Empat Reksadana Saham Syariah Global Melesat Saat IHSG Anjlok, Ini Rahasianya

Bareksa • 19 Feb 2020

an image
Petugas menghitung uang pecahan Rupiah dan dolar AS di Valuta Inti Prima (VIP), Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Pada 14 Februari 2020, IHSG menurun ke level terdalam ke level 5.866,94

Bareksa.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak sepekan terakhir terus mengalami penurunan. Puncaknya pada 14 Februari 2020, IHSG menurun ke level terdalam ke level 5.866,94.

Penurunan ini membuat IHSG tidak lagi berada di level 6.000. Padahal pada 31 Januari 2020, IHSG masih sempat berada pada level 6.057,6 sebelum kemudian IHSG harus terlempar ke level 5.940,05 pada 30 Januari 2020.

Penurunan IHSG tersebut, tentunya berdampak pada reksadana saham. Berdasarkan data Bareksa, dari 74 reksadana saham yang ada di Bareksa, hampir semuanya mencatatkan kinerja negatif dalam sepekan terakhir.

Namun demikian, keempat reksadana saham syariah global yang ada di Bareksa tetap mencatatkan kinerja positif dalam sepekan terakhir.

Keempat reksadana itu ialah Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS, Schroder Global Sharia Equity Fund, Aberdeen Standard Syariah Asia Pacific Equity USD Fund dan BNP Paribas Cakra Syariah USD.

Return Reksadana Saham Syariah Global Sepekan


Sumber : Bareksa

Pertumbuhan return reksadana saham syariah global ini berbanding terbalik dengan kinerja IHSG, indeks reksadana saham dan indeks reksadana saham syariah. Tercatat, IHSG dalam setahun terakhir tercatat minus 9,7 persen. Senada, indeks reksadana saham anjlok 23,73 persen dan indeks reksadana saham syariah longsor 38,17 persen.

NAV IHSG, Indeks Reksadana Saham dan Reksadana Saham Syariah 1 Tahun


Sumber : Bareksa

Penyebab tetap positifnya kinerja reksadana saham syariah global ternyata karena penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Perbandingan USD/IDR


Sumber : Bareksa

Sesuai dengan peraturan OJK, ketentuan instrumen investasi yang diperbolehkan bagi reksadana syariah global adalah pasar uang, obligasi dan saham. Kemudian dari 100 persen dana yang dimiliki, maksimum yang boleh diinvestasikan luar negeri adalah 15 persen, dengan kata lain minimum 85 persen harus ditempatkan pada instrumen investasi dalam negeri.

Untuk reksadana saham, karena tidak tersedianya saham dalam mata uang dolar AS dan investasi ke luar negeri dibatasi maksimum 15 persen, maka umumnya manajer investasi akan menempatkannya pada instrumen saham berbasis rupiah.

Karena pembelian reksadana ini menggunakan dolar, tetapi asetnya berbasiskan rupiah, maka ketika rupiah menguat kinerjanya justru meningkat terdorong keuntungan selisih kurs. Kurs dolar AS melemah terhadap rupiah, maka reksadana mendapatkan keuntungan ganda dari kenaikan harga saham dan kurs.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.