Reksadana Hari Ini : IHSG Menguat, Return Dua Reksadana Saham Ini Terbang

Bareksa • 16 Oct 2019

an image
Ilustrasi pasangan wanita dan pria sedang melihat ke layar laptop dengan gembira happy senang bahagia melihat hasil investasi reksadana saham obligasi surat utang.

Mega Asset Greater Infrastructure dan MNC Dana Syariah Ekuitas mencetak return 2,18 persen dan 1,49 persen dalam sehari

Bareksa.com - Berikut reksadana yang diperdagangkan di marketplace Bareksa dengan return tertinggi, beserta kinerja indeks benchmark periode sebulan terakhir :

Reksadana Saham

IHSG : -2,79  persen
Indeks Reksadana Saham : -3,79  persen
Narada Saham Indonesia : -0,3 persen

Indeks Reksadana Saham Syariah : -4,61 persen
Manulife Saham Syariah Asia Pasi?k Dollar AS : -0,72 persen

Reksadana Campuran

Indeks Reksadana Campuran : -1,5 persen
Schroder Dana Kombinasi : 0,67 persen

Indeks Reksadana Campuran Syariah : -1,25 persen
Cipta Syariah Balanced : 0,55 persen

Reksadana Pendapatan Tetap

Indeks Reksadana Pendapatan Tetap: 0,3 persen
Mega Asset Mantap Plus: 1,21 persen

Indeks Reksadana Pendapatan Tetap Syariah : 0,2 persen
Reksa Dana Syariah Majoris Sukuk Negara Indonesia : 0,97 persen

Reksadana Pasar Uang

Benchmark:
- Bunga deposito sebelum pajak dengan dana kurang dari Rp100 juta dan tenor satu bulan :
> BCA : 0,395 persen per bulan
> Bank Mandiri : 0,354 persen per bulan
> BNI : 0,354 persen per bulan
> BRI : 0,354 persen per bulan

Indeks Reksadana Pasar Uang : 0,37 persen
Prospera Dana Lancar : 0,67 persen

Indeks Reksadana Pasar Uang Syariah : 0,21 persen
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia : 0,62 persen

Ringkasan Informasi Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 15 Oktober 2019 naik 0,51 persen ke level 6.158,17.  Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih Rp643 miliar. Benchmark obligasi pemerintah tetap di level 7,2 persen, pada 15 Oktober 2019.

Seiring dengan kenaikan IHSG, di marketplace Bareksa terdapat dua reksadana saham yang mampu mencetak imbal hasil (return) positif pada perdagangan 15 Oktober 2019, yaitu Mega Asset Greater Infrastructure dan MNC Dana Syariah Ekuitas.

Reksadana Mega Asset Greater Infrastructure mencetak imbal hasil (return) 2,18 persen dalam sehari pada 15 Oktober 2019. Berdasarkan fund fact sheet periode September 2019, portofolio investasi reksadana ini adalah saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Sedangkan MNC Dana Syariah Ekuitas mencetak imbal hasil (return) 1,49 persen dalam sehari pada 15 Oktober 2019. Berdasarkan fund fact sheet periode September 2019, portofolio investasi reksadana ini adalah saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Sementara itu, reksadana syariah hanya bisa berinvestasi pada efek yang masuk dalam pengelolaan secara syariah.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

(AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.