Asosiasi Dana Pensiun Minta Manajer Investasi Jaga Kepercayaan Investor

Abdul Malik • 05 Apr 2021

an image
Ilustrasi menyiapkan dana pensiun dengan investasi di reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Manajer investasi diminta membuka saja semua portofolio yang ada di produknya supaya ada transparansi

Bareksa.com - Berkembangnya industri reksadana di tengah pandemi Covid-19 patut disyukuri oleh semua pihak. Namun, perkembangan ini tidak bertahan lama apabila pelaku industri tidak menumbuhkan kepercayaan investor.

Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri, menjelaskan perkembangan industri reksadana selama pandemi Covid-19 lebih banyak ditopang oleh investor ritel. Sementara portofolio investor dana pensiun di reksadana menurun pada 2020 menjadi 5,16 persen terhadap total investasi.

Menurut Suheri, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pertama adalah adanya traumatis di sisi investor institusi yang bisa menjadi pekerjaan rumah bagi pelaku industri untuk berbenah diri.

Kemudian hal kedua, adalah soal transparansi terkait portofolio yang ada di produk reksadana. Menurut Suheri, sebaiknya manajer investasi membuka saja semua portofolio yang ada di produknya supaya ada transparansi.

"Ini menjadi fenomena yang perlu diperhatikan karena jangan sampai investor merasa kecewa dan sulit untuk percaya lagi," ucap dia di Jakarta belum lama ini.

Trauma Investor

Di lain pihak, Direktur PT Infovesta Utama Parto Karwito berpendapat, pelaku industri memang harus memperhatikan trauma yang diderita investor akibat kasus reksadana yang terjadi pada 2018 silam. Trauma ini bukan menimpa investor ritel, namun investor matang yang memiliki lebih banyak uang. 

Kendala tidak hanya terjadi pada sisi investor yang matang, namun juga investor milenial. Pasalnya, investor milenial yang sempat mendapatkan keuntungan sekitar 50 persen di saat pasar modal berada dalam tahap pemulihan bisa menimbulkan ekspektasi yang keliru.

"Kalau tahun ini bisa untung 40-50 persen, dan tahun depan tidak setinggi itu, mereka bisa kecewa dan kapok sehingga berpaling ke investasi lain," terang dia.

Pertumbuhan industri sejauh ini juga masih terkonsentrasi ke manajer investasi (MI) yang besar. Sementara manajer investasi kecil dengan prospek histori yang bagus tidak terlalu merasakan dampaknya.

Melihat hal ini, asosiasi harus mendorong regulator untuk bisa membantu manajer investasi kecil agar bisa meningkatkan kelasnya. "Karena kalau dibantu, manajer investasi kecil ini tidak akan terlalu kreatif dan membentuk produk di luar jangkauan," kata dia.

Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap reksadana menurut Parto juga penting untuk mendukung perkembangan reksadana. Sejauh ini, Parto melihat regulator sudah memberikan sanksi yang cukup bagus kepada manajer investasi yang bersalah dalam kasus di industri reksadana. 

"Tetapi kalau bisa sanksi yang diberikan jangan sampai merugikan investor," kata dia.

Pengenaan sanksi ini, lanjut Parto juga harus memperhatikan investor. Pasalnya, pengenaan sanksi yang selama ini diberlakukan tidak memberikan kompensasi apa-apa kepada investor.

Laporkan 10 Portofolio

Terkait peningkatan kepercayaan ini, Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Afifa mengungkapkan, manajer investasi sejauh ini sudah melaporkan 10 portofolio yang ada di produk reksadananya. Sebelumnya, hanya 5 portofolio terbesar yang diungkapkan ke publik.

Pengungkapan 10 portofolio ini, menurut Afifa sudah memuat 60-70 persen dari total portofolio. "Sehingga transparansi ke publik sudah mulai berjalan," kata dia.

Suheri menambahkan, untuk meningkatkan kepercayaan terhadap industri reksadana sebaiknya transparansi memang harus dilakukan. Pasalnya, investor tidak bisa mengetahui mereka bisa terkena kasus di portofolio yang mana dan dengan transparansi jadi produk reksadana betul-betul bisa dipercaya.

"Sebaiknya semua portofolio di-open karena ketika beli kita harus tahu dari A-Z, takutnya malah kita rusak di sisa 40 persen yang tidak di-open," kata dia.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.