Begini Naik Turunnya Kelolaan Reksadana Kuartal I 2021 Jadi Rp565 Triliun

Abdul Malik • 09 Apr 2021

an image
Ilustrasi kenaikan dan penurunan investasi dan dana kelolaan reksadana. (Shutterstock)

Secara bulanan kelolaan reksadana Maret turun 1 persen atau berkurang Rp5,8 triliun

Bareksa.com - Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2021 menyebutkan dana kelolaan reksadana pada Maret 2021 turun 1,34 persen atau berkurang Rp7,4 triliun jadi Rp565,9 triliun, jika dibandingkan Desember 2020 atau sepanjang tahun berjalan (YtD).

Sepanjang kuartal I tahun ini kelolaan reksadana ini naik turun. Pada Feburuari 2021, kelolaan reksadana tercatat Rp571,7 triliun dan Januari Rp571,2 triliun. Dengan begitu, secara bulanan (MoM) kelolaan reksadana Maret turun 1 persen atau berkurang Rp5,8 triliun.

Namun jika dilihat secara tahunan kelolaan reksadana Maret 2021 naik 20 persen dibandingkan Maret 2020. Untuk diketahui nilai kelolaan reksadana Maret 2020 merupakan level yang terendah tahun lalu, terdampak gejolak pasar akibat pandemi Covid.

Dana kelolaan industri reksadana pada Maret 2020 atau kuartal I tahun lalu tercatat Rp471,4 triliun atau berada di bawah angka Rp500 triliun. Nilai itu anjlok hingga 13,05 persen YtD. Maret tahun lalu merupakan waktu terjadinya peristiwa market crash yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun dalam.

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2021

Jika dilihat sepanjang Maret saja, nilai kelolaan reksadana juga naik turun. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 5 Maret 2021 atau merupakan pekan I bulan lalu kelolaan reksadana nasional tercatat Rp578,4 triliun.

Kemudian nilainya melesat jadi Rp582,37 triliun per 23 Maret atau merupakan pekan kedua. Kemudian di pekan ketiga sedikit turun jadi Rp581,64 triliun per 19 Maret 2021, yang akhirnya pada penutupan bulan Maret atau yang merupakan pekan kelima anjlok jadi Rp565,9 triliun.

Kinerja Unit Penyertaan dan Produk Reksadana

Turunnya kelolaan seiring stagnasi jumlah unit penyertaan reksadana. Pada Maret 2021, unit penyertaan reksadana tercatat 433,6 miliar unit atau melemah 0,36 persen secara YtD, stagnan secara bulanan dan naik 6 persen secara tahunan (YoY).

Padahal sebenarnya jumlah produk reksadana pada Maret 2021 naik 0,5 persen YtD atau bertambah 13 produk jadi 2.283 reksadana, dibandingkan Desember 2020 yang sebanyak 2.270 produk reksadana.

​Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2021​

Hampir semua jenis reksadana mengalami tekanan dana kelolaan. Secara bulanan pada Maret 2021, kelolaan reksadana campuran paling tertekan atau turun hingga 3 persen, disusul reksadana pasar uang, indeks dan exchange traded fund (ETF) masing-masing minus 2 persen, reksadana pendapatan tetap berkurang 1 persen, serta reksadana saham dan terproteksi stagnan 0 persen.

Secara YtD, kelolaan ETF Maret 2021 anjlok hingga 8 persen atau merupakan yang terdalam, kemudian disusul reksadana campuran negatif 4 persen, reksadana pasar uang minus 3 persen, serta reksadana terproteksi berkurang 2 persen.

Adapun kelolaan reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap stagnan. Namun kelolaan reksadana indeks justru melonjak 6 persen YtD pada Maret 2021.

Secara tahunan (YoY), kelolaan reksadana indeks melonjak 59 persen, reksadana pasar uang melesat 51 persen, reksadana saham 37 persen,  ETF 28 persen, reksadana pendapatan tetap bertambah 23 persen dan kelolaan reksadana campuran naik 4 persen pada Maret 2021.

Adapun penurunan secara YoY diicatatkan reksadana terproteksi yang kelolaannya anjlok 6 persen secara YoY.

Kinerja IHSG dan Indeks Reksadana

Menutup perdagangan terakhir di kuartal I 2021, bursa saham Tanah Air mengalami turbulensi sangat parah hingga ditutup di bawah level psikologis 6.000. Pada perdagangan Rabu (31/3/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,42 persen ke level 5.985,52.

Di sisi lain, investor juga terlihat berlomba-lomba melepas aset berisiko mereka yang tercermin dari masifnya aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp1,03 triliun di pasar reguler.

Anjloknya IHSG disebabkan adanya kombinasi sentimen negatif yang terjadi secara berbarengan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sentimen negatif dari dalam negeri muncul dari wacana pengurangan investasi saham dan reksadana oleh BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).

Sementara dari luar, risiko capital outflow juga muncul akibat tekanan jual seiring dengan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun ke posisi tertinggi selama 14 bulan yakni di atas level 1,7 persen.

Kinerja indeks saham kebanggaan Indonesia tersebut sepanjang tiga bulan pertama tahun ini hanya mencatatkan pertumbuhan 0,11 persen. Seiring gejolak di pasar saham, mayoritas kinerja indeks reksadana membukukan kinerja negatif. Berdasarkan data Bareksa, tercatat 6 dari 8 indeks reksadana mencatatkan kinerja negatif.

Penurunan kinerja terdalam dicatatkan indeks reksadana saham syariah yang minus hingga 5,36 persen, kemudian disusul indeks reksadana saham negatif 4 persen, indeks reksadana pendapatan tetap berkurang 2,19 persen, indeks reksadana campuran tertekan 1,78 persen. indeks reksadana pendapatan tetap syariah melemah 1,39 persen dan indeks reksadana campuran syariah -1,06 persen.

Hanya ada dua indeks reksadana yang membukukan kinerja positif yakni indeks reksadana pasar uang meningkat 0,82 persen dan indeks reksadana pasar uang syariah yang naik 0,75 persen.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2021. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

(Tim Data/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.