Cara Mudah Siapkan Modal Beli Motor Listrik Gesits dengan Investasi Reksadana

Bareksa • 20 Jan 2020

an image
Tampilan motor Gesits. (Gesits.co.id)

Cukup sisihkan Rp33.333 per hari sudah bisa punya motor listrik Gesits

Bareksa.com - Ingin berpartisipasi aktif jaga bumi khususnya dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil? Jika iya, motor listrik yang digagas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama PT Gesits Technologies Indo (GTI), bertajuk motor listrik Gesits bisa dipertimbangkan.

Setelah pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2017, Gesits mulai diperdagangkan jelang akhir tahun lalu dengan harga Rp24 juta hingga Rp28 juta. Disebutkan, setiap pembelian Gesits diberikan garansi 3 tahun.

Gesits menggunakan baterai Lithium 72V/20Ah dan disebutkan mampu menempuh jarak sejauh 50 kilometer (Km). Soal lampu, Gesits sudah memakai lampu LED baik pada lampu sein, stop lamp dan lampu belakangnya. Sementara headlamp mengadopsi jenis HID projection. Sedangkan charging-nya berkapasitas 550 watt, membutuhkan waktu 3 sampai 4 jam untuk mengisi penuh baterainya dari 0-100 persen.

Karena dukungan pemerintah yang tinggi pada motor listrik Gesits, seperti dikutip Otosia, mendorong terwujudnya kerja sama yang terjalin untuk produksi, pemasaran dan operasional. Kerja sama dimaksud terwujud antara akademisi, BUMN dan pihak swasta.

Maka, terbentuklah kerja sama yang melibatkan banyak pihak, di antaranya adalah ITS, ITB, UNS dari perwakilan akademisi. Kemudian dari pihak BUMN diwakili oleh PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi, PT Pindad, PT Len Industri, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Untuk pihak swasta diwakili oleh PT Gesits Technologies Indo (GTI).

Nah setelah kerja sama tersebut terjalin, kemudian PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi dengan PT Gesits Technologies Indo (GTI), mendirikan pabrik baru untuk memproduksi motor listrik Gesits yaitu PT Wijaya Manufakturing (WIMA) yang berada di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Investasi Reksadana

Tertarik untuk membeli motor listrik Gesits? Kalau belum punya uang yang cukup, usahakan jangan ngutang ya, sebab nanti harganya jatuhnya akan jadi lebih mahal. Kamu dapat mencoba sebuah teknik sederhana dengan rutin menginvestasikan uang ke produk investasi yaitu reksadana pendapatan tetap.

Reksadana punya potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan menabung di bank atau deposito. Top 5 reksadana jenis pendapatan tetap di marketplace Bareksa dalam dua tahun terakhir (per 17 Januari 2020) bisa memberikan imbal hasil (return) mulai dari 11,88 persen hingga 16,91 persen, atau rata-rata 14,11 persen atau 7,05 persen per tahun.

Top 5 Reksadana Pendapatan Tetap Bareksa Return Tertinggi Tiga Tahun

Sumber: Bareksa

Dengan asumsi return tersebut, kita bisa menghitung jumlah uang yang perlu kita sisihkan untuk dibelikan reksadana secara rutin tiap bulannya.

Menurut Kalkulator Investasi Bareksa, kalau kita ingin mengumpulkan Rp28 juta (seharga Gesits dengan perkiraan harga termahal) dalam 24 bulan, maka kita hanya perlu menyisihkan Rp1.090.298 per bulan di reksadana pendapatan tetap atau sekitar Rp36.350 per hari.

Sumber: Bareksa

Seperti terlihat dalam grafik, dengan modal hanya Rp36.350 per hari, kita bisa mengumpulkan modal pokok Rp26,16 juta dalam dua tahun. Uang yang diinvestasikan di reksadana pendapatan tetap tersebut berpotensi tumbuh jadi Rp28 juta dan cukup untuk membeli motor listrik impianmu.

Sumber: Bareksa

Nilai imbal hasil itu lebih optimal jika dibandingkan menabung biasa di bank. Selain itu, imbal hasil reksadana juga tidak dipotong pajak karena bukan merupakan objek pajak. Sedangkan imbal hasil deposito atau tabungan masih dipotong pajak 20 persen.

Sementara itu, jika ternyata nantinya setelah dana terkumpul kamu berubah pikiran dan tidak jadi membeli motor listrik tersebut, maka dana itu bisa kamu gunakan untuk kebutuhan lain yang lebih urgent, seperti tambahan biaya pendidikan anak atau bisa diinvestasikan kembali agar dana terus tumbuh berkembang.

Namun perlu diingat, simulasi tersebut berdasarkan kinerja historikal di masa lalu, yang tidak menjamin potensi imbal hasil akan serupa di masa mendatang. Imbal hasil reksadana di masa depan, bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung kondisi pasar.

Demi kenyamanan berinvestasi pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu.

Untuk diketahui, reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Adapun reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang menempatkan mayoritas investasinya ke dalam instrumen surat utang (obligasi) dan produk pasar uang. Portofolio reksadana pendapatan tetap minimal 80 persen, harus terdiri dari surat utang, sedangkan sisanya merupakan produk pasar uang.

Reksadana pendapatan tetap sebagian besar portofolionya berisi surat utang (obligasi), reksadana ini tidak dikenal dengan nama reksadana obligasi. Reksadana pendapatan tetap juga bukan berarti bahwa investor akan mendapatkan pendapatan tetap.

Akan tetapi, reksadana pendapatan tetap diberikan karena reksadana ini berinvestasi pada instrumen surat utang (obligasi) yang memberikan pendapatan tetap secara berkala dalam bentuk kupon. Oleh karena itu, reksadana ini lebih dikenal dengan reksadana pendapatan tetap (fixed income fund).

Reksadana pendapatan tetap cocok untuk investor yang berprofil risiko moderat yang bisa menerima sedikit fluktuasi nilai investasi. Kembali kami mengingatkan, demi kenyamanan berinvestasi pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko kamu.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.