Dana Kelolaan Reksadana Awal Desember Tembus Rp573,7 Triliun, Bakal Tembus Rekor Baru?

Rekor tertinggi dana kelolaan reksadana sampai saat ini masih dicatatkan pada Desember tahun lalu
Abdul Malik • 14 Dec 2021
cover

Ilustrasi dana kelolaan dan investasi reksadana yang terus bertumbuh. (Shutterstock)

Bareksa.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan reksadana mencapai Rp573,77 triliun hingga 6 Desember 2021. Nilai ini meningkat 0,04 persen dari akhir 2020 yang mencapai Rp573,54 triliun.

Jika nilai ini bertahan atau bahkan terus bertambah hingga akhir tahun 2021, maka akan menjadi rekor tertinggi baru bagi industri reksadana. Untuk diketahui, rekor tertinggi dana kelolaan reksadana sampai saat ini masih dicatatkan pada Desember tahun lalu.

Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal OJK Lutfhi Zain Fuady menjelaskan, industri reksadana masih bisa membukukan pertumbuhan nilai aktiva bersih, meski jumlah produk reksadana berkurang.

"Hingga 6 Desember 2021, jumlah produk reksadana mencapai 2.197 produk atau menurun 0,99 persen dari akhir 2020 yang mencapai 2.219 produk reksadana," jelas Lutfhi Selasa, (14/12).

Sesuai jenis, produk reksadana terproteksi mendominasi produk reksadana yakni sebanyak 843 reksadana terproteksi. Kemudian, produk terbanyak lainnya adalah reksadana pendapatan tetap, yakni mencapai 320 produk, reksadana saham 274 produk, reksadana pasar uang 202 produk dan sisanya jenis produk lainnya.

Ditopang Lonjakan Jumlah Investor

Peningkatan nilai aktiva bersih ini juga seiring dengan pertumbuhan jumlah investor pasar modal. Hingga 3 Desember 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 7,19 juta orang atau meningkat 85,31 persen dari akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang. 

​Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah Investor reksadana hingga 3 Desember 2021 mencapai 6,54 juta orang atau bertumbuh 106,03 persen dari akhir 2020 yang mencapai 3,17 juta orang.

Kemudian, investor saham mencapai 3,32 juta orang atau bertumbuh 96,37 persen dari akhir 2020 yang mencapai 1,69 juta orang. Terakhir, investor Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 603,65 ribu orang atau bertumbuh 31,12 persen dari akhir 2020 yang mencapai 460,37 ribu orang.

"Dari total 7,19 juta orang tersebut, sekitar 73,04 persen atau 5,25 juta orang memiliki rekening di selling agent fintech," tulis KSEI.

Jumlah investor pasar modal per November 2021

Sumber : KSEI

Dilihat dari demografinya, investor laki-laki mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni 62,45 persen. Sedangkan investor perempuan mencapai 37,55 persen.

Dari sisi usia, investor berusia 30 tahun ke bawah mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni mencapai 59,81 persen. Namun dari sisi aset, investor berusia 60 tahun ke atas mendominasi aset pasar modal, yakni mencapai Rp400,31 triliun.

Lalu, dari sisi pekerjaan, pegawai negeri dan swasta mendominasi jumlah investor pasar modal, yakni sebesar 33,12 persen. Disusul kemudian pelajar sebanyak 27,59 persen dan pengusaha 14,47 persen.

Sedangkan dari sisi aset, investor yang berprofesi sebagai pengusaha menguasai aset pasar modal hingga Rp256,22 triliun.

Kemudian, investor yang berpendidikan SMA mendominasi jumlah investor pasar modal yakni 57,85 persen, disusul kemudian investor yang berpendidikan S1 sebanyak 31,7 persen. Sementara itu, investor yang berpenghasilan Rp10-100 juta mendominasi jumlah investor sebanyak 52,62 persen, namun aset terbanyak dipegang oleh investor dengan penghasilan di atas Rp1 miliar, yakni mencapai Rp145,74 triliun.

Dilihat dari sebaran wilayah, investor pasar modal masih terpusat di Pulau Jawa, yakni sebanyak 69,87 persen dengan nilai aset sebesar Rp3.030,04 triliun. Investor di wilayah Maluku dan Papua menjadi investor paling sedikit, yakni mencapai 0,95 persen dengan nilai aset Rp2,42 triliun.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.