AUM Reksadana Saham Anjlok 15 Persen di 2019, 5 Produk Ini Juara Dana Kelolaan

Bareksa • 07 Jan 2020

an image
Ilustrasi seorang manajer investasi sedang mengelola portofolio antara jual atau beli instrumen investasinya agar produk reksadana yang dikelola tumbuh optimal (shutterstock)

Per Desember 2019 reksadana saham menjadi jenis reksadana dengan nilai AUM terbesar kedua mencapai Rp139,16 triliun

Bareksa.com - Industri reksadana di Indonesia mengalami sedikit koreksi pada Desember 2019. Hal itu tercermin dari menurunnya nilai dana kelolaan (asset under management/AUM).

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AUM industri reksadana tercatat Rp542,2 triliun per Desember 2019, atau turun 0,41 persen dibandingkan bulan November 2019 yang sebesar Rp544,42 triliun.

Penurunan dana kelolaan yang dicatatkan pada Desember 2019, merupakan penurunan yang kedua kali beruntun sejak bulan November 2019.
Namun jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu Rp507,09 triliun, maka sepanjang tahun 2019 AUM industri reksadana Tanah Air tercatat tumbuh 6,92 persen.


Sumber: OJK, diolah Bareksa

Jika dilihat berdasarkan jenisnya, per Desember 2019 reksadana saham menjadi jenis reksadana dengan nilai AUM terbesar kedua, yakni mencapai Rp139,16 triliun atau setara dengan 25,67 persen dari total keseluruhan AUM industri.

Di sisi lain, secara bulanan dana kelolaan reksadana saham meningkat 1,39 persen pada Desember dibandingkan November 2019 yang sebesar Rp137,26 triliun. Dibandingkan akhir Desember 2018 yang sebesar Rp165,23, maka AUM reksadana saham pada Desember 2019 sudah anjlok 15,78 persen.

Dari total AUM reksadana saham Rp139,16 triliun tersebut, produk reksadana saham mana saja yang mencatatkan dana kelolaan terbesar per Desember 2019?

5 Reksadana Saham Dana Kelolaan Terbesar per Desember 2019


Sumber: OJK, diolah Bareksa

Mengacu pada data tersebut, saat ini terdapat 5 produk reksadana saham dengan AUM terbesar.139,16

Produk Schroder Dana Prestasi Plus yang dikelola oleh PT Schroder Investment Management Indonesia menjadi produk reksadana saham dengan AUM terbesar yakni mencapai Rp13,84 triliun atau setara dengan 9,95 persen dari total AUM reksadana saham.

Berikutnya di urutan kedua Batavia Dana Saham yang dikelola oleh PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen dengan AUM Rp6,01 triliun (4,32 persen), kemudian di urutan ketiga Schroder Dana Prestasi yang dikelola oleh PT Schroder Investment Management Indonesia dengan AUM Rp5,31 triliun (3,82 persen).

Lalu di urutan keempat Ashmore Dana Ekuitas Nusantara yang dikelola oleh PT Ashmore Asset Management Indonesia dengan AUM Rp5,25 triliun (3,77 persen), dan di urutan kelima Mandiri Saham Atraktif yang dikelola oleh PT Mandiri Manajemen Investasi dengan AUM Rp4,55 triliun (3,27 persen).

Sebagai informasi, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.