Saling Salip Posisi Juara, Begini Kinerja AUM Mandiri Investasi dan Batavia PAM

Bareksa • 11 Jun 2020

an image
Kiri ke kanan: Halim Haryono - Deputi Direktur Pengawasan & Pengembangan Pengelolaan Investasi OJK, Alvin Pattisahusiwa - Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, dan Rino Donosepoetro - CEO Standard Chartered Bank Indonesia pada peluncuran Reksa Dana MIPU2, Jakarta, 21 Mei 2019.

Sejak pertengahan tahun lalu, Mandiri Investasi dan Batavia memang saling salip AUM dan tahta juara 1 AUM reksadana

Bareksa.com -  Industri reksadana nasional kembali bangkit setelah tertekan cukup dalam akibat gejolak pasar modal dampak wabah Covid-19 sejak awal tahun. Pada Mei 2020, mayoritas manajer investasi atau sebanyak 10 MI dari daftar top 20 membukukan kenaikan dana kelolaan secara bulanan (MoM) antara 1-4 persen. Empat lainnya stagnan dan enam lainnya masih mencatatkan penurunan AUM MoM antara 1-10 persen.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report May 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyebutkan Mandiri Manajemen Investasi dengan dana kelolaan reksadana Rp42,52 triliun dengan market share 9 persen pada Mei 2020 berhasil menjadi juara 1 AUM terbesar menyalip Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia PAM) yang selama beberapa bulan terakhir menduduki posisi puncak.

MMI membukukan kenaikan AUM 1 persen secara MoM, meskipun secara year to date (YtD) masih minus 5 persen dan sacara tahunan stagnan atau 0 persen. Untuk diketahui, posisi juara AUM industri reksadana nasional saling salip antara perusahaan manajemen investasi.

Peluang MMI untuk menyalip Batavia PAM jadi juara AUM sebenarnya sudah terlihat sejak April lalu. Saat itu AUM Batavia dan MMI hanya terpaut tipis Rp10 miliar yakni Rp42,06 triliun untuk Batavia dan MMI Rp42,05 triliun. Sejak pertengahan tahun lalu, antara Mandiri Investasi dan Batavia memang saling salip AUM dan tahta juara 1 AUM reksadana nasional.

Pada Mei 2020 ini, juara AUM terbesar kedua diisi oleh Batavia PAM dengan dana kelolaan reksadana Rp42,36 triliun dan market share 9 persen. Secara bulanan AUM Batavia naik 1 persen dan YoY Stagnan 0 persen. Namun secara year to date, AUM Batavia anjlok 10 persen atau lebih dalam dari penurunan AUM Mandiri Investasi yang sebesar 5 persen. Inilah penyebab MMI berhasil menggeser posisi Batavia pada Mei.

Top 20 Manajer Investasi dengan AUM Terbesar Mei 2020


Sumber: Bareksa Mutual Fund Industry Data Market – Monthly Report Mei 2020

Bagaimana kinerja AUM antara Mandiri Investasi dengan Batavia PAM? Apa saja produk yang menopang kedua perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia tersebut? Berikut ulasannya :

Mandiri Investasi

PT Mandiri Manajemen Investasi merupakan anak perusahaan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yang terbentuk pada Desember 2004. Mandiri Investasi memisahkan diri dari PT Mandiri Sekuritas dan kemudian menjadi PT Mandiri Manajemen Investasi atau lebih dikenal dengan Mandiri Investasi.

Perusahaan menyediakan layanan jasa layanan pengelolaan dana dalam bentuk reksadana serta discretionary fund. Sebagai manajer investasi, perusahaan memperoleh ijin dari sesuai dengan Surat Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-11/PM/MI/2004 tanggal 28 Desember 2004.


Sumber : Bareksa

Perkembangan dana kelolaan MMI mengalami fluktuasi dalam perjalanannya. Sejatinya jumlah AUM reksadana yang dijual untuk publik sempat menyentuh level tertingginya pada April 2018 yang mencapai Rp46,2 triliun. Kemudian menurun di level Rp45 triliunan pada Mei di tahun yang sama dan setelah itu naik turun dengan tren lebih rendah di level Rp40 triliunan. Kemudian pada Januari 2020 sempat naik lagi di level Rp45,2 triliun.

Namun seiring tekanan akibat wabah Covid-19, dana kelolaan Mandiri Investasi anjlok di level terendah tahun ini pada Maret 2020 yang sebesar Rp39,2 triliun. Kini dana kelolaan perseroan mulai naik kembali hingga ke Rp42,5 triliun pada Mei 2020. Secara year to date, Mandiri Investasi telah kehilangan 5 persen dana kelolaannya akibat sentimen wabah Covid-19.


