Bareksa Update : Varian Baru Covid-19 Tekan Pasar, Ini yang Harus Dilakukan Investor

Keyakinan investor terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang masih cukup tinggi diproyeksikan mampu mendorong penguatan pasar obligasi di masa mendatang
Abdul Malik • 29 Nov 2021
cover

Ilustrasi varian baru Covid-19 yang menjadi sentimen negatif bagi kinerja pasar saham, obligasi atau SBN dan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar obligasi terlihat masih cukup stabil ditengah isu varian baru Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian B.1.1.529 ini sebagai Omicron.

Omicron, yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan, disebut-sebut sebagai varian yang memiliki banyak strain atau mutasi. Jumlahnya melebihi strain dari varian Alpha, Beta, hingga Delta yang masih mendominasi saat ini. Varian baru ini juga sudah ditetapkan WHO sebagai Variant of Concern (varian yang menjadi perhatian).

Meski mendapatkan sentimen munculnya varian baru Covid-19 tersebut, menurut analisis Bareksa, pergerakan tingkat imbal hasil (yield) obligasi acuan Pemerintah Indonesia yang fluktuasinya masih rendah. Kondisi itu membuat kinerja reksadana pendapatan tetap yang cenderung stagnan.

Keyakinan investor terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang masih cukup tinggi diproyeksikan mampu mendorong penguatan pasar obligasi di masa mendatang.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 26/11/2021 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat naik ke level 6,2 persen, pada 26 November 2021.

Sementara itu, akhir pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun cukup signifikan karena terseret pelemahan bursa saham global akibat varian baru Covid-19 yang saat ini sudah terdeteksi di beberapa Negara.

Hal ini turut mengakibatkan penurunan kinerja reksadana berbasis saham seperti reksadana saham, reksadana campuran dan reksadana indeks. Diperkirakan hari ini IHSG masih ada kemungkinan bergerak melemah dan investor sebaiknya wait and see (menanti) hingga penurunan IHSG mulai mereda.

IHSG pada 26 November 2021 turun 2,06 persen ke level 6.561,55. 

Saran Buat Investor Reksadana

Di tengah sentimen ancaman varian baru Covid-19 yang mengakibatkan pasar saham tertekan dan obligasi stagnan, investor dengan profil risiko agresif yang berinvestasi di reksadana berbasis saham bisa wait and see (menanti) terlebih dahulu menunggu kondisi pasar lebih stabil.

Adapun investor dengan profil risiko moderat yang berinvestasi di reksadana pendapatan tetap, bisa segera untuk berinvestasi karena pasar Surat Berharga Negara (SBN) biasanya menguat menjelang akhir tahun.

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran yang memiliki catatan kinerja optimal dan bisa dipertimbangkan adalah seperti berikut ini :

Imbal Hasil 3 Tahun (per 26 November 2021)

Reksadana Pendapatan Tetap

Sucorinvest Bond Fund : 40,02 persen
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A : 29,91 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 26 November 2021)

Reksadana Saham

Manulife Saham Andalan : 38,02 persen
Sucorinvest Equity Fund : 13,23 persen

Reksadana Campuran

Jarvis Balanced Fund : 80,42 persen
Syailendra Balanced Opportunity Fund : 25,85 persen

Peristiwa Penting yang Diperhatikan Investor

Di tengah fluktuasi pasar akibat varian baru Covid-19, beberapa peristiwa penting yang diperhatikan investor yang diprediksi mempengaruhi pasar saat ini adalah :

1. Net sell asing

Bank Indonesia mencatat selama pekan lalu ada aksi jual oleh investor asing senilai Rp1,29 triliun di mana aksi jual terbesar masih terjadi pada pasar obligasi senilai Rp1,77 triliun.

Sedangkan untuk pasar saham investor asing masih melakukan aksi beli dengan mencatatkan pembelian bersih RpR480 miliar. Secara tahun berjalan atau sepanjang 2021 hingga 26 November, aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan dalam negeri mencapai Rp18,59 triliun.

2. Ekonomi China

Republik Rakyat Tiongkok mengumumkan keuntungan perusahaan manufaktur tumbuh lebih tinggi dibandingkan pada bulan Oktober meningkat 24,3 persen dibandingkan pada September 2021 yang hanya naik 16,3 persen.

Hal tersebut menjadi angin segar bagi perekonomian Negara Panda mengingat selama beberapa bulan terakhir mengalami kenaikan harga energi yang signifikan dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung datar.

Menurut analisis Bareksa, dengan adanya kenaikan tersebut, maka kenaikan harga energi dan rantai pasokan barang di Negara Tirai Bambu tidak terganggu secara signifikan.

Hal tersebut diharapkan mampu menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi dunia mengingat Republik Rakyat Tiongkok memegang peranan penting dalam rantai pasokan global.

(Sigma Kinasih/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.