Mengenal Rasio Sharpe, Treynor dan Jensen dalam Mengukur Kinerja Reksadana

Bareksa • 12 Jun 2019

an image
Ilustrasi investasi reksadana saham obligasi surat utang untuk menyiapkan dana pensiun hari tua

Merupakan pengukuran yang membandingkan return dengan risiko dari suatu portofolio reksadana

Bareksa,com - Sebelum melakukan investasi dalam sebuah instrumen investasi reksadana, sebaiknya seorang calon investor melihat kondisi pasar dan evaluasi terhadap kinerja reksadana terlebih dulu. Hal ini dilakukan agar investor dapat menemukan reksadana yang paling cocok dan sesuai dengan kondisi pasar.

Sebagai contoh ketika kondisi pasar sedang semarak atau bullish market, maka urutan untuk memilih reksadana dimulai dari reksadana saham, reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, dan terakhir reksadana pasar uang.

Sebaliknya jika pasar sedang lesu atau bearish market, maka urutan pilihan reksadana dimulai dari reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan terakhir reksadana saham.

Setelah memilih jenis reksadana yang cocok, langkah selanjutnya bagi seorang investor adalah memilih produk reksadana yang memiliki kinerja terbaik. Dalam mengevaluasi kinerja produk reksadana berdasarkan kinerja portofolio aset dalam menghasilkan imbal hasil dan risiko (risk adjusted return), terdapat 3 model yang dapat digunakan yaitu Sharpe Ratio, Treynor Ratio, dan Jensen Ratio.

Berikut ulasan mengenai model pengukuran kinerja tersebut.

1. Sharpe Ratio

Rasio ini merupakan perbandingan antara excess return yang dihasilkan dibandingkan dengan total risiko portofolio reksadana.

Excess return yang dimaksud adalah selisih antara return portofolio dikurangi dengan return bebas risiko. Sementara total risiko dalam rasio ini tercermin dalam nilai Standar Deviasi (SD) yang meliputi risiko sistematis maupun risiko dari portofolio aset reksa dana itu sendiri.

Semakin tinggi nilai sharpe ratio menunjukan semakin baik kinerja dari suatu reksadana. Berikut contoh sejumlah reksadana saham yang memiliki nilai sharpe ratio tertinggi.


Sumber: Bareksa

2. Treynor Ratio

Tidak jauh berbeda dengan sharpe ratio, Rasio Treynor juga merupakan perbandingan antara excess return dibandingkan dengan risiko dari reksa dana.

Namun yang membedakan, risiko yang dibandingkan hanya dari risiko sistematis (risiko pasar) saja yang tercermin dari nilai beta. Nilai rasio Treynor yang semakin tinggi juga menggambarkan kinerja dari suatu reksa dana semakin baik.

3. Jensen

Pengukuran Jensen memperhitungkan excess return yang diperoleh sebuah portofolio melebihi hasil yang diharapkan. Pengukuran ini juga dikenal sebagai alpha. Rasio Jensen mengukur seberapa banyak tingkat hasil portofolio pada kemampuan manajer untuk mendapatkan hasil di atas rata-rata.

Sebuah portofolio dengan kelebihan hasil yang positif akan mempunyai alpha yang positif, sedangkan portofolio yang secara konsisten memberikan kelebihan hasil yang negatif akan mempunyai alpha yang negatif. Semakin tinggi nilai Jensen, maka kinerja dari suatu reksadana menunjukan semakin baik.

Dalam menentukan produk reksadana, model rasio yang digunakan dapat dipilih salah satu dari ketiga model evaluasi, kemudian membandingkan produk reksadana yang satu dengan reksadana lainnya yang masih berada dalam satu jenis.

Memilih reksadana dengan melihat nilai rasio di atas merupakan pengukuran yang membandingkan return dengan risiko dari suatu portofolio reksadana.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh investor saat mengevaluasi kinerja reksadana adalah kewajaran dari isi portofolio, seperti besar kecilnya dana kelolaan, layanan dan transformasi informasi yang tidak secara langsung tercermin dari pergerakan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.