AUM Reksadana Saham Maret Anjlok Tertekan Corona, Namun 2 MI Catat Kenaikan YoY

Bareksa • 16 Apr 2020

an image
Ilustrasi seorang manajer investasi sedang mengelola portofolio antara jual atau beli instrumen investasinya agar produk reksadana yang dikelola tumbuh optimal (shutterstock)

Dua MI itu ialah Estspring Investment dan Sucor AM. Top 5 MI juara AUM reksadana saham masih sama dengan Februari 2020

Bareksa.com - Dana kelolaan industri reksadana pada Maret 2020 atau kuartal I anjlok hingga 13,05 persen secara year to date jadi Rp471,4 triliun atau berada di bawah angka Rp500 triliun. Penurunan itu seiring gejolak pasar modal akibat wabah corona.

Berdasarkan laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report March 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Desember 2019 atau akhir tahun lalu, assets under management (AUM) reksadana nasional Rp542,2 triliun.

Dana kelolaan reksadana sejatinya sudah menembus Rp500 triliun pada Desember 2018, atau tepatnya pada saat itu AUM reksadana Rp507,3 triliun. 

Sepanjang tiga bulan terakhir, dana kelolaan reksadana memang terus menurun dibandingkan akhir tahun lalu. Pada Januari dan Februari 2020, AUM industri reksadana masing-masing Rp537,3 triliun dan Rp525,3 triliun.

Penurunan itu seiring fluktuasi pasar modal akibat faktor eksternal atau global salah satunya wabah corona dan faktor internal, salah satunya kasus tata kelola perusahaan yang baik yang menjerat beberapa manajer investasi dalam negeri, hingga kasus Jiwasraya.

Secara tahunan (YoY), atau dibandingkan Maret 2019 yang dana kelolaan saat itu Rp515,1 triliun, maka AUM reksadana Maret 2020 turun 8,5 persen. Secara bulanan atau dibandingkan Februari 2020 yang senilai Rp525,3 triliun, industri reksadana mencatatkan penurunan dana kelolaan 10,26 persen atau kehilangan Rp53,9 triliun.

AUM Reksadana Saham

Anjloknya dana kelolaan industri reksadana Maret 2020 salah satunya disebabkan turunnya AUM reksadana saham yang makin dalam hingga 30,18 persen secara YtD menjadi Rp102,2 triliun. Penurunan itu makin dalam dibandingkan Februari 2020 yang turun 14,96 persen YtD jadi Rp124,5 triliun.

Level AUM Maret 2020 yang sebesar Rp102 triliun bahkan lebih rendah dari Desember 2014 yang sebesar Rp111,8 triliun. Secara bulanan AUM reksadana saham Maret 2020 anjlok 18 persen dibandingkan Februari 2020. Secara tahunan AUM reksadana saham Maret 2020 anjlok 37 persen. Penurunan ini akibat gejolak pasar modal, utamanya karena wabah corona.


Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2020

Seiring turunnya AUM jumlah unit reksadana saham pada Maret 2020 juga menyusut 2,97 persen jadi 97,3 juta unit.


Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2020

Meski begitu sejatinya jumlah produk reksadana saham terus bertambah. Pada Maret 2020 jumlah produk reksadana saham jadi 373 produk dari 372 produk pada Desember 2019.


Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2020

Top 20 MI AUM Reksadana Saham

Penurunan AUM reksadana saham Maret 2020 juga disebabkan turunnya dana kelolaan reksadana saham mayoritas manajer investasi. Dalam daftar top 20 MI AUM reksadana saham terbesar Maret 2020, hampir semua MI mencatatkan penurunan AUM secara bulanan, YtD maupun YoY. Hanya dua MI yang masih membukukan kenaikan AUM reksadana saham secara YoY yakni Eastspring Investment Indonesia dan Sucorinvest Asset Management.

Secara YoY Eastspring membukukan kenaikan tipis 1 persen AUM reksadana saham pada Maret 2020 menjadi Rp4,3 triliun. Sedangkan secara bulanan AUM reksadana saham Eastspring menyusut 11 persen dan YtD minus 17 persen. Eastspring meraih pangsa pasar 4 persen dan berada di ranking 7 dalam daftar Top 20 MI.

Sucor AM berhasil membukukan kenaikan 9 persen AUM reksadana saham secara YoY pada Maret 2020 menjadi Rp1,72 triliun. Namun secara bulanan AUM reksadana saham Sucor AM tertekan 16 persen dan YtD minus 34 persen. Sucor AM meraih market share 2 persen dan berada di ranking 18.


Sumber : Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2020

Dalam daftar juara AUM reksadana saham Maret 2020 di posisi 5 besar masih diisi oleh nama-nama MI yang tidak berbeda dibandingkan Februari. Posisi pertama ditempati Schroder dengan AUM Rp17,3 triliun. Schroder meraih pangsa pasar reksadana saham 17 persen. Secara MoM AUM reksadana saham Schroder minus 20 persen, YtD -31 persen dan YoY -36 persen. 

Posisi kedua ditempati Manulife AM dengan AUM reksadana saham Rp8,9 triliun dan market share 9 persen pada Maret 2020. Manulife AM mencatatkan penurunan AUM reksadana saham 13 persen MoM, -21 persen YtD dan -33 persen YoY.

Ranking tiga ditempati oleh Ashmore dengan dana kelolaan Rp7,6 triliun dan pangsa pasar 7 persen pada Maret 2020. Namun AUM reksadana saham Ashmore anjlok 25 persen MoM, -39 persen YtD dan -41 persen YoY.

Di posisi 4, ditempati Batavia PAM dengan AUM reksadana saham Rp7,41 triliun dan market share 7 persen. Secara bulanan AUM reksadana saham Batavia PAM -16 persen, YtD -32 persen dan YoY -22 persen.

BNP AM berada di posisi 5 dengan AUM reksadana saham Maret 2020 Rp6,8 triliun dan market share 7 persen. AUM reksadana reksadana saham BNP turun 16 persen MoM, negatif 14 persen YtD dan minus 21 persen YoY. 

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report March 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi marketing@bareksa.com (cc: data@bareksa.com).

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.