Pasar Belum Kunjung Kondusif, Bagaimana Prospek Investasi Reksadana Saham?

Bareksa • 19 Feb 2020

an image
Refleksi sejumlah karyawan melakukan donor darah dengan latar belakang pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/8/2109). Perdagangan IHSG ditutup menguat 84,72 poin atau 1,38 persen ke posisi 6.204,2. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd.

IHSG sejauh ini sudah merosot hingga 6,55 persen secara year to date (YtD) per 18 Februari 2020.

Bareksa.com - Di awal tahun 2020, pasar saham Indonesia ternyata masih menunjukkan kinerja mengecewakan, melanjutkan tren negatif yang terjadi pada tahun sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sejauh ini sudah merosot hingga 6,55 persen secara year to date (YtD) per 18 Februari 2020.

Kondisi tersebut jelas memberikan dampak negatif bagi kinerja reksadana secara umum. Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham sudah anjlok 9,32 persen YtD dalam periode yang sama.

Meski begitu, reksadana saham sebenarnya masih bisa menjadi instrumen investasi yang optimal dengan racikan portofolio yang tepat, terlebih untuk tujuan jangka waktu yang panjang.

Seperti diketahui, karakteristik reksadana saham memang memiliki potensi risk dan return yang paling tinggi dibandingkan jenis reksadana lainnya. Ketika siklus ekonomi tengah mengalami perlambatan seperti saat ini, kinerja reksadana saham tentu akan ikut merosot.

Namun, perbaikan kinerja reksadana saham akan mulai terlihat ketika kondisi ekonomi secara umum mulai pulih dan menunjukkan tren positif.

Karakteristik Reksadana Saham

Sesuai namanya, reksadana saham adalah jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas atau saham. Karena mayoritas portofolionya ada di efek saham, maka sifat dan pergerakan reksadana ini mirip dengan sifat dan pergerakan saham.

Reksadana saham ini memiliki fluktuasi tinggi, artinya bisa naik dan turun dalam jangka waktu cepat. Akan tetapi, dalam jangka waktu panjang, reksadana jenis ini berpotensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan jenis produk lain.

Tujuan investasi reksadana saham adalah untuk pertumbuhan harga saham atau unit dalam jangka panjang. Risikonya relatif lebih tinggi dari reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, tetapi memiliki potensi tingkat pengembalian yang paling tinggi (high risk high return).

Maka itu, investasi di reksadana saham cocok untuk investasi jangka panjang, di atas 5 tahun. Contoh tujuan keuangan jangka panjang adalah untuk pendidikan anak, liburan ke luar negeri, atau persiapan dana pensiun.

Mengingat sifatnya yang high risk high return, tentu saja jenis reksadana ini cocok untuk investor yang memiliki profil risiko tinggi atau agresif. Pemilik profil risiko agresif sangat siap untung dan juga siap rugi (risk taker). Orang dengan profil risiko agresif siap kehilangan sebagian besar bahkan seluruh dana investasinya demi imbal hasil yang besar.

Saran untuk Investor

Di tengah kondisi yang belum kondusif seperti saat ini, reksadana saham masih bisa menjadi salah satu jenis investasi yang menjadi pilihan. Namun, sebaiknya investor untuk melakukan diversifikasi portofolio reksadana agar mendapatkan imbal hasil yang maksimal.

Sebagai contoh, investor bisa mencampur reksadana saham dengan reksadana pendapatan tetap. Seperti diketahui, prospek suku bunga yang masih akan rendah dan likuiditas yang tetap longgar untuk 1 hingga 2 tahun ke depan menjadikan reksadana pendapatan tetap sebagai instrumen yang cocok dipilih untuk dikombinasikan dengan reksadana saham.

Misal, setidaknya investor bisa mengalokasikan 40-50 persen ke dalam reksadana pendapatan tetap, kemudian 20-30 persen ke dalam reksadana saham, dan sisanya bisa dialokasikan ke jenis reksadana lainnya.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.