Apa Itu Standar Deviasi dan Korelasinya dengan Kinerja Reksadana?

Bareksa • 03 Jul 2019

an image
Ilustrasi investor wanita muda cantik sedang menulis dengan pulpen sambil memegang handphone smartphone ponsel gadget tersenyum tertawa gembira senang happy bahagia mendapat keuntungan dari hasil investasi reksadana saham obligasi sukuk surat utang surat berharga negara pemerintah korporasi

Semakin besar standar deviasi, maka semakin besar pula risiko dari reksadana

Bareksa.com - Dalam suatu investasi, seseorang tentu akan melihat berapa besar risiko yang akan dia tanggung, selain keuntungan yang diperoleh dari instrumen investasi tersebut.

Dalam melakukan investasi perlu diukur resiko nya. Resiko selalu melekat pada return investasi. Resiko dan return bersifat searah. Semakin besar resiko suatu investasi semakin besar returnnya. Semakin kecil resiko suatu investasi semakin kecil returnnya. Para investor selalu menghitung resiko investasinya dengan standar deviasi.

Risiko dari reksadana, biasanya dilihat dari standar deviasi. Standar deviasi mencerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Total risiko yang dimaksud mencakup risiko sistematis (risiko pasar) maupun risiko yang berasal dari portofolio itu sendiri. Semakin besar standar deviasi, maka semakin besar pula risiko dari reksadana tersebut.

Sementara standar deviasi mencerminkan total risiko dari suatu portofolio investasi. Total risiko yang dimaksud mencakup risiko sistematis (risiko pasar) maupun risiko yang berasal dari portofolio itu sendiri. Semakin besar standar deviasi, maka semakin besar pula risiko dari reksadana tersebut.

Perbandingan Standar Deviasi di Setiap Jenis Reksadana

Reksadana Pasar Uang

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Saham

Sumber : Bareksa.com

Misalnya reksadana pasar uang A memiliki nilai standar deviasi 0,0002. Namun, return yang di dapat hanya 6,73 persen dalam 1 tahun. Jika risiko naik sedikit, seperti reksadana pendapatan tetap A dengan nilai standar deviasi 0,0029, maka returnnya juga meningkat menjadi 7,49 persen.

Begitupun dengan reksadana saham A dengan standar deviasi 0,0092, maka return yang didapat dalam 1 tahun juga naik menjadi 12,8 persen.

Maka sudah dapat dipastikan jika semakin besar resiko suatu investasi semakin besar returnnya. Seperti diketahui, tingginya risiko reksadana juga bergantung dari jenis reksadana. Reksadana saham memiliki risiko tertinggi karena alokasi mayoritas asetnya dialokasikan pada instrumen saham yang pergerakannya sangat fluktuatif.

Reksadana pendapatan tetap memiliki tingkat risiko di bawah reksadana saham karena memiliki instrumen obligasi dalam portofolionya.

Risiko lebih rendah dibanding reksadana pendapatan tetap dimiliki oleh reksadana pasar uang. Hal tersebut dikarenakan reksadana ini karena mayoritas asetnya dialokasikan pada deposito dan instrumen pasar uang lainnya yang bergerak relatif stabil.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.