Para Kartini Pemimpin Manajer Investasi Teratas Tanah Air, Siapa Saja?

Abdul Malik • 21 Apr 2021

an image
Ilustrasi peringatan Hari Kartini. Perusahaan manajemen investasi teratas di Tanah Air juga dipimpin oleh perempuan. (Shutterstock)

Peran perempuan kian menonjol, bahkan memimpin perusahaan manajer investasi teratas di Tanah Air

Bareksa.com - Kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki telah merambah berbagai bidang, termasuk industri manajemen investasi. Tampak, peran perempuan kian menonjol dan bahkan memimpin perusahaan manajer investasi teratas di Tanah Air. ​

Perusahaan manajer investasi terbesar Tanah Air, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia misalnya saat ini dipimpin oleh perempuan yakni Afifa sebagai direktur utamanya. Kemudian PT Bahana TCW Investment Management sebagai perusahaan manajemen investasi terbesar ketiga juga dipimpin Rukmi Proborini.

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen yang juga merupakan MI terbesar keempat Tanah Air juga dipimpin oleh perempuan yakni Lilis Setiadi sebagai direktur utama. Selanjutnya Paula Rianty Komarudin menjabat sebagai Direktur Utama PT Ciptadana Asset Management, serta PT Surya Timur Alam Raya (STAR) Asset Management saat ini juga dipimpin oleh Reita Farianti, perempuan yang sebelumnya menjabat CEO PT BNI Asset Management.

Bagaimana kiprah para kartini masa kini tersebut di industri menajemen investasi Tanah Air? Berikut ulasannya :

1. Afifa, CEO PT Manulife Aset Manajemen Indonesia​

Afifa, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI). (Dok. Manulife)

Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengumumkan penunjukan Afifa sebagai Presiden Direktur yang baru pada 9 Maret lalu, berdasarkan keputusan para pemegang saham. Afifa resmi diangkat per 25 Februari 2021. Saat ini, Afifa juga menjabat Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII).

Afifa yang bergabung dengan Manulife AM sejak Desember 2011 tersebut, sebenarnya sejak tahun lalu telah menjabat sebagai Interim President Director MAMI menggantikan Legowo Kusumonegoro yang kini berganti peran menjadi Penasihat untuk Manulife Wealth and Asset Management Indonesia.

Memiliki pengalaman lebih dari 23 tahun di industri pasar modal Indonesia, Afifa meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Bina Nusantara dan memiliki izin Wakil Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan sejak 23 Juli 2001.

Sebelum menjabat sebagai Presiden Direktur,  Afifa adalah Director & Chief Distribution Officer MAMI. Ia bertanggung jawab menangani tim Institutional Sales, Partnership Distribution, Digital and Wealth Specialist di MAMI.

Di bawah kepemimpinan Afifa, Manulife AM tercatat sebagai perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia dari sisi dana kelolaan reksadana sejak Desember 2020 hingga Maret 2021, atau juara dalam empat bulan berturut-turut.

MAMI mencatatkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) meningkat 30 persen menjadi Rp97,2 triliun pada Desember 2020. Sedangkan dana kelolaan reksadana MAMI meroket 66,2 persen atau bertambah Rp19,7 triliun menjadi Rp49,4 triliun pada Desember 2020.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2021 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan pada Maret 2021, Manulife AM menggenggam dana kelolaan reksadana Rp52,17 triliun dengan pangsa pasar 9 persen.

Kelolaan reksadana terbuka MAMI bulan lalu naik 1 persen secara bulanan, meningkat 6 persen sepanjang tahun berjalan (YtD) dan terbang 89 persen secara tahunan (YoY). Manulife AM jadi satu-satunya MI Tanah Air yang memiliki dana kelolaan reksadana terbuka di atas Rp50 triliun.

2. Rukmi Proborini, CEO PT Bahana TCW Investment Management

Rukmi Proborini, Direktur Utama Bahana TCW Investment Management. (dok. Bahana TCW)

Posisi Rukmi Proborini menjadi Direktur di Bahana TCW Investment Management, pertama kali diumumkan pada Januari 2021. Sebenarnya pergantian pucuk pimpinan Bahana TCW terjadi jelang akhir tahun lalu yakni awal November 2020, dari Edward P Lubis kepada Rukmi yang semula menjabat Direktur Pemasaran & Produk Bahana TCW.

Edward kemudian dimutasi menjadi Direktur Utama PT Bahana Sekuritas, yang merupakan broker anggota bursa afiliasi dari manajer investasi tersebut.

Rukmi yang sudah berkiprah di Bahana lebih dari 15 tahun tersebut memiliki pengalaman di bidang international banking selama 9 tahun, 6 tahun di PT Bahana Securities menangani transaksi pasar modal seperti penerbitan saham dan obligasi, privatisasi dan strategic sales serta advisory services dan 11 tahun di manajemen investasi menangani marketing dan product development.

Dia memperoleh gelar MSc dengan jurusan International Securities and Banking dari University of Reading, UK dan MBA dari University of Edinburgh, UK serta memegang lisensi Wakil Manajer Investasi dari Bapepam dengan surat keputusan nomor KEP-23/PM/WMI/2006 dan mendapat perpanjangan izin Wakil Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. KEP-369/PM.211/PJ-WMI/2019.

