
Bareksa.com – Sepanjang tahun 2018, kondisi pasar saham dan obligasi terpantau melemah, sehingga memberi tekanan bagi investasi reksadana, terutama yang memiliki saham dan obligasi dalam portofolionya. Meski demikian, investor untuk jangka menengah dan panjang tidak perlu khawatir karena masih ada produk reksadana yang justru berkinerja cemerlang dalam kondisi ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hingga 6 persen secara year-to-date (per 28 September 2018). Hal ini disebabkan penurunan beberapa saham berkapitalisasi besar. Penurunan kinerja reksadana saham dan campuran yang memiliki saham dalam portofolionya pun tak terhindarkan.
Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bergerak dari 6,54 persen pada awal Maret dan saat ini berada di level 8,21 persen. Peningkatan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi sehingga kondisi ini mengindikasikan pasar obligasi sedang lesu.
Kondisi IHSG dan pasar obligasi memberi pengaruh pada kinerja reksadana campuran, yang memiliki saham dan obligasi dalam portofolionya.
Secara year-to-date (per 28 September 2018), rata-rata reksadana campuran, baik itu konvensional maupun syariah yang tergambarkan melalui indeks reksadana campuran dan indeks reksadana campuran syariah pun mencatatkan performa negatif 4,39 persen dan negatif 6,68 persen.
Meski begitu, reksadana campuran mempunyai risiko lebih rendah, dibandingkan reksadana saham karena ada obligasi di dalam racikan portofolio. Sehingga bagi kamu dengan profil risiko menengah hingga tinggi tetapi ingin membatasi risiko, reksadana campuran cocok bagi kamu.
Lantas reksadana campuran apa yang bisa jadi pilihan?
Return Archipelago Balance Fund dan Benchmark YtD 2018 (per 28 September)
Sumber: Bareksa
Pada saat pasar saham dan obligasi sedang tertekan, masih ada reksadana campuran yang membukukan kinerja positif, yakni reksadana Archipelago Balance Fund. Reksadana yang diluncurkan sejak 11 Januari 2013 ini dikelola oleh PT Shinhan Asset Management Indonesia .
Secara year to date, kinerja reksadana Archipelago Balance Fund terbilang sangat baik, tumbuh 24,76 persen per 28 September 2018 dan menjadi reksadana campuran dengan return terbaik di marketplace Bareksa.
Portofolio Investasi Archipelago Balance Fund :
1. Saham PT Elnusa Tbk (ELSA).
2. Saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST).
3. Saham PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma (CARS).
4. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
5. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Top 10 Reksadana Campuran Return Tertinggi YtD 2018 (Per 28 September)
Sumber: Bareksa.com
Sebagai informasi, hingga akhir September 2018, total dana kelolaan (AUM) Archipelago Balance Fund mencapai Rp53,5 miliar.
Return Archipelago Balance Fund dan Indeks Reksadana Campuran YtD 2018 (Per 28 September)
Sumber: Bareksa.com
Melihat keunggulan-keunggulan tersebut, Archipelago Balance Fund yang diluncurkan pada tanggal 11 Januari 2013 bisa menjadi salah satu pilihan bagi investor dengan tujuan jangka waktu investasi yang panjang.
Sebagai informasi, reksadana campuran cocok untuk investasi jangka menengah (1 hingga 3 tahun). Reksadana ini memiliki tingkat risiko di atas reksadana pendapatan tetap dan berada di kisaran konservatif hingga menengah, tergantung dari strategi investasi reksadana tersebut.
Tertarik dengan produk ini? Kamu bisa membeli di Bareksa dengan pembelian investasi awal minimal Rp100.000 pada tautan berikut ini.
Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.
Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.
Simak ulasan tips untuk memaksimalkan keuntungan berinvestasi di reksadana : Tips Menabung di Reksadana Agar Tujuan Investasi Dapat Tercapai
(AM)
DISCLAIMER
*Kinerja setahun dihitung berdasarkan data per 28 September 2018
Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.