Kinerja IHSG dan Reksadana Kuartal III 2020 : Juli-Agustus Melesat, Namun Ambrol di September

Abdul Malik • 05 Oct 2020

an image
Karyawan melintas di antara monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/3). IHSG pada perdagangan pekan ini ditutup melemah 16,95 poin atau 0,27 persen ke level 6.304,95. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Sebenarnya IHSG menorehkan kinerja cukup memuaskan dengan kenaikan 4,98 persen di Juli dan 1,73 persen di Agustus

Bareksa.com - Pasar saham Indonesia telah melalui kuartal III 2020 dengan berbagai suka duka. Meski masih dibayangi tekanan akibat pandemi Covid-19 yang belum usai, namun sepanjang periode Juli – September kemarin bursa saham Tanah Air mengakumulasi penurunan yang masih dapat ditoleransi.

Dilihat kembali ke belakang, pada dua periode awal kuartal III 2020, sebenarnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menorehkan kinerja yang cukup memuaskan yakni dengan kenaikan 4,98 persen di Juli dan 1,73 persen di Agustus.

Melesatnya IHSG pada dua bulan tersebut merupakan respons positif akan harapan pemulihan ekonomi baik secara global maupun di Indonesia.

Stimulus-stimulus yang berhasil melesatkan IHSG pada periode ini sejatinya bervariasi mulai dari penempatan dana ke bank besar di Indonesia oleh pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan berbagai stimulus lainnya.

Namun kenaikan pada dua bulan tersebut seakan tidak berarti karena langsung terhapus dengan penurunan 7,03 persen di September akibat volatilitas yang cukup tinggi.

Awal September menjadi titik balik gerak IHSG ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menarik rem darurat dan menyatakan akan mengembalikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti awal terjadinya pandemi.

Tak ayal pasar menghukum dengan kejam, saham-saham unggulan dilepas hingga menyentuh level auto reject bawah (ARB) yang menyebabkan IHSG terpaksa ambruk hingga 5,01 persen, pemandangan yang terakhir kali dilihat oleh investor pada Maret silam ketika ketidakpastian akibat virus corona dan kepanikan investor sedang tinggi-tingginya.

Kemudian potensi Indonesia akan resmi mengalami resesi juga muncul dari rilis data dalam negeri yang kurang cantik oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan pada September terjadi deflasi 0,05 persen.

Hal ini artinya selama kuartal ketiga tahun 2020, Indonesia terus-terusan mengalami deflasi setelah sebelumnya bulan Juli dan Agustus IHSG juga mengalami deflasi 0,05 persen dan 0,1 persen yang mengindikasikan adanya masalah daya beli masyarakat , serta mengonfirmasi memang Indonesia sudah sangat dekat dengan jurang resesi.

Alhasil, pada kuartal II tahun ini IHSG mencatatkan akumulasi penurunan 0,72 persen. Jika dilihat sejak awal tahun, IHSG sudah merosot 22,69 persen year to date (YtD) per akhir September 2020.

Kinerja Reksadana Ikut Tertekan

Kondisi IHSG yang melemah pada kuartal III 2020, turut memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan reksadana secara umum.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, 3 dari 4 jenis reksadana mencatatkan penurunan kinerja pada periode Juli – September, yakni indeks reksadana saham (-1,84 persen), kemudian indeks reksadana pasar uang (-0,74 persen), dan indeks reksadana campuran (-0,73 persen).

Sedangkan indeks reksadana pendapatan tetap menjadi satu-satunya reksadana yang menorehkan kinerja positif dengan kenaikan 1,94 persen.
Namun menjelang akhir tahun, menurut analisis Bareksa kondisi IHSG maupun reksadana berpotensi mengalami perbaikan yang didukung oleh sejumlah asumsi yang bisa menjadi sentimen positif

Sejumlah asumsi tersebut antara lain :

1. Harapan percepatan belanja pemerintah menjelang akhir tahun yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
2. Harapan vaksin yang memasuki tahap-tahap akhir ujicoba klinis dan dapat segera diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat.
3. Harapan mulai dibukanya kembali aktivitas ekonomi secara lebih luas yang bisa menggerakkan kembali aktivitas semua lini kehidupan masyarakat.

Perlu diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.