Di bawah kepemipinan Rukmi, Bahana TCW pada Maret 2021 membukukan kelolaan reksadana senilai Rp46,91 triliun dan market share 8 persen, naik 3 persen MoM dan YtD dan melesat 23 persen YoY. Bahana TCW masuk peringkat 3 besar, atau naik 1 peringkat dibandingkan Februai 2021 yang berdada di posisi 4.

Secara total dana kelolaan, tidak hanya kelolaan reksadana terbuka, tahun lalu Bahana TCW membukukan Rp51,8 triliun. Tahun ini Rukmi menargetkan perseroan bisa mencapai total kelolaan Rp55 triliun.

3. Lilis Setiadi, CEO PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen

Lilis Setiadi, Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen. (dok. Batavia PAM)

Lilis Setiadi menjadi orang nomor satu di Batavia Prosperindo Aset Manajemen sejak Juli 2009 hingga saat ini atau sudah lebih dari 11 tahun 10 bulan. Perempuan yang memiliki lebih dari 24 tahun pengalaman dalam industri keuangan, yang mencakup perbankan dan pengelolaan investasi itu sebelumnya juga menjabat sebagai Director of Mutual Funds Sales di PT Schroders Investment Management Indonesia dan Head of Sales, Global Securities Services di Deutsche Bank AG Jakarta.

Lulusan Oklahoma State University itu menjabat Director of Mutual Funds Sales di Schroders Indonesia pada 2003-2008 atau selama 5 tahun, kemudian di Deutsche Bank AG pada 1999-2003 atau selama 4 tahun.

Di bawah kepemimpinan Lilis, Batavia PAM menjadi MI juara kelolaan reksadana pada 2020 sebanyak enam kali atau dalam enam bulan.

Untuk diketahui, kelolaan reksadana yang dijual kepada publik Batavia PAM pada Desember 2020 senilai Rp46,54 triliun, naik 3 persen secara bulanan (MoM), namun melemah 1 persen sepanjang tahun berjalan (YtD) dan secara tahunan (YoY).

Kemudian pada Januari 2021, kelolaan reksadana open end Batavia sedikit meningkat jadi Rp46,79 triliun, atau naik 1 persen secara bulanan dan sepanjang tahun berjalan, namun masih melemah 1 persen secara tahunan. Tekanan pada kelolaan reksadana Batavia utamanya akibat gejolak pasar terdampak pandemi Covid-19.

Pada Maret 2021 Batavia PAM mencatatkan kelolaan reksadana Rp45,9 triliun atau menurun jika dibandingkan Februari 2021 yang senilai Rp46,96 triliun. Perseroan menargetkan dana kelolaan tahun ini mencapai Rp60 triliun, atau meningkat dibandingkan Desember 2020 yang mendekati Rp50 triliun.

4. Paula Rianty Komarudin, CEO PT Ciptadana Asset Management

Paula Rianty Komarudin, Direktur Utama Ciptadana Asset Management (Bareksa/AM)

Paula Rianty Komarudin menjabat sebagai Direktur Utama PT Ciptadana Asset Management sejak Juni 2016 hingga saat ini atau sudah hampir 5 tahun terakhir. Sebelumnya Paula menjabat Direktur Marketing and Operation selama 6 tahun lebih pada Mei 2020 hingga Juni 2016, setelah 4 tahun lebih menjabat sebagai Direktur Marketing di perusahaan yang sama.

Perempuan lulusan Graham Business School, Saint Xavier University, Amerika Serikat ini sebelumnya sempat berkiprah di Manulife Aset Manajemen Indonesia sebagai Head of National Sales selama 9 tahun pada 2001-2010. Paula memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang pasar modal dan industri keuangan.

Di bawah kepemimpinannya, kelolaan reksadanaCiptadana sempat mencapai Rp4,69 triliun pada Januari 2018. Namun pada Maret 2021, kelolaan reksadananya menurun jadi Rp2,73 triliun. 

5. Reita Farianti, CEO PT Surya Timur Alam Raya (STAR) Asset Management

Reita Farianti, Presiden Direktur STAR Asset Management (Dok pribadi)

Reita Farianti menjabat sebagai Presiden Direktur PT STAR Asset Management sejak Oktober 2020 hingga saat ini. Sebelumnya perempuan lulusan Executive Program Global Leadership INSEAD ini juga menjabat sebagai orang nomor satu di PT BNI Asset Management dan PT CIMB Principal Asset Management.

Reita sebelumnya juga pernah berkarir sebagai Managing Director di PT Lippo Securities Tbk, Marketing Director di PT Ciptadana Asset Management, National Sales Division Head di PT Trimegah Securities Tbk, hingga VP Branch Manager PT Lippo Bank Tbk Cabang Bura Efek Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya, STAR AM menggenggam dana kelolaan reksadana Rp1,9 triliun pada Februari 2021, namun kemudian sedikit menurun pada Maret 2021 jadi Rp1,76 triliun.

Sewaktu menjabat CEO BNI AM periode Juni 2014 hingga Juli 2020, dengan tangan dinginnya BNI AM yang awalnya hanya memiliki dana kelolaan reksadanasekitar Rp5,25 triliun pada Juni 2014, di akhir kepemimpinannya telah melesat jadi Rp22,2 triliun pada Juli 2020. Reita memiliki pengalaman di bidang pasar modal dan industri jasa keuangan lebih dari 20 tahun.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.