Tiga Reksadana Sucor Ini Melesat Karena Punya Saham ANTM dalam Portofolio

Bareksa • 03 Sep 2019

an image
Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management saat berbicara dalam acara market outlook di Jakarta (www.sucorinvestam.com)

Harga saham PT Aneka Tambang Tbk kemarin tancap gas ditutup meroket 9,34 persen ke level Rp1.170 per saham

Bareksa.com - Mengawali perdagangan di bulan September 2019, harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) langsung tancap gas dengan ditutup meroket 9,34 persen ke level Rp1.170 per saham pada penutupan perdagangan Senin (02/09/2019).

Volume transaksi perdagangan ANTM kemarin tercatat sebanyak 3,81juta lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp436,81 miliar, melonjak signifikan dibandingkan dengan transaksi sehari sebelumnya yang sebanyak 1,01 juta lot dengan nilai transaksi Rp107,25 miliar.

Harga saham ANTM mendapat energi positif dari harga nikel dunia yang terus melaju akibat adanya ekspektasi naiknya permintaan untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Selain itu, potensi adanya krisis pasokan dalam jangka panjang atas komoditas ini menyusul percepatan larangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah Indonesia yang notebene merupakan eksportir nikel terbesar di dunia.

Berdasarkan International Nickel Study Group (INSG), pada tahun 2017 Indonesia menduduki posisi kedua sebagai produsen nikel terbesar dengan kapasitas produksi mencapai 205.000 ton.

Laporan yang sama juga menuliskan bahwa Ibu Pertiwi berkontribusi hampir 100 persen atas pertumbuhan ekspor nikel, dan sejak 2015 telah menjadi eksportir tunggal terbesar.

Ekspor nikel Indonesia menyumbang 39 persen dan 63 persen dari total ekspor nikel di tahun 2016 dan 2017.

Dengan demikian, wajar saja jika harga nikel dunia melesat karena Indonesia sebagai eksportir nikel terbesar terancam akan mengurangi pasokan mulai tahun depan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Mineral (ESDM) pada Senin ini secara resmi memutuskan pemberlakuan larangan ekspor komoditas bijih nikel per 1 Januari 2020.

Di sisi lain, lonjakan saham ANTM yang terjadi pada perdagangan kemarin turut mendorong kinerja reksadana yang memiliki saham tersebut dalam portofolionya.

Berdasarkan data reksadana yang dijual Bareksa, kemarin tiga produk reksadana milik PT Sucorinvest Asset Management berhasil menempati jajaran teratas imbal hasil harian tertinggi. Berikut ulasannya.

1. Sucorinvest Flexi Fund


Sumber: Bareksa   

Reksadana saham Sucorinvest Flexi Fund berhasil mencatatkan kenaikan 1,24 persen pada perdagangan kemarin, padahal di saat yang bersamaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,59 persen.

Hingga Juli 2019, Sucorinvest Flexi Fund juga telah memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp318,92 miliar.

Sucorinvest Flexi Fund merupakan pilihan investasi jangka menengah/panjang bagi pemodal yang bertujuan untuk memberikan tingkat pertumbuhan modal yang optimal melalui investasi pada efek ekuitas, efek utang dan instrumen pasar uang.

Sebagai informasi, Sucorinvest Flexi Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 6 Desember 2006 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

2. Sucorinvest Sharia Equity Fund


Sumber: Bareksa   

Reksadana saham Sucorinvest Sharia Equity Fund berhasil mencatatkan kenaikan 1,18 persen pada perdagangan kemarin, padahal di saat yang bersamaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,59 persen.

Hingga Juli 2019, Sucorinvest Sharia Equity Fund juga telah memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp188,16 miliar.

Sucorinvest Sharia Equity Fund bertujuan untuk mengoptimalkan tingkat keuntungan dalam jangka panjang pada saham berbasis syariah dengan melakukan investasi minimum 25 persen dari net asset value (NAV) diinvestasikan pada saham-saham berkapitalisasi kecil – menengah yang memiliki pertumbuhan bisnis yang baik.

Sebagai informasi, Sucorinvest Sharia Equity Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 18 November 2013 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

3. Sucorinvest Maxi Fund

Sumber: Bareksa

Reksadana saham Sucorinvest Maxi Fund berhasil mencatatkan kenaikan 0,4 persen pada perdagangan kemarin, padahal di saat yang bersamaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,59 persen.

Hingga Juli 2019, Sucorinvest Maxi Fund juga telah memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) Rp169,31 miliar.

Sucorinvest Maxi Fund bertujuan untuk memberikan apresiasi modal dan tingkat keuntungan yang optimal dalam jangka panjang dengan mengkapitalisasi pasar modal indonesia.

Sebagai informasi, Sucorinvest Maxi Fund dapat dibeli di Bareksa dengan minimal pembelian awal Rp100.000. Reksadana saham yang diluncurkan sejak 1 Oktober 2014 ini bekerja sama dengan bank kustodian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.