Ditopang Lonjakan Saham BMRI, Reksadana Ini Cetak Return Tertinggi

Bareksa • 06 Nov 2019

an image
Sejumlah nasabah melakukan transaksi keuangan di Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Mandiri Jakarta Juanda. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Saham BMRI ditutup meroket 4,21 persen ke level Rp7.200 per saham pada perdagangan

Bareksa.com - Harga saham PT Bank Mandiri (Persero)Tbk (BMRI) ditutup meroket 4,21 persen ke level Rp7.200 per saham pada perdagangan Selasa, 5 November 2019.

Volume transaksi perdagangan saham BMRI kemarin tercatat 471.265 lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp333,55 miliar. Nilai itu melonjak signifikan dibandingkan transaksi sehari sebelumnya yang sebanyak 282.924 lot atau senilai Rp195,81 miliar. Lonjakan itu turut mendorong kinerja reksadana yang memiliki saham BMRI dalam portofolionya.

Berdasarkan reksadana saham yang dijual Bareksa, kemarin reksadana saham Simas Saham Bertumbuh menjadi reksadana saham dengan imbal hasil (return) harian tertinggi dibandingkan seluruh produk lain yang sejenis. Berikut ulasannya :

Simas Saham Bertumbuh


Sumber: Bareksa   

Reksadana saham yang dikelola oleh PT Sinarmas Asset Management ini berhasil naik 2,37 persen pada perdagangan kemarin, jauh mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat hanya menguat 1,35 persen.

Hingga September 2019, Simas Saham Bertumbuh juga telah memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp53,84miliar.

Simas Saham Bertumbuh bertujuan untuk memperoleh pendapatan yang optimal dalam jangka panjang dengan tingkat fleksibilitas investasi yang cukup tinggi dengan berinvestasi sebagian besar pada efek bersifat ekuitas, serta dapat berinvestasi pada berbagai jenis portofolio investasi yang terdiri dari efek bersifat utang dan/atau efek beragun aset serta instrumen pasar uang dan/atau deposito sesuai peraturan perundang–undangan yang berlaku.

Arah kebijakan investasinya yaitu :

• 80 - 98 persen dalam efek ekuitas.
• 2 - 20 persen dalam instrumen pasar uang, efek hutang, EBA

Melansir fund fact sheet per September 2019, selain saham BMRI beberapa aset lain yang terdapat dalam portofolio Simas Saham Bertumbuh antara lain

• PT Astra International Tbk (ASII)
• PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
• PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
• PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Sebagai informasi, Simas Saham Bertumbuh dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp200.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 25 Agustus 2015 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Maka dari itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang. Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.