MAMI : Begini Strategi Investasi Reksadana Jelang Akhir 2021

Investor bisa masuk atau menambah porsi kepemilikannya di reksadana pendapatan tetap maupun reksadana saham
Abdul Malik • 11 Oct 2021
cover

Ilustrasi perempuan investor sedang memantau perkembangan pasar saham, SBN dan reksadana, termasuk SBN Ritel seri SBR010 melalui gadget miliknya dan sedang bersiap untuk investasi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Tahun ini tinggal tersisa dua bulanan lagi. Bagaimana potensi pasar dan peluang investasi jelang akhir tahun?

Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menyampaikan pandangannya dalam laporan bertajuk 'Optimisme Pasar dan Peluang Investasi Jelang Akhir Tahun,' akhir pekan lalu.

Freddy mengatakan Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama hampir dua tahun. Selama itu pula, pasar finansial cenderung bergerak dinamis. Memasuki kuartal akhir tahun 2021, ada beragam hal yang mendukung investor untuk tetap optimistis untuk meraih peluang investasi jelang akhir tahun, meski ada beberapa risiko yang perlu dicermati, baik dari sisi global maupun domestik.

Menurut Freddy, sinyal Fed tapering atau pengurangan stimulus dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sepertinya terlihat semakin jelas akan berlangsung di kuartal keempat 2021 ini. Kenaikan Fed Rate diproyeksikan akan maju lebih cepat dan terjadi pada 2022, menjadi 0,5 persen.

Saat bersamaan, perubahan juga terjadi pada target inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, yang disebabkan oleh disrupsi rantai pasokan global yang lebih persisten dari perkiraan.

Ia mencatat The Fed juga merevisi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 5,9 persen di 2021 sebagai dampak dari peningkatan kasus Covid-19 varian delta di Amerika Serikat (AS) pada kuartal ketiga 2021.

Meski begitu, pada 2022 aktivitas ekonomi diperkirakan akan lebih baik seiring dengan membaiknya kondisi pandemi, yang ditunjukkan oleh proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) AS di 2022 yang meningkat menjadi 3,8 persen dari semula 3,3 persen.

Sementara itu di kawasan Asia, seiring meredanya efek low base awal pandemi di 2020 yang membuat pertumbuhan ekonomi paruh pertama 2021 melonjak sangat tinggi, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia diperkirakan akan mengalami normalisasi di semester kedua 2021.

Sektor eksternal, yaitu ekspor, masih menjadi penopang, didukung oleh pemulihan global (terutama untuk permintaan barang elektronik seperti chip komputer).

Menurutnya yang juga menarik adalah valuasi pasar saham Asia. Setelah di paruh pertama sempat melonjak tinggi sejalan dengan lonjakan pertumbuhan ekonomi, valuasi pasar saham saat ini telah kembali turun berada di kisaran rata-rata 5 tahun.

Dia mengatakan itu level yang atraktif bagi investor. Terlebih lagi untuk kawasan ASEAN, inflasi yang masih rendah dan terkendali belum menimbulkan tekanan bagi bank sentral untuk melakukan pengetatan kebijakan. Kondisi ini tentunya suportif bagi pasar saham.

Pemulihan Aktivitas Ekonomi

Di sisi lain dia menilai penurunan angka kasus positif Covid-19 di dalam negeri serta vaksinasi yang semakin masif membuat pelonggaran aktivitas masyarakat dapat dilakukan dan potensi pemulihan ekonomi domestik semakin terbuka.

Ia mengatakan stabilitas makro ekonomi, terutama eksternal, yang terus diperkuat dapat memberikan dukungan yang baik untuk mengantisipasi Fed tapering dan menghadapi dinamika global yang walaupun berada dalam masa pemulihan tapi belum sepenuhnya stabil.

"Cadangan devisa yang meningkat, inflasi yang terkendali, dan pertumbuhan neraca perdagangan yang masih baik (didukung oleh permintaan dan harga komoditas), diharapkan dapat menjaga volatilitas rupiah jelang Fed tapering," kata Freddy.

Ia mengatakan beberapa indikator utama yakni indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, penjualan properti, dan sektor manufaktur, diperkirakan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, menyusul pelonggaran aktivitas di kuartal IV 2021.

Peluang Investasi Obligasi dan Saham

Freddy menilai pasar obligasi diperkirakan akan lebih kuat dalam menghadapi perubahan sentimen global. Pasar obligasi Indonesia (dengan selisih imbal hasil terhadap US Treasury yang masih lebar) membukukan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi rencana Fed tapering, di mana sepanjang tahun berjalan sampai akhir September indeks pasar obligasi Indonesia menguat 3,9 persen.

"Inflasi yang terkendali, pengelolaan fiskal yang baik, dan tingginya likuiditas domestik membantu penguatan pasar obligasi Indonesia yang diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun," kata dia.

Untuk pasar saham, ia melanjutkan, antusiasme dan optimisme para pelaku pasar terhadap pemulihan aktivitas domestik mulai terlihat pada pergerakan pasar saham domestik, di mana sepanjang tahun berjalan hingga akhir kuartal ketiga kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 5,1 persen.

Pemulihan sentimen yang ditopang oleh katalis positif seperti meningkatnya vaksinasi, kenaikan harga komoditas, stabilitas rupiah, dan perbaikan earnings perusahaan, diharapkan dapat mendorong pergerakan pasar saham Indonesia ke depannya.

"Investor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk atau menambah porsi kepemilikannya di reksadana pendapatan tetap maupun reksadana saham, disesuaikan dengan profil risiko masing-masing," ujar Freddy.

Produk Manulife AM

Sebagai gambaran, ia melanjutkan, reksadana Manulife Obligasi Unggulan Kelas A (MOU Kelas A) mampu memberikan imbal hasil 1 tahun 6,9 persen pada periode akhir September 2020 hingga akhir September 2021, melampaui tolok ukurnya (rata-rata bunga deposito 3 bulan net setelah pajak) yang sebesar 3,97 persen.

Pada periode yang sama, reksadana Manulife Saham Andalan (MSA) memberikan imbal hasil 1 tahun 74,79 persen, jauh melampaui tolok ukurnya (indeks IDX80) yang 21,05 persen.

"Menjelang akhir tahun, masih ada potensi pertumbuhan pada underlying asset reksadana. Silakan manfaatkan peluang yang ada dengan bijak," ujar dia.

(Martina Priyanti/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.