Sumber : Bareksa

Per Mei 2020, Mandiri Investasi telah meluncurkan 220 produk reksadana. Rinciannya 165 produk di antaranya merupakan reksadana terproteksi, 13 reksadana saham, 6 reksadana penyertaan terbatas, 17 reksadana pendapatan tetap, 13 reksadana pasar uang, 1 reksadana indeks & ETF, 1 DIRE, serta 4 reksadana campuran.

Berdasarkan data Bareksa, top 10 produk reksadana MMI dengan AUM terbesar, mayoritas atau 5 di antaranya didominasi produk reksadana pendapatan tetap. Kemudian 3 produk reksadana saham, 1 reksadana pasar uang dan 1 reksadana terproteksi.

Top 10 Produk Reksadana MMI AUM Terbesar per Mei 2020


Sumber : Bareksa

Posisi pertama reksadana MMI dengan AUM terbesar ditempati oleh reksadana pasar uang Mandiri Investa Pasar Uang dengan AUM Rp11,13 triliun per Mei 2020 atau berkontribusi 26 persen terhadap total AUM reksadana publik perseroan.


Sumber : Bareksa

Sebagaimana kinerja AUM reksadana publik perseroan, kinerja reksadana ini juga beriringan. Artinya karena kontribusinya yang cukup besar terhadap total AUM, maka penurunan atau kenaikan AUM pada Mandiri Investa Pasar Uang cukup berpengaruh pada total AUM MMI secara keseluruhan. 

Hal ini terlihat, AUM Mandiri Investa Pasar Uang sempat menyentuh level Rp11 triliun pada April 2018 yang kemudian di bulan-bulan selanjutnya naik turun dengan tren lebih rendah. Kondisi itu senada dengan total AUM reksadana publik MMI yang juga sempat di level tinggi pada April 2018. Secara bulanan reksadana mencatatkan kenaikan AUM sekitar Rp1,1 triliun pada Mei 2020 dibandingkan April. Artinya Mandiri Investa Pasar Uang jadi salah penopang utama kenaikan total AUM reksadana publik Mandiri Investasi pada Mei.

Reksadana Mandiri Investa Pasar Uang yang diluncurkan pada September 2004 ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal dan penjualan kembali hanya Rp50.000. Portofolio investasinya pada April 2020 di antaranya deposito Bank Bukopin, deposito Bank Jambi, deposito Bank Mayapada, deposito Bank Sulawesi Selatan Barat dan deposito Bank Sumatera Utara.

Kinerja reksadana ini sebulan terakhir (per 10 Juni 2020) memberikan imbal 0,24 persen, YtD 2,27 persen, 1 tahun 5,47 persen serta 50,72 persen dalam 10 tahun.


Sumber : Bareksa

CEO Mandiri Investasi, Alvin Pattisahusiwa, menyatakan secara total perseroan berhasil membukukan dana kelolaan Rp62,5 triliun. Nilai itu tidak hanya termasuk reksadana yang dijual untuk publik, namun juga kontrak pengelolaan dana dan dana kelolaan anak usaha di Singapura. Memperhitungkan dana kelolaan reksadana publik dan KPD, maka AUM MMI pada Mei 2020 senolai Rp55 triliun.

"Secara industri, pada Mei 2020, reksadana nasional memang secara year to date (YtD) negatif. Kontributor penurunan secara industri yang utama dari reksadana saham. Penurunan ini lebih diakibatkan karena nilai IHSG dan LQ45 atau market impact yang menurun. Untuk reksadana lainnya masih turun tapi tidak sebesar reksadana saham seperti reksdana pasar uang (RDPU) juga turun. Tapi reksadana pasar uang kami justru naik dan jadi penopang utama AUM Mandiri Investasi," ujar Alvin (10/6/2020).

Hingga akhir tahun ini, kata Alvin, perseroan tetap memasang target Rp66 triliun. "Namun tidak menutup kemungkinan adanya adjustment setelah semester I tahun 2020 dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan perekonomian," ungkapnya.

Batavia PAM

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen didirikan pada 1996. Perusahaan saat ini mengelola berbagai produk reksadana dan kontrak pengelolaa dana bilateral untuk nasabah individu ataupun institusi. Sebagai pengelola dana, Batavia PAM memiliki izin sebagai manajer investasi dari Bapepam-LK dengan No.Kep-03/PM-MI/1996 tanggal 14 Juni 1996


Sumber : Bareksa

Dengan tren sedikit berbeda dibandingkan Mandiri Investasi, dana kelolaan reksadana untuk publik Batavia PAM sejatinya mencapai level tertinggi pada Januari 2020 yang menyentuh Rp47,13 triliun. Level terendah tahun ini terjadi pada Maret 2020 yang sebesar Rp41,45 triliun terdampak wabah Covid-19 dan pada Mei 2020 mulai bangkit jadi Rp42,36 triliun.

