerja dan kewajiban operasional.

• Volatilitas masih tinggi
Selama periode rights issue hingga akhir Januari 2026, saham INET masih berpotensi bergerak fluktuatif dan sensitif terhadap sentimen jangka pendek.

Analisis Fundamental INET

Dari sisi fundamental, menurut riset Ciptadana Sekuritas Asia, INET memiliki peluang pertumbuhan jangka panjang di sektor infrastruktur digital:

  • Melayani 100+ ISP di Indonesia
  • Target 2 juta homepass FTTH di Bali–Lombok
  • Proyek kabel bawah laut Jakarta–Batam–Singapura
  • Penetrasi broadband Indonesia masih rendah (±27%)

Ekspansi agresif ini berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan jangka menengah–panjang, meski tetap membutuhkan eksekusi yang disiplin dan dukungan kondisi makro. Sehingga rekomendasi saham INET Buy. 

Namun Ciptadana belum memperbaharui target harga saham INET. Sebelumnya target harga saham ini Rp600 yang kini sudah terlampaui. Bagi investor jangka pendek disarankan tetap waspada terhadap volatilitas teknikal selama periode rights issue.

Kesimpulan

Pergerakan saham INET yang volatil di tengah rights issue mencerminkan pertarungan antara sentimen jangka pendek dan realitas struktur rights issue. Penyesuaian harga bersifat teknis, sementara prospek bisnis tetap bergantung pada keberhasilan ekspansi infrastruktur digital.

Bagi investor, kunci keputusan adalah:

  • Memahami risiko dilusi
  • Menentukan strategi menebus HMETD atau tidak
  • Menyesuaikan investasi dengan profil risiko dan tujuan jangka panjang

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(Adam Nugroho/AM)

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.​