Topang Kenaikan AUM Industri, Ini 20 MI Juara Dana Kelolaan Reksadana Saham Juni

Bareksa • 14 Jul 2020

an image
Ilustrasi sejumlah investor analis pasar modal sedang berdiskusi melakukan analisis kinerja investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan melihat data di komputer laptop, layar terminal bloomberg dan kertas bergambar grafik sambil menulis catatan dengan pulpen.

Schroders Indonesia masih juara AUM reksadana saham, Sucorinvest bukukan kenaikan tertinggi secara bulanan

Bareksa.com -  Dana kelolaan reksadana saham berhasil membukukan kenaikan 5 persen secara bulanan dari Rp105,64 triliun pada Mei 2020 menjadi Rp111,42 triliun pada Juni 2020 atau bertambah Rp5,8 triliun. Kenaikan itu dicatatkan setelah pada Mei stagnan secara bulanan dibandingkan April. Pertumbuhan asset under management (AUM) reksadana saham juga jadi penyumbang terbesar atau mencapai 70 persen terhadap kenaikan dana kelolaan industri reksadana nasional bulan lalu.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020, menyebutkan secara bulanan asset under management (AUM) industri reksadana bertambah sekitar Rp8 triliun dari Rp474,2 triliun pada Mei 2020 jadi Rp482,5 triliun pada Juni 2020. Kenaikan itu menandakan pemulihan di industri ini terus berlanjut, setelah tertekan cukup dalam pada Maret 2020 akibat dampak pandemi Covid-19. 

Dilihat secara kuartal per kuartal, AUM pada Maret atau kuartal I 2020 yang sebesar Rp471,4 triliun, maka dana kelolaan industri reksadana pada Juni atau kuartal II 2020 bertambah sekitar Rp11,1 triliun atau naik 2,3 persen. Dari kenaikan itu, AUM reksadana saham menyumbang sekitar 80 persen. Dana kelolaan reksadana saham naik dari sebelumnya Rp102,2 triliun pada Maret menjadi Rp111,4 triliun pada Juni 2020 atau bertambah Rp9,2 triliun.

Untuk diketahui, level AUM reksadana pada Maret merupakan yang terendah sepanjang tahun ini seiring gejolak pasar modal terdampak pandemi..


Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020

Meski dari sisi dana kelolaan, reksadana saham mencatatkan kenaikan secara bulanan dan kuartal per kuartal, namun catatan jumlah unitnya sedikit berbeda. Jumlah unit reksadana saham secara bulanan memang naik dari 96,9 miliar unit pada Mei jadi 97,1 miliar unit pada Juni. Namun secara kuartal per kuartal justru mencatatkan penurunan dari 97,3 miliar unit pada Maret jadi 97,1 miliar unit pada Juni. Jumlah unit menurun, namun nilai dana kelolaan naik, menandakan terjadi kenaikan harga nilai aktiva bersih per unit reksadana saham pada Juni jika dibandingkan pada Maret.


Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020

Dari sisi jumlah produk, tercatat lonjakan pada Juni menjadi 379 produk pada Juni 2020 dari 373 produk pada Maret.

Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020

Meskipun dana kelolaan reksadana saham secara bulanan dan kuartal per kuartal membukukan kenaikan, namun secara year to date (YtD) atau sepanjang tahun berjalan hingga semester I 2020 masih negatif 23,9 persen. Pada Desember tahun lalu, dana kelolaan reksadana saham mencapai Rp146,4 triliun. Artinya reksadana saham masih kehilangan dana kelolaan sekitar Rp35 triliun dalam enam bulan terakhir. Meskipun nilainya cukup besar, namun persentase penurunan semakin mengecil dibandingkan pada Mei yang penurunanya mencapai 27,8 persen.

Seiring kenaikan dana kelolaan pada Juni, bagaimana kinerja top 20 manajer investasi AUM reksadana saham terbesar? Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020 mencatat secara year to date, semua MI dalam daftar 20 mencatatkan penurunan dana kelolaan antara 7 persen hingga 52 persen. Secara tahunan (year on year/YoY), Sucorinvest Asset Management menjadi satu-satunya MI yang membukukan kenaikan hingga 22 persen, sementara 19 lainnya minus.

Secara bulanan, mayoritas atau 18 MI membukukan kenaikan dana kelolaan reksadana saham antara 3 persen hingga 13 persen. Lagi-lagi Sucorinvest AM membukukan kenaikan tertinggi AUM reksadana saham mencapai 13 persen. Sedangkan 2 MI lainnya mencatatkan pertumbuhan negatif.