 


Sumber : Bareksa

Secara year to date, Batavia PAM telah kehilangan dana kelolaannya hingga 10 persen akibat dampak wabah Covid-19. Meskipun secara tahunan dana kelolaan perseroan secara YoY stagnan dan MoM naik 1 persen.

Posisi Batavia PAM dan MMI memang saling salip dengan selisih dana AUM cukup ketat. Jika pada April 2020, AUM reksadana publik Batavia PAM hanya Rp10 miliar lebih tinggi dari Mandiri Investasi, maka pada Mei 2020 ini MMI pun hanya mengantongi AUM lebih besar sekitar Rp200 miliar dibandingkan Batavia PAM.

Artinya peluang Batavia merebut kembali tahta juara I AUM reksadana nasional di bulan-bulan mendatang masih terbuka, jika Mandiri Investasi tidak berhasil mempertahankan kinerjanya. Hal ini terbukti, meskipun AUM kedua perusahaan sama-sama turun terdampak tekanan pasar akibat wabah Covid-19 secara YtD pada Mei 2020, yakni MMI turun 5 persen dan Batavia minus 10 persen, MMI mampu menyalip posisi Batavia PAM.

Ini karena AUM Batavia PAM pada Mei 2020 secara YtD anjlok lebih dalam dari penurunan yang dialami Mandiri Investasi.

Berdasarkan catatan Bareksa, hingga saat ini Batavia PAM telah merilis 208 produk reksadana. Dengan rincian 150 produk di antaranya ialah reksadana terproteksi, 7 reksadana saham, 5 reksadana penyertaan terbatas, 25 reksadana pendapatan tetap, 8 reksadana pasar uang, 4 reksadana indeks & ETF, serta 9 reksadana campuran.

Dalam daftar top 10 produk reksadana Batavia PAM dengan AUM terbesar, 4 di antaranya diisi reksadana pendapatan tetap, 3 reksadana saham, 2 reksadana terproteksi dan 1 reksadana pasar uang.

Top 10 Produk Reksadana Batavia PAM AUM Terbesar per Mei 2020


Sumber : Bareksa

Reksadana Batavia PAM yang mencatat dana kelolaan terbesar ialah reksadana saham Batavia Dana Saham dengan AUM Rp4,17 triliun per Mei 2020 atau menyumbang 9,8 persen terhadap total dana kelolaan reksadana perseroan.

Sejatinya reksadana ini membukukan dana kelolaan tertingginya pada Desember 2019 yang senilai Rp6 triliun. Kemudian di bulan selanjutnya tertekan seiring tekanan di pasar modal akibat pandemi Covid-19, hingga menyentuh level terendah tahun ini pada Maret Rp4,1 triliun.


Sumber : Bareksa

Reksadana saham yang diluncurkan pada Desember 1996 ini bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal dan penjualan kembali Rp100.000.

Portofolio investasinya menurut fund fact sheet Mei 2020 di antaranya saham Astra International Tbk, Bank Central Asia Tbk, Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Gudang Garam Tbk, Kalbe Farma Tbk, Mayora Indah Tbk, Sarana Menara Nusantara Tbk, Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dan Unilever Indonesia Tbk.

Kinerja Batavia Dana Saham sebulan terakhir (per 10 Juni 2020) berhasil membukukan imbal hasil positif 7,52 persen. Namun secara YtD reksadana ini mencatatkan kinerja negatif 22,13 persen dan 1 tahun minus 24,56 persen. Periode 10 tahun terakhir reksadana ini mencatatkan return 54,81 persen.


Sumber : Bareksa

Reksadana ialah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Reksadana juga diartikan, sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi.

Sebagaimana dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Reksadana memberikan imbal hasil (return) dari pertumbuhan nilai aset-aset yang ada dalam portofolionya. Imbal hasil ini potensinya lebih tinggi dibandingkan dengan deposito atau tabungan bank.

Sebaiknya, jenis reksadana yang dipilih bisa disesuaikan dengan karakter kita apakah seorang high-risk taker, medium-risk taker atau low-risk taker. Jika kita kurang berani untuk mengambil risiko rugi, bisa memilih reksadana pasar uang.

Namun, jika kita cukup berani tapi masih jaga-jaga untuk tidak terlalu rugi, bisa coba fixed income (reksadana pendapatan tetap) atau balanced (reksadana campuran). Sementara jika kita cukup berani ambil risiko, bisa berinvestasi di reksadana saham (equity).

Selalu sesuaikan instrumen investasi dengan profil risiko dan target investasi kamu.

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report May 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.