
Bareksa - Dua reksadana saham di Super App Investasi Bareksa mampu mencetak imbal hasil 2,89% dan 2,13% sehari pada Selasa (20/01/2026). Reksadana itu ialah TRIM Syariah Saham dan Simas Danamas Saham. Lonjakan kinerja karena saham emiten emas masuk dalam top portofolionya, seiring lonjakan harga logam kuning didorong sentimen gejolak pasar modal akibat kebijakan perang dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan memanasnya geopolitik global.
TRIM Syariah Saham yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management, mencetak imbal hasil (return) 2,89% dalam sehari pada (20/01/2026). Menurut fund fact sheet periode Desember 2025, portofolio investasi reksadana ini adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), obligasi SBSN Seri PBS004, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), dan PT Raja Energi Cepu Tbk (RATU).
Sedangkan Simas Danamas Saham yang dikelola oleh PT Sinarmas Asset Management, mencetak imbal hasil 2,13% dalam sehari (20/01/2026). Menurut fund fact sheet periode Desember 2025, portofolio investasi reksadana ini adalah saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Bank Ocbc Nisp Tbk (NISP), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Beberapa saham terkait emas yang melesat dalam portofolio dua reksadana tersebut di antaranya ANTM, BRMS dan ARCI.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (20/01/2026) naik 0,01% ke level 9.134,7. Berdasarkan data CNBC Indonesia, ekspektasi imbal hasil (yield) acuan Obligasi Negara Indonesia 10 tahun tercatat tetap di level 6,328% pada Selasa (20/01/2026) pukul 08.51 WIB.
Berikut kinerja reksadana yang tersedia di super app investasi atau aplikasi reksadana terbaik Bareksa dengan nilai Barometer tertinggi, beserta kinerja imbal hasilnya sebulan terakhir (per 20 Januari 2026) :
IHSG : 6,1%
Indeks Reksadana Saham : 6,91%
Sucorinvest Maxi Fund : 11,27%
Indeks Reksadana Saham Syariah : 6,86%
Sucorinvest Sharia Equity Fund : 9%
Indeks Reksadana Campuran : 3,8%
Sucorinvest Anak Pintar : 9,31%
Indeks Reksadana Campuran Syariah : 3,77%
Schroder Syariah Balanced Fund : 5,21%
Indeks Reksadana Pendapatan Tetap : 0,02%
Trimegah Dana Obligasi Nusantara : 0,56%
Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Syariah : 0,18%
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 0,24%
Benchmark :
- Bunga deposito sebelum pajak dengan dana kurang dari Rp100 juta dan tenor satu bulan :
> BCA : 0,258% per bulan
> Bank Mandiri : 0,292% per bulan
> BNI : 0,354% per bulan
> BRI : 0,396% per bulan
Indeks Reksadana Pasar Uang : 0,35%
Setiabudi Dana Pasar Uang : 0,43%
Indeks Reksadana Pasar Uang Syariah : 0,34%
Syailendra Sharia Money Market Fund : 0,39%
Reksa Dana Indeks Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 3,59%
BRI Indeks Syariah : 4,78%
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksa dana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksa dana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Reynaldi Gumay/AM)
***
Disclaimer:
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.