Realisasi Penanaman Modal Mulai Tumbuh, Reksadana Saham Dominasi Pekan Keempat Oktober

Abdul Malik • 26 Oct 2020

an image
Pekerja menyelesaikan proyek pembetonan jalan di jalur Pantura Lohbener, Indramayu, Jawa Barat, Senin (27/7/2020). Kementerian PUPR mempercepat realisasi belanja infrastruktur tahun ini dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Sepanjang periode 19–23 Oktober 2020, IHSG tercatat menguat tipis 0,17 persen ke level 5.112

Bareksa.com - Mengakhiri pekan keempat di Oktober 2020, bursa saham Tanah Air berhasil mengalami pergerakan yang positif meskipun relatif terbatas. Dalam periode 19 – 23 Oktober 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat tipis 0,17 persen ke level 5.112,19.

Dalam lima hari perdagangan pekan lalu, IHSG hanya mampu “menghijau” sebanyak dua kali yaitu pada awal dan akhir pekan, sementara tiga hari di pertengahan pekan IHSG berturut-turut berakhir di zona merah. Di sisi lain, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp989,94 miliar di keseluruhan pasar.

Dari eksternal, isu stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian utama pelaku pasar. Maklum saja, nilainya yang diperkirakan mencapai US$2 triliun (sekitar Rp29.302 triliun, asumsi kurs Rp14.651 per dolar Amerika Serikat) tentunya membuat perekonomian banjir likuiditas, memacu perekonomian, serta membuat sentimen pelaku pasar membaik.

Sayangnya hingga Jumat (23/10/2020) berakhir, stimulus tersebut belum juga cair, dan kemungkinan tidak akan cair hingga pemilihan presiden (Pilpres) AS digelar pada 3 November mendatang.

Sementara itu dari dalam negeri, pada akhir pekan lalu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan angka realisasi investasi kuartal III 2020 yang akhirnya bertumbuh. BKPM melaporkan pada kuartal III 2020, total investasi yang masuk ke Tanah Air tercatat Rp209 triliun, naik 1,6 persen year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang periode Juli-September 2020 mencapai Rp106,1 triliun, tumbuh 1,1 persen YoY. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah Rp102,9 triliun, naik 2,1 persen YoY.

Sebagai informasi, pertumbuhan PMA di kuartal III tersebut menjadi yang pertama di tahun ini setelah mengalami kontraksi dalam 2 kuartal beruntun.

"Kita harus selalu optimis dan berpikir positif. Masa kritis realisasi investasi sudah terlewatkan, itu pada kuartal II. Pada kuartal III, realisasi sudah Rp209 triliun, mencapai 74,8 persen dari target," kata Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM pada Jumat (23/10/2020), seperti dilansir CNBC Indonesia.

Reksadana Berbasis Saham Dominasi Return Mingguan

Kondisi bursa saham domestik yang cenderung terkonsolidasi sepanjang pekan lalu turut berdampak serupa terhadap kinerja reksadana berbasis saham secara umum. Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil menguat tipis 0,15 persen, sementara indeks reksadana saham syariah terkoreksi 0,24 persen.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan reksadana yang dijual Bareksa, 10 besar imbal hasil (return) tertinggi pada pekan lalu mayoritas ditempati oleh produk reksadana saham yakni sebanyak 8 produk, sementara 2 produk lainnya masing-masing merupakan produk reksadana campuran dan reksadana pendapatan tetap.

Sumber: Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.