Kapan Waktu yang Tepat untuk Investasi Reksadana?

Bareksa • 27 Mar 2020

an image
Ilustrasi tiga pemuda pria muda berteman sedang melihat handphone smartphone

Investasi adalah sarana untuk mengumpulkan uang, sehingga kita tidak harus menunggu kaya dulu untuk memulainya

Bareksa.com - Kita semua sudah tahu pentingnya investasi, yang lebih daripada sekadar menabung, untuk kebutuhan keuangan kita di masa depan. Akan tetapi masih banyak bingung kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi.

Bahkan, banyak yang mengira kalau kita sebaiknya berinvestasi kalau sudah punya uang yang banyak. Definisi punya uang banyak atau kaya ini yang membuat kita semakin bingung, itu mungkin terjadi 5 tahun atau 10 tahun lagi.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk investasi?

Sekarang adalah waktu yang tepat karena mulai sedini mungkin lebih baik sehingga bisa memetik hasil lebih awal. Perlu diingat, investasi adalah sarana untuk mengumpulkan uang, sehingga kita tidak harus menunggu kaya dulu untuk memulainya.

Untuk memahaminya, mari kita gunakan contoh. Ada tiga sekawan bernama Adi, Benny dan Charlie. Mereka sama-sama lahir di tahun 2000 dan sama-sama bersekolah hingga sarjana.

Kemudian, di tahun 2020 ini, mereka semua sudah lulus kuliah dan mulai bekerja. Dengan penghasilan pas-pasan, Adi mulai menyisihkan sebagian uangnya untuk berinvestasi di reksadana. Sementara kedua temannya menggunakan seluruh uang gajinya untuk bersenang-senang.

Adi dengan rutin menyisihkan Rp100.000 setiap bulan untuk dibelikan reksadana. Reksadana pilihan Adi adalah reksadana pendapatan tetap, yang mayoritas portofolionya adalah efek surat utang.

Berdasarkan data marketplace Bareksa, Top 5 reksadana pendapatan tetap bisa mencatatkan imbal hasil (return) rata-rata 22,6 persen dalam tiga tahun terakhir (per 26 Maret 2020). Artinya, per tahun top 5 reksadana tersebut rata-rata bisa menghasilkan 7,5 persen.

Tabel Top 5 Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa

per 26 Maret 2020, sumber: Bareksa.com

Benny menunggu usia 22 tahun, yakni pada tahun 2022, baru memulai investasi. Dengan modal yang sama, Rp100.000 per bulan, Benny juga membeli reksadana pendapatan tetap dengan asumsi return yang sama 7,5 persen per tahun.

Charlie baru mau mulai investasi ketika berumur 24 tahun, yakni pada 2024. Dia juga ingin membeli reksadana pendapatan tetap tetapi dengan modal lebih besar, yakni Rp200.000 per bulan.

Bagaimana hasilnya enam tahun mendatang?

Berdasakan simulasi Bareksa menggunakan asumsi perkiraan investasi di reksadana pendapatan tetap, hasil investasi Adi pada Maret 2026 mencapai Rp9,21 juta.

Sementara itu, hasil investasi Benny sudah mencapai Rp6,71 juta per Maret 2026. Pada saat yang sama, nilai investasi Charlie baru mencapai Rp5,39 juta.

Grafik Hasil Simulasi Investasi Adi, Benny, Charlie

Sumber: Kalkulator Investasi Bareksa

Dari hasil simulasi tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa investasi dengan modal yang kecil dalam waktu panjang bisa memberikan potensi keuntungan atau return yang besar dibandingkan dengan investasi untuk waktu yang pendek meskipun modalnya besar.

Investasi itu layaknya pohon, semakin lama akan tumbuh dan berkembang selama kita merawatnya dengan baik. Maka dari itu, waktu yang tepat untuk memulai investasi adalah sekarang, saat ini juga karena dalam waktu yang panjang kita akan bisa menikmati hasil investasi tersebut.

Perlu diketahui, reksadana adalah kumpulan dana masyarakat pemodal (investor) yang dikelola oleh manajer investasi untuk dimasukkan ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Jadi, ayo mulai investasi sekarang juga.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.