NAB Reksadana per 20 Mei Sedikit Turun Namun UP Naik, AUM Pasar Uang Melonjak

Bareksa • 02 Jun 2020

an image
Ilustrasi investasi reksadana saham obligasi pasar uang surat utang negara yang digambarkan dengan timbangan dan koin emas

AUM reksadana saham hingga 20 Mei 2020 kembali anjlok MtD setelah pada April sempat naik dibandingkan Maret

Bareksa.com - Nilai aktiva bersih industri reksadana hingga 20 Mei 2020 sebagaimana disampaikan dalam statistik pasar modal yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan, secara month to date sedikit menyusut jadi Rp476,38 triliun dibandingkan akhir April 2020 yang sebesar Rp477,67 triliun. Stagnasi atau turun tipisnya dana kelolaan reksadana nasional itu utamanya disebabkannya turunnya assets under management (AUM) reksadana saham.

Nilai NAB per 20 Mei 2020 meskipun lebih rendah dari April, namun masih lebih tinggi dari Maret 2020 yang senilai Rp472,77 triliun. Meski begitu, AUM reksadana belum mampu menembus level akhir 2019 yang senilai Rp542,19 triliun. Anjloknya NAB reksadana seiring gejolak pasar modal akibat sentimen menyebarnya wabah Covid-19.

Meski NAB reksadana 20 Mei 2020 turun tipis dibandingkan dibandingkan akhir April 2020, namun sejatinya dari sisi jumlah unit penyertaan beredar naik sedikit dari sebelumnya 408,6 miliar unit pada April 2020 jadi 409,1 miliar unit pada 20 Mei 2020.


Sumber : Bareksa

AUM Reksadana Pasar Uang Melonjak

Jika dirinci per jenis, dana kelolaan reksadana pasar uang mencatatkan lonjakan tertinggi dari sebelumnya Rp55,13 triliun pada April jadi Rp58,64 triliun pada 20 Mei 2020. Namun memang AUM reksadana pasar uang April 2020 belum mampu mengejar nilai AUM pada akhir 2019 yang senilai Rp62,92 triliun.

NAB reksadana pendapatan tetap juga naik dari sebelumnya Rp108,34 triliun pada April 2020 jadi Rp109,04 triliun pada 20 Mei 2020. Namun untuk reksadana campuran turun dari sebelumnya Rp23,73 triliun jadi Rp23,55 triliun, reksadana indeks menyusut dari Rp6,63 triliun jadi Rp6,45 triliun, ETF dari Rp11,76 triliun jadi Rp11,36 triliun dan terproteksi Rp118,11 triliun jadi Rp117,53 triliun.

Penurunan terdalam NAB dicatatkan reksadana saham dari sebelumnya Rp94,81 triliun pada April 2020 jadi Rp91,88 triliun. Kondisi itu sedikit berbeda dengan kondisi April 2020 dibandingkan Maret, di mana reksadana saham merupakan jenis reksadana membukukan lonjakan tertinggi dana kelolaan.

Berbeda, untuk jenis reksadana syariah kenaikan NAB justru dicatatkan reksadana pendapatan tetap syariah dari sebelumnya Rp5,76 triliun jadi Rp5,86 triliun atau bertambah Rp1 triliun.

Adapun jenis reksadana syariah lainnya mencatatkan penurunan atau stagnan, seperti reksadana saham syariah dari sebelumnya Rp4,45 triliun jadi Rp4,36 triliun, reksadana pasar uang syariah dari Rp6,91 triliun jadi Rp6,58 triliun, terproteksi turun dari Rp31,17 triliun jadi Rp30,75 triliun, serta reksadana indeks dari Rp0,14 triliun jadi Rp0,13 triliun. 

Adapun reksadana campuran syariah stagnan di Rp1,04 triliun dan ETF di Rp003 triliun.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, dalam paparannya (27/5/2020) menyatakan industri reksadana nasional secara month to date per 19 Mei 2020 membukukan pembelian bersih (net subscription) senilai Rp2,56 triliun.

Secara week to date, net subscription tercatat Rp110 miliar. Meski begitu, secara year to date industri reksadana nasional masih mencatatkan net redemption (penjualan bersih) Rp13,5 triliun. 


Sumber : materi paparan Ketua DK OJK, Wimboh Santoso (27/4/2020)

Meskipun secara MtD per 19 Mei 2020 mencatatkan net subscription, namun nilai aktiva bersih (NAB) industri reksadana per 19 Mei tercatat Rp475,93 triliun atau sedikit menyusut dibandingkan akhir April 2020 yang senilai Rp477,68 triliun. Namun jika dibandingkan dengan NAB 15 Mei 2020 yang senilai Rp473,87 triliun, maka dana kelolaan reksadana per 19 Mei membukukan kenaikan.

Sumber : materi paparan Ketua DK OJK, Wimboh Santoso (27/4/2020)


Sumber : materi paparan Ketua DK OJK, Wimboh Santoso (27/4/2020)

Meskipun industri reksadana secara month to date membukukan net subscription dan secara year to date mencatatkan net redemption. Namun jika dibandingkan pada akhir April, tepatnya per 28 April, kondisi industri reksadana jauh lebih baik. Nilai net redemption semakin berkurang seiring mulai bankitnya industri pasar modal nasional pasca dihantam gejolak akibat dampak sentimen wabah Covid-19.

Industri reksadana mencatatkan penjualan bersih sejak awal tahun hingga 28 April 2020 senilai Rp15,38 triliun. Saat itu NAB reksadana juga menurun 12,7 persen seiring kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan akibat sentimen negatif penyebaran wabah corona. Namun per 19 Mei 2020, penurunan NAB reksadana secara year to date berkurang jadi 12,22 persen. 

NAB atau dana kelolaan reksadana per 28 April 2020 senilai Rp473,32 triliun, turun tipis dari posisi 24 April yang sebesar Rp474,45 triliun, dan hanya naik tipis dari posisi akhir Maret 2020 yang senilai Rp472,7 triliun. Nilai itu masih jauh di bawah angka NAB reksadana pada Desember 2019 yang senilai Rp542,2 triliun.

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.