Asing Borong Saham Indonesia Rp2,68 Triliun Pekan I Juni, Reksadana Ini Juaranya

Abdul Malik • 07 Jun 2021

an image
Ilustrasi pasar saham yang meningkat dan berdampak pada kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

IHSG sepanjang pekan lalu mengakumulasi kenaikan 3,7 persen ditutup di level 6.065,16

Bareksa,com - Mengakhiri pekan pertama di Juni 2021 yang hanya berlangsung selama empat hari perdagangan, bursa saham Tanah Air langsung tancap gas dengan kenaikan yang terbilang signifikan.

Dalam sepekan perdagangan mulai dari 31 Mei hingga 4 Juni, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di tiga hari pertama perdagangan sebelum akhirnya terkoreksi di hari Jumat, di mana IHSG sepanjang pekan lalu mengakumulasi kenaikan 3,7 persen ditutup di level 6.065,16.

Di sisi lain, sepanjang pekan lalu investor asing juga terlihat bersemangat memborong aset berisiko Tanah Air yang tercermin dari adanya aksi beli bersih (net foreign buy) senilai Rp2,68 triliun di keseluruhan pasar.

Sepanjang pekan lalu, faktor internal maupun eksternal memang cukup mendukung pergerakan bursa saham domestik untuk mengarah ke zona hijau.

Dari dalam negeri, pemerintah menyatakan optimisme terkait pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksikan ekonomi akan mampu tumbuh mencapai 7,1 – 8,3 persen seiring pemulihan ekonomi yang semakin terlihat baik dari sisi produksi maupun permintaan.

Sementara dari eksternal, perkembangan positif datang dari luar negeri setelah Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) pada Jumat (28/5) melaporkan inflasi berbasis personal consumption expenditure (PCE) tumbuh lebih baik dari ekspektasi pasar. Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi bank sentral AS (The Fed).

Inflasi inti PCE dilaporkan tumbuh 3,1 persen secara tahunan pada April, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 1,8 persen. Angka tertinggi sejak Juli 1992 ini juga melibas hasil survei Reuters terhadap ekonomi yang memprediksi angka 2,9 persen. Hal ini mengindikasikan ekonomi AS yang 60 persen lebih ditopang konsumsi masih menguat, terutama berkat suntikan stimulus.

Namun demikian laju reli cenderung melambat, hingga berakhir koreksi pada Jumat, setelah data ketenagakerjaan AS tercatat lebih baik dari ekspektasi pasar, sehingga memicu kekhawatiran bahwa The Fed bakal segera mengerem kebijakan moneter.

Kebijakan itu dikhawatirkan memicu taper tantrum, di mana investor global menarik dananya di pasar saham negara berkembang karena The Fed mengurangi aksi gelontoran likuiditasnya. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS kembali menawarkan imbal hasil tinggi seiring kenaikan inflasi, sehingga menjadi lebih menarik bagi pada investor global.

Reksadana Saham Dominasi Return Mingguan Tertinggi

Kondisi pasar saham Indonesia yang menguat cukup signifikan pada pekan lalu, tentu secara umum ikut mendorong kinerja reksadana yang berbasis ekuitas.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah kompak menorehkan kenaikan masing-masing 3,12 persen dan 2,36 persen.

Sumber: Bareksa

Sementara itu jika dilihat lebih rinci, berdasarkan reksadana yang tersedia di Bareksa, produk reksadana saham memang terlihat mendominasi return mingguan tertinggi pada pekan lalu.

Berikut top 10 reksadana yang berhasil mencatatkan kenaikan kinerja dengan imbal hasil (return) tertinggi pada pekan lalu.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat top 10 reksadana dengan return (imbal hasil) tertinggi di Bareksa pada pekan lalu dikuasai oleh produk reksadana saham sebanyak 6 produk, sementara 4 lainnya merupakan produk reksadana indeks & ETF yang memang juga pergerakannya mencerminkan indeks saham acuannya.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.