Rupiah Cetak Rekor, Begini Kinerja Reksadana Dolar

Bareksa • 13 Jan 2020

an image
Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Bank Indonesia menilai cukup confidence terhadap perkembangan rupiah

Bareksa.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika kembali mengalami penguatan. Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) BI pada hari ini (13/1), berada di posisi Rp13.708 per dolar Amerika Serikat, atau mengalami penguatan 0,75 persen dibandingkan posisi pada akhir pekan lalu (10/1), yang ada di posisi Rp13.812 per dolar Amerika.


Sumber: Bank Indonesia

Rupiah yang menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI), nampak sejalan dengan pergerakan rupiah pada pasar spot. Seperti dikutip Kontan, rupiah di pasar spot pada hari ini pukul 10.00, diperdagangkan pada posisi Rp13.679 per dolar AS, menguat 0,68 persen dari posisi Jumat (10/1) yang berada di level Rp13.772 per dolar AS.

Penguatan rupiah pada hari ini, tercatat sebagai level terkuat rupiah terhadap dolar Amerika sejak Februari 2018. Selain itu, rupiah juga disebut-sebut sebagai mata uang yang paling kuat di kawasan Asia terhadap dolar Amerika.

Sementara itu mengutip CNBC Indonesia, rupiah sudah menguat 1,15 persen di hadapan greenback sejak awal tahun ini.


Sumber: CNBC Indonesia

Sebagai informasi, menguat dan melemahnya nilai tukar mengikuti prinsip permintaan dan penawaran (demand & supply). Semakin banyak permintaan terhadap rupiah, maka nilai tukar akan menguat. Sebaliknya, apabila semakin banyak permintaan terhadap dolar Amerika, maka nilai tukar rupiah akan melemah.

Adapun pemicu dari permintaan penawaran ini sangat beragam mulai dari kebutuhan untuk membayar dividen dan bunga utang luar negeri, kegiatan ekspor impor barang dan jasa, transfer devisa, kegiatan investasi dari investor asing ke sektor riil dan instrumen pasar modal seperti saham dan obligasi, kebijakan suku bunga di Indonesia dan Amerika, keyakinan terhadap kondisi perekonomian hingga intervensi dari bank sentral negara bersangkutan.

Pada umumnya, penyebab dari fluktuasi nilai tukar merupakan kombinasi dari faktor-faktor di atas, namun terkadang ada pula satu isu tertentu yang perannya lebih dominan. Misalnya adanya potensi perang dunia III antara Amerika dengan Iran dan atau perang dagang antara Amerika dan China.

Sikap BI

Sementara itu Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI menyampaikan penguatan rupiah akan terus dibiarkan tanpa campur tangan Bank Sentral. Dinilai, pergerakan nilai tukar rupiah yang menguat, adalah bukti fundamental ekonomi membaik.

"Kita tetap melihat rupiah itu sesuai dengan kekuatan pasar. Artinya masih sepanjang sesuai fundamental, kita tidak akan mengintervensi. Ini pun didukung oleh kondisi makro kita yang cukup positif," kata Dody.

Dody melanjutkan kondisi ekonomi makro dalam negeri menjadi sentimen utama yakni Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga tumbuh di atas 5 persen, kemudian inflasi rendah hingga angka survei konsumen yang baik.

"Ditambah lagi kalau kondisi eksternal dan tentunya cadangan devisa yang menguat. Ini faktor yang membuat rupiah cukup confidence. Kami pun cukup confidence terhadap perkembangan rupiah," jelasnya.

Ia menyatakan BI mempunyai perhitungan soal posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. "Tentunya sepanjang ini sesuai nilai fundamental kita tetap membiarkan rupiah ini menguat," kata Dody.

Dampak ke Reksadana

Jenis reksadana yang terkena dampak langsung dari fluktuasi nilai tukar rupiah ialah reksadana berbasis dolar Amerika yang berinvestasi pada saham Indonesia. Umumnya, jenis ini terdapat pada reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap dengan mata uang dolar AS.