Top 20 MI Dana Kelolaan Reksadana Saham Terbesar Juni 2020

Dalam daftar top 20 MI dana kelolaan reksadana saham terbesar pada Juni, masih diisi oleh nama-nama perusahaan manajemen investasi yang sama dengan Mei. Namun terdapat beberapa pergeseran posisi. Di antaranya PT Syailendra Capital yang pada Mei 2020 berada di posisi 12 pada Mei naik 1 peringkat jadi 11 pada Juni. Kemudian Trimegah Asset Management yang pada Mei berada di posisi 13 naik jadi posisi 12 pada Juni. Kenaikan peringkat juga dibukukan Sucorinvest AM dari posisi 17 pada Mei jadi 16 pada Juni, serta BNI Asset Management dari posisi 19 jadi 18.

Sedangkan penurunan peringkat dicatatkan Henan Putihrai dari sebelumnya posisi 11 jadi 13, Sinarmas AM dari peringkat 16 jadi 17, serta Pacific Capital dari 18 jadi 19. Adapun Capital AM yang pada Mei berada di posisi 20, namun pada Juni terdepak digantikan Sequis AM.

Selengkapnya seperti pada tabel berikut :


Sumber : Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report June 2020

1. Schroder Investment Management Indonesia

Sebagaimana bulan-bulan sebelumnya, Schroders Indonesia masih menjadi juara dana kelolaan reksadana saham pada Juni 2020 dengan nilai Rp19,3 triliun atau menguasai market share 17 persen. Secara bulanan, AUM reksadana saham Schroders Indonesia naik 6 persen, namun secara YtD minus 24 persen dan YoY anjlok 24 persen.

2. Manulife Aset Manajemen Indonesia

Posisi kedua diisi Manulife Aset Manajemen dengan dana kelolaan reksadana saham pada Juni Rp10,52 triliun dengan market share 9 persen. Secara bulanan AUM reksadana saham Manulife melonjak 10 persen, YtD minus 7 persen dan YoY negatif 19 persen. 

3. Ashmore Asset Management Indonesia

Ashmore AM berada di posisi 3 dengan dana kelolaan reksadana saham Rp8,62 triliun dan pangsa pasar 8 persen. AUM reksadana Ashmore AM secara bulanan naik 4 persen, YtD minus 30 persen dan YoY anjlok 34 persen.

4. Batavia Prosperindo Aset Manajemen

Batavia PAM menduduki peringkat 4 dengan AUM reksadana saham Rp8,27 triliun dan share 7 persen. Dibandingkan bulan Mei, AUM reksadana saham Batavia naik 8 persen, secara YtD minus 24 persen dan YoY negatif 19 persen.

5. BNP Paribas Asset Management

Posisi kelima MI dengan AUM reksadana saham terbesar ditempati BNP AM dengan dana kelolaan Rp7,32 triliun dan market share 7 persen. Secara bulanan AUM reksadana saham BNP naik 6 persen, YtD minus 8 persen dan YoY turun 10 persen. 

Posisi 6 hingga 20 secara berurutan yakni Mandiri Manajemen Investasi dengan dana kelolaan reksadana saham Rp6,73 triliun, Eastspring (Rp4,57 triliun), Panin AM (Rp3,76 triliun), Bahana TCW (Rp3,53 triliun), Minna Padi (Rp3 triliun), Syailendra Capital (Rp2,96 triliun), Timegah AM (Rp2,95 triliun), Henan Putihrai (Rp2,76 triliun), Samuel AM (Rp2,58 triliun), Danareksa IM (Rp2,56 triliun), Sucorinvest AM (Rp1,92 triliun), Sinarmas AM (Rp1,87 triliun), BNI-AM (Rp1,57 triliun), Pacific Capital (Rp1,41 triliun) dan Sequis AM (Rp1,31 triliun).

Reksadana ialah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Reksadana juga diartikan, sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi.

Sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Reksadana memberikan imbal hasil (return) dari pertumbuhan nilai aset-aset yang ada dalam portofolionya. Imbal hasil ini potensinya lebih tinggi dibandingkan dengan deposito atau tabungan bank.

Sebaiknya, jenis reksadana yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter kita apakah seorang high-risk taker, medium-risk taker atau low-risk taker. Jika kita kurang berani untuk mengambil risiko rugi, bisa memilih reksadana pasar uang.

Namun, jika kita cukup berani tapi masih jaga-jaga untuk tidak terlalu rugi, bisa coba fixed income (reksadana pendapatan tetap) atau balanced (reksadana campuran). Sementara jika kita cukup berani ambil risiko, bisa berinvestasi di reksadana saham (equity).

Selalu sesuaikan instrumen investasi dengan profil risiko dan target investasi kamu.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report June 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.