Perang Dagang AS-China Masih Berlanjut, Bagaimana Dampaknya ke Reksadana?

Bareksa • 16 Aug 2019

an image
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump berpidato di gedung White House, Washington, AS (21/5/2019) (www.whitehouse.gov)

Tidak hanya saling melempar ancaman, kedua negara juga saling menetapkan tarif bea masuk untuk ekspor impor antar negara

Bareksa.com - Perang dagang yang terus berkecamuk antara dua raksasa ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China yang bermula sejak awal 2018 lalu ternyata masih berlanjut hingga saat ini.

Tidak hanya saling melempar ancaman, kedua negara itu juga saling menetapkan tarif bea masuk untuk ekspor impor antar negara. Lantas, bagaimana efek dari perang dagang terhadap investasi reksadana?

Perang dagang pada dasarnya adalah penetapan tarif atau bea masuk terhadap barang impor dari suatu negara. Biasanya ada 3 tujuan penetapan tarif ini yaitu untuk menghambat impor barang/jasa luar negeri, melindungi barang/jasa produksi dalam negeri, dan atau menambah pendapatan pemerintah dari pajak.

Pengenaan tarif atau bea masuk sebenarnya merupakan praktik yang lumrah dalam perdagangan internasional. Seperti bea masuk atas barang mewah, minuman beralkohol, bahan baku yang tersedia di dalam negeri dan lainnya. Hal itu menjadikan barang dari suatu negara lebih murah dibeli di negara asalnya dibandingkan harga ketika sudah diimpor.

Namun yang menjadi permasalahan yaitu apabila suatu negara merasa keberatan atas tarif bea masuk impor yang ditetapkan negara lain terhadap produknya. Keberatan tersebut dapat direspons dalam bentuk protes, mediasi di pengadilan arbitrase internasional, atau bahkan pembalasan dalam bentuk pengenaan bea masuk kembali.

Dampak Perang Dagang

Menyandang status sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perang dagang antara AS dan China tentu tidak hanya berdampak terhadap ekonomi kedua negara yang bersangkutan, melainkan juga menimbulkan efek domino bagi ekonomi negara lain hingga ke pasar keuangan global.

Sebagai contoh, turunnya permintaan dan harga komoditas seperti batu bara karena China merupakan importir dan konsumen terbesar di dunia. Bagi Indonesia, batu bara merupakan salah satu komoditas andalan ekspor sehingga membuat defisit neraca perdagangan melebar.

Di sisi lain, perang dagang juga dapat melebar menjadi perang mata uang. Dimana dalam rangka menjaga daya saing produk ekspornya, nilai tukar mata uang negara tersebut mengalami pelemahan (depresiasi).

Entah disengaja atau tidak, ketika nilai tukar renmimbi (RMB) atau yuan China melemah dari sekitar level 6 yuan koma-an menjadi 7 yuan per 1 dolar AS, Negeri Paman Sam menuduh Negeri Panda sebagai manipulator mata uang.

Hingga saat ini, belum ada indikasi jelas kapan perang dagang ini akan mereda. Perubahan hasil perundingan dari yang sebelumnya baik bisa berubah menjadi buruk dan sebaliknya dalam hitungan minggu bahkan hari. Perkembangan mengenai sikap Amerika Serikat bisa dilihat dari berbagai cuitan Presiden AS Donald Trump di akun Twitternya.

Pasar Modal dan Reksadana

Apakah perang dagang memiliki efek ke pasar modal? Jawabannya secara langsung tidak. Sebab dana asing yang masuk dan keluar dari Indonesia untuk investasi saham dan obligasi yang menjadi aset dasar reksadana tidak dikenakan tarif bea masuk atau bea keluar.

Kinerja IHSG dan obligasi juga lebih banyak disebabkan oleh hal yang sifatnya fundamental seperti kinerja laporan keuangan emiten, suku bunga dan kondisi likuiditas global.

Mengacu ke indeks reksadana Bareksa, sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Kamis. 15 Agustus 2019 reksadana pendapatan tetap masih menjadi yang terdepan dengan kenaikan 6,09 persen year to date (YtD).

Posisi kedua ditempati reksadana campuran (4 persen YtD), ditempat ketiga reksadana pasar uang (3,09 persen YtD), dan terakhir reksadana saham (-3,07 persen YtD).

Jika dilihat secara teori, kondisi kinerja laporan keuangan yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, suku bunga yang menurun, dan atau kebijakan likuiditas yang longgar, akan berdampak positif terhadap kinerja produk investasi. Sebaliknya, ketika kinerja laporan keuangan menurun, suku bunga naik dan atau kebijakan likuiditas yang ketat, akan berdampak negatif.

Efek dari perang dagang lebih bersifat sentimen dan mempengaruhi perilaku investor reksadana. Perang dagang yang berlarut-larut membuat investor merasa tidak nyaman sehingga memilih produk yang lebih aman seperti reksadana terproteksi, reksadana pasar uang, atau bahkan mengoleksi emas.

Hal itu tidaklah salah, harus diakui memang kinerja reksadana terutama yang berbasis saham kurang begitu baik dalam 2-3 tahun terakhir ini. Selain itu, investor juga bisa melakukan diversifikasi investasi ke beberapa jenis reksadana yang berbeda seperti reksadana pasar uang, reksadana campuran atau reksadana berbasis dolar AS.

Bagi investor dengan profil agresif (menyukasi risiko) yang senang dengan reksadana saham, selain tindakan trading secara aktif, bisa mempertimbangkan juga untuk berinvestasi jangka panjang dan memberikan kesempatan kepada manajer investasi.

Sebab pada hakikatnya investasi reksadana saham adalah investor mempercayakan dana dan manajer investasi yang melakukan pengelolaan secara aktif untuk mendapatkan hasil optimal dalam jangka panjang.

Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.