Ini Saran Manulife AM Indonesia Agar Investor Tak Panik di Tengah Wabah Corona

Bareksa • 07 Apr 2020

an image
CEO Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro, bersama karyawannya memantau pergerakan pasar saham dan IHSG di kantor Manulife Aset Manajemen Indonesia. (Bareksa/AM)

Pada saat seperti sekarang, menempatkan uang di reksadana dapat menjadi pilihan di tengah kebingungan

Bareksa.com - Sebulan terakhir, investor terus dibayangi rasa was-was melihat pergerakan pasar finansial. Ancaman penyebaran virus corona membuat pasar modal di seluruh kawasan meradang, tak terkecuali di Indonesia.

Di tengah pandemi COVID-19 atau virus corona, dalam kondisi pasar dengan tingkat volatilitas yang sangat tinggi, tentu investor khawatir, bingung, dan panik tidak tahu apa yang harus dilakukan pada portofolio investasinya. Agar tidak salah langkah, berikut penjelasan Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) atau Manulife AM, Freddy Tedja.

Freddy mengatakan pada dasarnya semua produk investasi memiliki risiko, walau sekecil apa pun. Profil risiko akan menentukan batas risiko atau tingkat kesiapan seorang investor dalam menanggung tingkat volatilitas, baik penurunan ataupun kenaikan, di berbagai instrumen investasi yang dimilikinya.

"Dengan mengetahui profil risiko, investor bisa menentukan kelas aset mana yang paling sesuai. Reksadana merupakan instrumen investasi yang cocok bagi banyak kalangan karena memiliki banyak ragam dengan tingkat risiko yang berbeda-beda, sehingga dapat disesuaikan dengan beragam profil dan kebutuhan investor," kata Freddy dalam keterangan tertulis.

Menurut dia, investor yang tidak suka dengan volatilitas berlebihan dan merasa cukup nyaman dengan potensi imbal hasil investasi yang tidak terlalu tinggi biasanya akan jatuh pada profil risiko konservatif. Profil risiko konservatif bisa juga terjadi karena kebutuhan investasi jangka pendek.

Sebaliknya, investor yang tidak takut dengan volatilitas dan ingin mengejar potensi imbal hasil yang tinggi, terutama karena jangka waktu investasinya panjang, biasanya akan jatuh pada profil agresif. Nah, jika investor cenderung berada di tengah-tengah, profil risikonya adalah moderat.  

Maka, secara umum reksadana pasar uang cocok untuk profil risiko konservatif, reksadana pendapatan tetap untuk profil risiko moderat, dan reksadana saham untuk profil risiko agresif. Namun tentu saja bauran dari tingkat keberanian investor menghadapi volatilitas, target imbal hasil yang diinginkan, dan jangka waktu investasi akan sangat beragam. 

Ia menyampaikan bisa saja investor dengan profil risiko konservatif tetap mengalokasikan sedikit dananya di reksadana saham, atau investor berprofil risiko agresif punya sedikit kebutuhan jangka pendek dapat dipenuhi oleh reksadana pasar uang.

Profil risiko dan kebutuhan investasi setiap orang berbeda, dan menentukan portofolio investasi hanya dengan ikut-ikutan pilihan kebanyakan orang lain adalah tidak tepat.

"Jadi, di saat orang lain panik saat ini, mungkin saja sebenarnya kita tidak perlu ikut-ikutan panik! Ingat, kebutuhan investasi dan portofolio investasi Anda tidak sama dengan orang lain," ucap Freddy.  

Sekarang di mana sebaiknya saya simpan uang saya?

Pandemi corona telah menekan pasar finansial di hampir seluruh kawasan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kondisi pasar yang terus terkoreksi membuat investor cenderung hati-hati dalam menempatkan dananya dan memilih untuk memegang tunai. Apakah tepat menyimpan porsi tunai di kondisi seperti saat ini?

"Memilih untuk memegang dana tunai memang membuat kita bisa dengan mudah menggunakannya seandainya ada kebutuhan mendadak saat kita sedang #dirumahaja. Namun perlu diingat, nilai uang kita tidak akan berkembang, dan justru tergerus inflasi," kata Freddy.

Dalam kondisi seperti ini, ia melanjutkan, menempatkan uang kita di reksadana yang dikelola oleh manajer investasi (MI) yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pengelolaan investasi dapat menjadi pilihan di tengah kebingungan kita.

"Dan yang sama pentingnya juga, sesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan investasi kita," imbuhnya.

Menurutnya, jika berkaca dari kondisi krisis dan kepanikan pasar di masa lalu seperti pada krisis Asia 1998 dan krisis global 2008, terlihat bahwa koreksi tajam yang terjadi di pasar finansial cenderung diikuti dengan kenaikan tajam setelahnya, dalam jangka menengah-panjang.

"Jadi, tetaplah berinvestasi sesuai profil risiko untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang. Untuk kenyamanan, carilah manajer investasi yang memiliki platform investasi digital sehingga kita dapat berinvestasi di rumah aja," kata Freddy.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.