
Bareksa - Setiap investor punya gaya yang berbeda. Ada yang agresif memburu peluang di saham, ada yang konservatif menjaga nilai dana, dan ada pula yang moderat mencari keseimbangan di tengah keduanya. Namun di balik perbedaan itu, hampir semua investor memiliki kebutuhan yang sama: sebuah instrumen investasi yang mampu menjaga stabilitas portofolio.
Apalagi, akhir-akhir ini banyak sentimen yang terjadi di pasar keuangan, mulai dari pengumuman MSCI yang sempat membuat IHSG terkoreksi hingga -19% dari titik tertinggi dan juga keputusan Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif (sebelumnya stabil).
Itulah kenapa dibutuhkan instrumen investasi yang bisa menjadi ‘fondasi’ (Core) untuk menopang portofolio di berbagai kondisi pasar, tapi juga mengoptimalkan potensi imbal hasil. Di sinilah Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A (SSFIF) mampu menjawab kedua tujuan tersebut.
Dalam praktik pengelolaan portofolio, terdapat konsep core–satellite.
Core berfungsi menjaga keseimbangan dan stabilitas.
Satellite digunakan untuk mengejar pertumbuhan agresif.
Untuk memenuhi peran ini, SSFIF menjadi instrumen yang sesuai. Pasalnya, SSFIF berfokus pada Sukuk Korporasi yang berkualitas, SBN Syariah yang merupakan risk free asset serta Instrumen Pasar Uang Syariah sebagai liquidity tool.
Per 4 Februari 2026, SSFIF mencatatkan return 8,85% dalam setahun dan sejak peluncuran sebesar 16,2%. Worth to note, sejak produk ini ‘lahir’ pada Januari 2024, penurunan bulanan terbesar hanya -0,01% yang terjadi pada Januari 2024.
Kinerja tersebut mencerminkan pendekatan investasi yang sangat prudent namun konsisten dengan tujuan utamanya sebagai penjaga stabilitas portofolio sekaligus mengoptimalkan perkembangan aset
Kinerja NAB Reksa Dana 1 Tahun
Sumber: Bareksa, data per 4 Februari 2026
Per 30 Januari 2026, portofolio SSFIF berisikan obligasi korporasi dan sukuk negara dengan blended duration masih di kisaran sekitar 2 kali, untuk menjaga volatilitas tetap rendah.
Melansir Fund Fact Sheet (FFS) per Januari 2026, sejumlah sukuk korporasi yang masuk dalam portofolio di antaranya:
SMINKP04CN5
SMBBMA01CCN2
SMOPPM02ACN2
SMPIDL01CN3
Selain itu, beberapa Surat Berharga Negara Syariah (Project Based Sukuk/PBS), yang ada dalam portofolio reksa dana ini antara lain:
PBS003
PBS030
PBS032
PBS040
PBS merupakan instrumen syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan digunakan untuk pembiayaan proyek negara. Karakteristik ini menjadikannya instrumen dengan risiko sangat rendah, sekaligus cocok sebagai tulang punggung portofolio pendapatan tetap. Keberadaaan SBN Syariah dalam portofolio ini memperkuat peran reksa dana sebagai core investment yang mengutamakan keamanan dan stabilitas.
Selain itu, dalam portofolio terdapat pula instrumen pasar uang syariah seperti Deposito Bank Aladin Syariah dan Deposito CIMB Niaga Syariah. Kombinasi ini membantu menjaga likuiditas portofolio, sekaligus memberi fleksibilitas dalam pengelolaan dana di tengah dinamika pasar.
Dengan karakter portofolio seperti ini, SSFIF cocok untuk berbagai profil investor:
Investor agresif: sebagai penyeimbang portofolio saham agar volatilitas lebih terkontrol.
Investor moderat: sebagai sumber return dengan risiko terukur.
Investor konservatif: sebagai alternatif investasi syariah yang lebih produktif dibandingkan menyimpan dana di cash.
Dalam investasi, keputusan yang agresif tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang agresif pula. Di tengah berbagai ketidakpastian, memiliki core investment dapat menjaga stabilitas kinerja portofolio.
Dengan portofolio di instrumen obligasi syariah, baik korporasi dan dan negara, SSFIF sebagai solusi investasi syariah yang mengutamakan kualitas, ketenangan, dan konsistensi. Mulai investasi SSFIF di Bareksa dengan modal terjangkau, mulai dari Rp100.000 saja.
Beli Syailendra Sharia Fixed Income Fund
(ADV | hm)
* * *
DISCLAIMER
Konten bersponsor. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksa dana.