Meskipun namanya reksadana dolar Amerika, investasinya tidak selalu di luar negeri sehingga mayoritas asetnya masih ada di dalam Indonesia. Namun, ada jenis reksadana yang diperbolehkan 100 persen berinvestasi di luar negeri, yakni reksadana syariah efek global.

Reksadana dolar di Bareksa terdapat delapan produk reksadana berbasis dolar yakni BNP Paribas Cakra Syariah USD, Manulife Saham Syariah Asia Pasific Dolar AS, Schroder Global Sharia Equity Fund, BNP Paribas Prima USD, Schroder USD Bond Fund, Aberdeen Standard Syariah Asia Pasific Equity USD Fund, Manulife USD Fixed Income, dan Manulife Greater Indonesia Fund.


Sumber: Bareksa

Berdasarkan tabel tersebut, tiga reksadana dalam dolar Amerika yang memiliki potensi imbal hasil (return) tertinggi untuk jangka waktu investasi 1 tahun dan 3 tahun. Berikut ulasannya :

1. BNP Paribas Cakra Syariah USD

Produk yang diluncurkan pada 16 Februari 2016 oleh PT BNP Paribas Asset Management ini, memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai US$63,33 juta.

Pergerakan NAB/Unit MBNP Paribas Cakra Syariah USD


Sumber : Bareksa

Menurut prospektus, Reksa Dana Syariah BNP Paribas Cakra Syariah USD bertujuan untuk memberikan potensi tingkat pertumbuhan investasi yang menarik dalam jangka panjang dalam mata uang Dolar Amerika Serikat melalui mayoritas investasi pada efek syariah luar negeri bersifat ekuitas yang memenuhi prinsip syariah di pasar nodal.

Kebijakan investasi yaitu :

- Minimum 80 persen dan maksimum 100 persen dari nilai aktiva bersih pada efek syariah bersifat ekuitas
- Minimum 0 persen dan maksimum 20 persen dari nilai aktiva bersih pada instrumen pasar uang syariah

2. Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia pada 15 Februari 2016, meluncurkan Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS, yang hingga Desember 2019 tercatat memiliki dana kelolaan US$263,66 juta.

Pergerakan NAB/Unit Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS


Sumber : Bareksa

Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS bertujuan untuk memberikan pertumbuhan investasi jangka panjang dengan berinvestasi pada efek bersifat ekuitas yang sesuai dengan Prinsip Syariah, yang dijual melalui penawaran umum dan atau diperdagangkan di Bursa Efek di wilayah Asia Pasifik.

Kebijakan investasi yang diterapkan yakni :

- Minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek syariah bersifat ekuitas.
- Minimum 0 persen dan maksimum 20 persen pada efek syariah berpendapatan tetap dan/atau sukuk dan/atau instrumen pasar uang syariah.

3. Schroder Global Sharia Equity Fund

PT Schroder Investment Management Indonesia meluncurkan Schroder Global Sharia Equity Fund pada 22 Februari 2016. Tercatat pada Desember 2019, dana kelolaannya mencapai US$96,03 juta.  

Grafik Pergerakan NAB/Unit Schroder Global Sharia Equity Fund


Sumber : Bareksa

Schroder Global Syariah Equity Fund bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan modal, utamanya melalui investasi kedalam efek syariah luar negeri bersifat Ekuitas yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

Kebijakan investasinya yaitu :

- Minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek bersifat ekuitas.
- Minimum 0 persen dan maksimum 20 persen pada efek pendapatan tetap dan/atau pasar uang syariah.

Perlu diingat, reksadana saham merupakan jenis reksadana yang mengalokasikan portofolionya pada saham, sehingga nilainya bisa berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi memiliki potensi besar dalam jangka panjang.

Jenis reksadana ini merupakan pilihan cocok bagi investor dengan profil risiko tinggi, dan lebih optimal untuk investasi dalam jangka panjang.

Reksadana ialah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.